Curahan
hati atau yang biasa disingkat dengan curhat tentu sudah tidak asing lagi di
telinga kita apalagi kalangan remaja yang akrab dengan bahasa-bahasa gaul atau
istilah seperti itu. Curhat merupakan kata kerja dari kegiatan orang yang mencoba mengeluarkan uneg-uneg atau masalah
yang ia pikirkan.
Cara untuk curhat ini pun beragam,
ada yang bercerita langsung dengan orang yang dipercaya seperti kepada sahabat,
ibu atau saudara (karena menganggap curhatnya ini masalah pribadi yang sangat
rahasia). Juga bercerita dengan memanfaatkan berbagai media yang tersedia seperti
di radio pada program khusus curhat. Bahkan sekarang acara televisi pun ada
yang menayangkan reality show tentang curhat melalui hipnotis. Orang-orang yang
bisa mengungkapkan masalahnya secara terbuka ini biasanya karena mereka ingin
berbagi bersama orang lain mengenai pengalamannya atau juga karena mereka ingin
meminta bantuan orang lain untuk memecahkan masalahnya tersebut.
Selain dengan cara bercerita langsung
seperti di atas, curhat juga bisa melalui tulisan. Media ini dipilih oleh
orang-orang yang mungkin merasa berat untuk menceritakannya secara langsung
atau terbuka. Curhat melalui tulisan sudah kita jumpai sejak zaman dahulu kala.
Dari yang paling sederhana dengan menuliskan di buku harian sampai yang sangat
modern dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat pada masa sekarang
ini seperti curhat di grup-grup yang tersedia pada jejaring sosial, atau pada
blog pribadi. Biasanya curhat-curhat dengan media seperti itu hanya berisi
catatan-catatan kecil atau cerita-cerita singkat tanpa alur atau kronologis
cerita yang jelas.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa
dari catatan-cataatan kecil seperti itu dapat mengasah kemampuan kita dalam menulis.
Menulis yang dimaksud di sini adalah menulis karya-karya fiksi berupa novel
atau cerpen yang merupakan bagian dari
karya sastra. Karena sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni
kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa
sebagai mediumnya (M. Atar Semi 1988: 8). Dari pengertian tersebut tentunya
kita mendapat gambaran yang jelas bahwa curhat-curhat yang pernah kita dengar
atau kita alami dapat dikembangkan menjadi sebuah novel atau cerpen.
Banyak novel atau cerpen yang kita baca
terinspirasi dari kisah-kisah nyata, baik itu dari pengalaman langsung penulis
maupun pengalaman orang lain. Bahkan ada orang yang menuliskan curhatnya
kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerpen atau novel. Seperti yang kita tahu,
curhat biasanya cerita-cerita mengenai perasaan si penutur terhadap orang lain.
Sehingga cerita-cerita dari curhat ini lebih tepat dituangkan ke dalam bentuk
cerpen. Karena cerpen atau cerita pendek menurut Satyagraha hoerip (1979)
adalah karekter yang “dijabarkan” lewat rentetan kejadian daripada
kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu. Apa yang “terjadi” di dalamnya
lazim merupakan suatu pengalaman atau penjelajahaan. Dan reaksi mental itulah
yang pada hakikatnya disebut cerpen. Di dalam sebuah cerpen unsur perwatakan
lebih dominan daripada unsur cerita itu sendiri (M. Atar Semi 1988: 34).
Apabila kita berminat, kita juga
bisa mengembangkan curhat-curhat kita menjadi sebuah cerpen. Dengan sedikit
menambah bumbu-bumbu pada bagian ceritanya, kita pasti akan mendapatkan sebuah
cerita yang memuaskan. Apalagi cerpen yang berasal dari pengalaman pribadi
tentu akan lebih berkesan dan lebih hidup dibanding dengan cerpen yang hanya
berupa khayalan penulisnya semata.
Kemampuan menulis bukanlah
semata-mata milik golongan berbakat menulis. Siapa saja dapat menulis apalagi
kalau hanya menulis cerpen. Tentunya kemampuan ini di dapat dengan latihan yang
terus-menerus dan dimulai dari hal yang paling sederhana.
Bagi yang ingin mencoba menuliskan
curhatnya menjadi sebuah cerpen, adapun tahap-tahap yang harus dilalui dalam
menulis cerpen. Tahap-tahap tersebut terbagi menjadi lima tahapan yaitu tahap
persiapan, tahap pengendapan, tahap pembulatan inspirasi, tahap penulisan, dan
yang terakhir tahap revisi.
Pada tahap persiapan kita harus menetapkan
pokok pikiran yang akan diungkapkan atau pokok perasaan yang akan
diekspresikan. Bagi kita yang ingin menulis cerpen berdasarkaan curhat atau
pengalaman yang pernah dialami sendiri atau dialami oleh orang lain tentu akan
lebih mudah dalam menentukan pokok pikiran atau hal apa yang akan ditulis.
Berdasarkan pokok pikiran dan pokok perasaan
yang dirasakan, kita dapat langsung memilih genre / jenis cerpen yang paling
sesuai sebagai sarana pengungkap atau pengekspresian. Sebaiknya didasarkan pada
kemampuan paling dominan yang kita miliki (paling disukai atau paling dikuasai
secara teknis).
Pada tahap pengendapan (inkubasi), kita harus
mengerahkan segenap potensi kreatif yang
dimiliki agar dapat dengan mudah mengungkapkan pikiran dan mengekspresikan
perasaan itu secara tertulis. Agar kita dapat mengungkapkan pokok pikiran dan
pokok perasaan dengan mudah tentunya kita harus menambah wawasan seperti dengan
cara membaca sebanyak mungkin bahan-bahan tertulis yang isinya berhubungan
langsung dengan apa yang ingin diungkapkan atau diekspresikan secara tertulis.
Selain itu kita juga harus melakukan pengamatan yang lebih intensif atas segala
sesuatu yang berhubungan erat dengan
pokok pikiran atau pokok perasaan yang akan dituliskan dalam bentuk
cerpen.
Tahap selanjutnya adalah tahan
pembulatan inspirasi. Pada tahap ini, pikiran yang akan diungkapkan dan
perasaan yang akan diekspresikan sudah mulai memasuki proses pengkristalan di
wilayah bawah sadar, sudah mulai terbentuk secara imajinatif, dan sudah siap
untuk dituangkaan secara tertulis dalam bentuk cerpen yang masih kasar.
Kemudian adalah tahap penulisan.
Pada tahap penulisan ini kita yang ingin menulis cerpen hanya akan menulis
segala sesuatu yang selama ini dipikirkan dan dirasakan pada tahap-tahap
pengendapan dan pembulatan inspirasi. Semuanya dituangkan secara tertulis tanpa
kontrol diri sama sekali, spontan, penuh gairah, tanpa pertimbangan rasio,
tanpa penilaian tepat tidaknya, tanpa penilaian baik buruk, tanpa nalar dan
tanpa-tanpa lainnya. Tidak ada kegiatan lain yang dilakukan pada tahap ini
kecuali menulis, menulis, dan menulis.
Setelah selesai ditulis, draf naskah yang masih
kasar kita biarkan saja selama beberapa hari tanpa disentuh atau dibaca sama
sekali. Selain bertujuan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan yang sudah
lelah bekerja untuk menyelesaikan tahap 1, 2, dan 3. Penyimpanan draf naskah
kasar tersebut juga dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan hubungan emosional
yang sudah begitu dekat antara kita dengan draf naskah cerpen yang masih kasar
itu.
Tahapan yang terakhir yaitu tahap revisi. Tahap
revisi dilakukan setelah hubungan emosional pada saat penulisan dengan draf
naskah kasar cerpen terputus sekian lama. Perevisian dilakukan agar cerpen yang
ditulis benar-benar bisa menjadi cerpen yang baik sesuai dengan keinginan kita
selaku penulis. Hal-hal yang terjadi pada
tahap revisi ini biasanya adalah membuang kosa-kata yang dinalar tak perlu, dan
menambahkan segalaa sesuatu yang dianggap perlu, pemindahan kosa kata,
pemotongan, penambahan, penyulaman, dan penjahitan ulang yang dirasa perlu
sesuai dengan pertimbangan rasio, nalar, etika, estetika, dan lain-lain. Demi
pertimbangan semuanya itu, jika dirasa perlu maka bukan hal yang mustahil kita
terpaksa akan melakukan penulisan ulang terhadaap cerpen tersebut dari awal.
Setelah
memahami tahapan-tahapan tersebut kita tentu akan lebih mudah dalam menulis
cerpen. Walaupun dalam menulis cerpen terdapat beberapa tahapan yang tersusun
rapi, akan tetapi dalam prakteknya tahapan-tahapan tersebut tidak dapat
disahkan secara jelas, melainkan sering bertumpang tindih. Pada saat kita
membuat persiapan, mungkin kita sudah mulai menulis, sedangkan pada saat
menulis mungkin juga sambil melakukan revisi di sana-sini.
Mungkin dalam memulai cerpen, para pemula yang
ingin mencobanya tentu menemui berbagai macam kendala. Kendala-kendala tersebut
biasanya terletak pada pendeskripsian baik itu tokoh, latar, maupun alur.
Pendeskripsian yang baik akan membuat cerita lebih nyata dan pesan yang ingin
diungkapkan akan lebih sampai kepada pembaca. Karena melalui deskripsi berarti
kita mengajak pembaca ikut merasakan apa yang kita rasakan, ikut melihat apa
yang kita lihat, dan ikut mengalami apa yang kita alami.
Untuk
sedikit membantu dalam pendeskripsian itu kita tentunya harus terlebih dahulu
mengenali apa yang akan kita deskripsikan tersebut berdasarkan ciri-ciri yang
dimiliknya. Pendeskripsian harus dituturkan secara berurutan, tidak meloncat
kesana kemari. Hal ini tentunya bertujuan agar penggambaran tersebut bisa
ditangkap dengan jelas oleh pembaca. Adapun yang dideskripsikan dalam cerpen
biasanya adalah mengenai tokoh, latar atau setting, serta alur cerita atau
kejadian.
Cerpen sudah pasti terdiri dari sejumlah
peristiwa atau kejadian yang dialami oleh para tokoh cerita yang beraksi atau
bereaksi. Sebelum mendeskripsikan tokoh tersebut sebaiknya kita terlebih dahulu
mengetahui penggolongan-penggolongan tokoh yang dibedakan menjadi tiga.
Yang pertama berdasarkan peranannya, terdiri
dari : tokoh utama, tokoh pembantu, daan tokoh tambahan (Mido 1994: 36).
Kemudian berdasarkan perwatakannya, terdiri dari (1) tokoh statis (tokoh yang
wataknya tidak berkembang, pada umumnya berstatus sebagai tokoh pembantu), (2)
tokoh dinamis (tokoh cerita yang wataknya berubah-ubah, berkembang dari waktu
ke waktu, dari tempat ke tempat, dan dari situasi yang satu ke situasi yang
lain), (3) tokoh datar (tokoh yang wataknya ditampilkan secara terbatas. Tidak
semua wataknya digambarkan, hanya watak yang diperlukan saja yang digambarkan),
dan (4) tokoh bulat (tokoh yang digambarkan secara lengkap, unik, kompleks,
berubah-ubah dalam arti berkembang dan meliputi segala aspek kehidupannya (mido
1994: 38-39). Dan yang terakhir berdasarkan fungsi penampilannya, terdiri dari
: tokoh protagonis atau tokoh yang dikagumi, seorang pahlawan (hero), tokoh
dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ideal. Serta tokoh antagonis yaitu
tokoh yang menjadi lawan tokoh protagonis, tokoh yang menjadi penyebab
terjadinya konflik dalam sebuah karya sastra (Nurgiyantoro, 2000: 178-179).
Menurut Sudjiman (1992: 22-26), ada tiga cara
yang bisa dipilih untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita, yaitu (1) metode
diskursif, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menceritakan tokoh
cerita melalui paparan langsung (eksplisit), atau melalui komentar langsung
pengarang. (2) metode dramatik, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak
atau menciptakan tokoh cerita melalui paparan tidak langsung (implisit) atau
melalui komentar tidak langsung pengarangnya. (3) metode kontekstual, yaitu
metode penokohan yang menyajikan watak atau menciptakan tokoh cerita melalui
pemakaian gaya bahasa yang dipilih pengarang dalam memaparkan pikiran,
perasaan, cakapan, dan lakuan tokoh cerita.
Penggambaran mengenai tokoh-tokoh tersebut
biasanya berdasarkan dimensi fisiologis (penggambaran ciri-ciri fisik tokoh
cerita meliputi ciri-ciri umum dan ciri-ciri khusus), dimensi sosiologis
(penggambaran ciri-ciri sosial tokoh cerita), serta dimensi psikologis
(penggambaran ciri-ciri psikologis tokoh cerita).
Berikutnya adalah mengenai pendeskripsian latar.
Latar dalam sebuah cerpen terdiri dari : latar waktu, latar tempat, dan latar
suasana (latar situasi). Latar waktu terdiri dari : (1) masa kini, (2) masa
lalu, (3) masa depan, dan (4) masa tak tentu. Latar tempat terdiri dari : (1)
tempat yang dikenal, (2) tempat tak dikenal, dan (3) tempat khayalan. Latar
suasana terdiri dari : (1) suasana alamiah, (2) suasana sosial budaya, dan (3)
suasana batiniah.
Khusus untuk latar tempat, ada 7 unsur fisik
yang sering digambarkandi dalam cerpen, yakni, sejarah asal-usul tempat, akses
jalan yang tersedia dan sarana transportasi yang dapat digunakan untuk masuk
dan keluar dari tempat itu, keadaan atau lingkungan yang dominan, komposisi
penduduk berdasarkan sistem mata pencaharian mereka, pola pemukiman penduduk,
fasilitas umum yang tersedia, dan fasilitas khusus yang tersedia.
Yang terakhir adalah pendeskripsian urutan
peristiwa cerita. Sebuah cerpen sudah pasti terdiri dari sejumlah peristiwa
yang dialami oleh para tokoh cerita. Jelasnya, tanpa tokoh mustahil ada cerita
tak ada pula karya sastra. Urutan peristiwa cerita yang sambung menyambung
dalam sebuah cerpen lazim disebut alur cerita. Urutan penting dalam alur cerita
adalah hukum sebab-akibat. Jalinan cerita yang tidak menimbulkan hubungan
sebab-akibat tidak bisa dinamakan alur cerita.
Alur ceita rekaan (termasuk di dalamnya :
cerpen) terdiri dari lima bagian, yakni : (1) beberapa mula (introduksi atau
eksposisi), (2) penggawatan (komplikasi), (3) puncak kegawatan (klimaks), (4)
peleraian (antiklimaks), dan (5) penyelesaian (konklusi akhir).
Setelah memahami beberapaa penjelasan di atas
mengenai penulisan cerpen, tentunya diharaapkan kita akan semakin mudah dalam
membentuk curhat-curhat yang ingin diungkapkan ke dalam bentuk sebuah cerpen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar