Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Selasa, 06 Desember 2011

(artikel) CURHAT MELALUI CERPEN DENGAN KEMAMPUAN MENULIS


Curahan hati atau yang biasa disingkat dengan curhat tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita apalagi kalangan remaja yang akrab dengan bahasa-bahasa gaul atau istilah seperti itu. Curhat merupakan kata kerja dari kegiatan orang yang  mencoba mengeluarkan uneg-uneg atau masalah yang ia pikirkan.
            Cara untuk curhat ini pun beragam, ada yang bercerita langsung dengan orang yang dipercaya seperti kepada sahabat, ibu atau saudara (karena menganggap curhatnya ini masalah pribadi yang sangat rahasia). Juga bercerita dengan memanfaatkan berbagai media yang tersedia seperti di radio pada program khusus curhat. Bahkan sekarang acara televisi pun ada yang menayangkan reality show tentang curhat melalui hipnotis. Orang-orang yang bisa mengungkapkan masalahnya secara terbuka ini biasanya karena mereka ingin berbagi bersama orang lain mengenai pengalamannya atau juga karena mereka ingin meminta bantuan orang lain untuk memecahkan masalahnya tersebut.
            Selain dengan cara bercerita langsung seperti di atas, curhat juga bisa melalui tulisan. Media ini dipilih oleh orang-orang yang mungkin merasa berat untuk menceritakannya secara langsung atau terbuka. Curhat melalui tulisan sudah kita jumpai sejak zaman dahulu kala. Dari yang paling sederhana dengan menuliskan di buku harian sampai yang sangat modern dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat pada masa sekarang ini seperti curhat di grup-grup yang tersedia pada jejaring sosial, atau pada blog pribadi. Biasanya curhat-curhat dengan media seperti itu hanya berisi catatan-catatan kecil atau cerita-cerita singkat tanpa alur atau kronologis cerita yang jelas.
            Kita tidak bisa memungkiri bahwa dari catatan-cataatan kecil seperti itu dapat mengasah kemampuan kita dalam menulis. Menulis yang dimaksud di sini adalah menulis karya-karya fiksi berupa novel atau cerpen  yang merupakan bagian dari karya sastra. Karena sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (M. Atar Semi 1988: 8). Dari pengertian tersebut tentunya kita mendapat gambaran yang jelas bahwa curhat-curhat yang pernah kita dengar atau kita alami dapat dikembangkan menjadi sebuah novel atau cerpen.
            Banyak novel atau cerpen yang kita baca terinspirasi dari kisah-kisah nyata, baik itu dari pengalaman langsung penulis maupun pengalaman orang lain. Bahkan ada orang yang menuliskan curhatnya kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerpen atau novel. Seperti yang kita tahu, curhat biasanya cerita-cerita mengenai perasaan si penutur terhadap orang lain. Sehingga cerita-cerita dari curhat ini lebih tepat dituangkan ke dalam bentuk cerpen. Karena cerpen atau cerita pendek menurut Satyagraha hoerip (1979) adalah karekter yang “dijabarkan” lewat rentetan kejadian daripada kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu. Apa yang “terjadi” di dalamnya lazim merupakan suatu pengalaman atau penjelajahaan. Dan reaksi mental itulah yang pada hakikatnya disebut cerpen. Di dalam sebuah cerpen unsur perwatakan lebih dominan daripada unsur cerita itu sendiri (M. Atar Semi 1988: 34).
            Apabila kita berminat, kita juga bisa mengembangkan curhat-curhat kita menjadi sebuah cerpen. Dengan sedikit menambah bumbu-bumbu pada bagian ceritanya, kita pasti akan mendapatkan sebuah cerita yang memuaskan. Apalagi cerpen yang berasal dari pengalaman pribadi tentu akan lebih berkesan dan lebih hidup dibanding dengan cerpen yang hanya berupa khayalan penulisnya semata.
            Kemampuan menulis bukanlah semata-mata milik golongan berbakat menulis. Siapa saja dapat menulis apalagi kalau hanya menulis cerpen. Tentunya kemampuan ini di dapat dengan latihan yang terus-menerus dan dimulai dari hal yang paling sederhana.
            Bagi yang ingin mencoba menuliskan curhatnya menjadi sebuah cerpen, adapun tahap-tahap yang harus dilalui dalam menulis cerpen. Tahap-tahap tersebut terbagi menjadi lima tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pengendapan, tahap pembulatan inspirasi, tahap penulisan, dan yang terakhir tahap revisi.
            Pada tahap persiapan kita harus menetapkan pokok pikiran yang akan diungkapkan atau pokok perasaan yang akan diekspresikan. Bagi kita yang ingin menulis cerpen berdasarkaan curhat atau pengalaman yang pernah dialami sendiri atau dialami oleh orang lain tentu akan lebih mudah dalam menentukan pokok pikiran atau hal apa yang akan ditulis.
             Berdasarkan pokok pikiran dan pokok perasaan yang dirasakan, kita dapat langsung memilih genre / jenis cerpen yang paling sesuai sebagai sarana pengungkap atau pengekspresian. Sebaiknya didasarkan pada kemampuan paling dominan yang kita miliki (paling disukai atau paling dikuasai secara teknis).
Pada tahap pengendapan (inkubasi), kita harus mengerahkan segenap potensi kreatif  yang dimiliki agar dapat dengan mudah mengungkapkan pikiran dan mengekspresikan perasaan itu secara tertulis. Agar kita dapat mengungkapkan pokok pikiran dan pokok perasaan dengan mudah tentunya kita harus menambah wawasan seperti dengan cara membaca sebanyak mungkin bahan-bahan tertulis yang isinya berhubungan langsung dengan apa yang ingin diungkapkan atau diekspresikan secara tertulis. Selain itu kita juga harus melakukan pengamatan yang lebih intensif atas segala sesuatu yang berhubungan erat dengan  pokok pikiran atau pokok perasaan yang akan dituliskan dalam bentuk cerpen.
            Tahap selanjutnya adalah tahan pembulatan inspirasi. Pada tahap ini, pikiran yang akan diungkapkan dan perasaan yang akan diekspresikan sudah mulai memasuki proses pengkristalan di wilayah bawah sadar, sudah mulai terbentuk secara imajinatif, dan sudah siap untuk dituangkaan secara tertulis dalam bentuk cerpen yang masih kasar.
            Kemudian adalah tahap penulisan. Pada tahap penulisan ini kita yang ingin menulis cerpen hanya akan menulis segala sesuatu yang selama ini dipikirkan dan dirasakan pada tahap-tahap pengendapan dan pembulatan inspirasi. Semuanya dituangkan secara tertulis tanpa kontrol diri sama sekali, spontan, penuh gairah, tanpa pertimbangan rasio, tanpa penilaian tepat tidaknya, tanpa penilaian baik buruk, tanpa nalar dan tanpa-tanpa lainnya. Tidak ada kegiatan lain yang dilakukan pada tahap ini kecuali menulis, menulis, dan menulis.
Setelah selesai ditulis, draf naskah yang masih kasar kita biarkan saja selama beberapa hari tanpa disentuh atau dibaca sama sekali. Selain bertujuan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan yang sudah lelah bekerja untuk menyelesaikan tahap 1, 2, dan 3. Penyimpanan draf naskah kasar tersebut juga dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan hubungan emosional yang sudah begitu dekat antara kita dengan draf naskah cerpen yang masih kasar itu.
Tahapan yang terakhir yaitu tahap revisi. Tahap revisi dilakukan setelah hubungan emosional pada saat penulisan dengan draf naskah kasar cerpen terputus sekian lama. Perevisian dilakukan agar cerpen yang ditulis benar-benar bisa menjadi cerpen yang baik sesuai dengan keinginan kita selaku penulis.  Hal-hal yang terjadi pada tahap revisi ini biasanya adalah membuang kosa-kata yang dinalar tak perlu, dan menambahkan segalaa sesuatu yang dianggap perlu, pemindahan kosa kata, pemotongan, penambahan, penyulaman, dan penjahitan ulang yang dirasa perlu sesuai dengan pertimbangan rasio, nalar, etika, estetika, dan lain-lain. Demi pertimbangan semuanya itu, jika dirasa perlu maka bukan hal yang mustahil kita terpaksa akan melakukan penulisan ulang terhadaap cerpen tersebut dari awal.
 Setelah memahami tahapan-tahapan tersebut kita tentu akan lebih mudah dalam menulis cerpen. Walaupun dalam menulis cerpen terdapat beberapa tahapan yang tersusun rapi, akan tetapi dalam prakteknya tahapan-tahapan tersebut tidak dapat disahkan secara jelas, melainkan sering bertumpang tindih. Pada saat kita membuat persiapan, mungkin kita sudah mulai menulis, sedangkan pada saat menulis mungkin juga sambil melakukan revisi di sana-sini.
Mungkin dalam memulai cerpen, para pemula yang ingin mencobanya tentu menemui berbagai macam kendala. Kendala-kendala tersebut biasanya terletak pada pendeskripsian baik itu tokoh, latar, maupun alur. Pendeskripsian yang baik akan membuat cerita lebih nyata dan pesan yang ingin diungkapkan akan lebih sampai kepada pembaca. Karena melalui deskripsi berarti kita mengajak pembaca ikut merasakan apa yang kita rasakan, ikut melihat apa yang kita lihat, dan ikut mengalami apa yang kita alami.
 Untuk sedikit membantu dalam pendeskripsian itu kita tentunya harus terlebih dahulu mengenali apa yang akan kita deskripsikan tersebut berdasarkan ciri-ciri yang dimiliknya. Pendeskripsian harus dituturkan secara berurutan, tidak meloncat kesana kemari. Hal ini tentunya bertujuan agar penggambaran tersebut bisa ditangkap dengan jelas oleh pembaca. Adapun yang dideskripsikan dalam cerpen biasanya adalah mengenai tokoh, latar atau setting, serta alur cerita atau kejadian.
Cerpen sudah pasti terdiri dari sejumlah peristiwa atau kejadian yang dialami oleh para tokoh cerita yang beraksi atau bereaksi. Sebelum mendeskripsikan tokoh tersebut sebaiknya kita terlebih dahulu mengetahui penggolongan-penggolongan tokoh yang dibedakan menjadi tiga.
Yang pertama berdasarkan peranannya, terdiri dari : tokoh utama, tokoh pembantu, daan tokoh tambahan (Mido 1994: 36). Kemudian berdasarkan perwatakannya, terdiri dari (1) tokoh statis (tokoh yang wataknya tidak berkembang, pada umumnya berstatus sebagai tokoh pembantu), (2) tokoh dinamis (tokoh cerita yang wataknya berubah-ubah, berkembang dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dan dari situasi yang satu ke situasi yang lain), (3) tokoh datar (tokoh yang wataknya ditampilkan secara terbatas. Tidak semua wataknya digambarkan, hanya watak yang diperlukan saja yang digambarkan), dan (4) tokoh bulat (tokoh yang digambarkan secara lengkap, unik, kompleks, berubah-ubah dalam arti berkembang dan meliputi segala aspek kehidupannya (mido 1994: 38-39). Dan yang terakhir berdasarkan fungsi penampilannya, terdiri dari : tokoh protagonis atau tokoh yang dikagumi, seorang pahlawan (hero), tokoh dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ideal. Serta tokoh antagonis yaitu tokoh yang menjadi lawan tokoh protagonis, tokoh yang menjadi penyebab terjadinya konflik dalam sebuah karya sastra (Nurgiyantoro, 2000: 178-179).
Menurut Sudjiman (1992: 22-26), ada tiga cara yang bisa dipilih untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita, yaitu (1) metode diskursif, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menceritakan tokoh cerita melalui paparan langsung (eksplisit), atau melalui komentar langsung pengarang. (2) metode dramatik, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menciptakan tokoh cerita melalui paparan tidak langsung (implisit) atau melalui komentar tidak langsung pengarangnya. (3) metode kontekstual, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menciptakan tokoh cerita melalui pemakaian gaya bahasa yang dipilih pengarang dalam memaparkan pikiran, perasaan, cakapan, dan lakuan tokoh cerita.
Penggambaran mengenai tokoh-tokoh tersebut biasanya berdasarkan dimensi fisiologis (penggambaran ciri-ciri fisik tokoh cerita meliputi ciri-ciri umum dan ciri-ciri khusus), dimensi sosiologis (penggambaran ciri-ciri sosial tokoh cerita), serta dimensi psikologis (penggambaran ciri-ciri psikologis tokoh cerita).
Berikutnya adalah mengenai pendeskripsian latar. Latar dalam sebuah cerpen terdiri dari : latar waktu, latar tempat, dan latar suasana (latar situasi). Latar waktu terdiri dari : (1) masa kini, (2) masa lalu, (3) masa depan, dan (4) masa tak tentu. Latar tempat terdiri dari : (1) tempat yang dikenal, (2) tempat tak dikenal, dan (3) tempat khayalan. Latar suasana terdiri dari : (1) suasana alamiah, (2) suasana sosial budaya, dan (3) suasana batiniah.
Khusus untuk latar tempat, ada 7 unsur fisik yang sering digambarkandi dalam cerpen, yakni, sejarah asal-usul tempat, akses jalan yang tersedia dan sarana transportasi yang dapat digunakan untuk masuk dan keluar dari tempat itu, keadaan atau lingkungan yang dominan, komposisi penduduk berdasarkan sistem mata pencaharian mereka, pola pemukiman penduduk, fasilitas umum yang tersedia, dan fasilitas khusus yang tersedia.
Yang terakhir adalah pendeskripsian urutan peristiwa cerita. Sebuah cerpen sudah pasti terdiri dari sejumlah peristiwa yang dialami oleh para tokoh cerita. Jelasnya, tanpa tokoh mustahil ada cerita tak ada pula karya sastra. Urutan peristiwa cerita yang sambung menyambung dalam sebuah cerpen lazim disebut alur cerita. Urutan penting dalam alur cerita adalah hukum sebab-akibat. Jalinan cerita yang tidak menimbulkan hubungan sebab-akibat tidak bisa dinamakan alur cerita.
Alur ceita rekaan (termasuk di dalamnya : cerpen) terdiri dari lima bagian, yakni : (1) beberapa mula (introduksi atau eksposisi), (2) penggawatan (komplikasi), (3) puncak kegawatan (klimaks), (4) peleraian (antiklimaks), dan (5) penyelesaian (konklusi akhir).
Setelah memahami beberapaa penjelasan di atas mengenai penulisan cerpen, tentunya diharaapkan kita akan semakin mudah dalam membentuk curhat-curhat yang ingin diungkapkan ke dalam bentuk sebuah cerpen.

Tidak ada komentar: