|
I’AM COME
BACK
Suara deru mesin sudah tidak terdengar lagi sejak beberapa
jam lalu, yang terdengar sekarang hanya suaranya yang samar-samar. Itu tandanya
Amsterdam sudah berada jauh d belakangku. Good bye Amsterdam, kataku senang
dalam hati. Aku melihat ke luar jendela. Entah di atas negeri mana sekarang
burung besi ini terbang. Dari atas sini semuanya tidak terlihat.
Setahun aku berada di Amsterdam. Tinggal bersama kakek &
nenek, jauh dari orang tua. Kalau boleh jujur, 1 tahun yang kulalui ini begitu
berat. Aku harus tinggal di negeri orang & menjadi orang lain. Tapi
sekarang aku sudah bebas, aku bisa kembali menjadi diriku yang dulu.
Satu hal yang tidak bisa aku mengerti. Kenapa sekolah
mengirimku untuk mengikuti program pertukaran pelajar ini & kenapa orang
tuaku mengijinkanku pergi. Jelas saja semua ini sangat mengganggu pikiranku. Bukankah
siswa yang mengikuti program pertukaran pelajar adalah siswa yang memiliki
prestasi terbaik di sekolahnya & mampu memberikan cerminan yang baik pula
untuk sekolah lain. Sedangkan aku? Kalau orang yang mengenalku, mereka akan
berpikir dua kali untuk menyerahkan tugas ini kepadaku. Modal yang kupunya
hanyalah nilai akademik yang lumayan bagus di atas rata-rata & kemampuanku
menguasai bahasa Belanda juga lumayan walaupun tidak jauh berbeda dengan siswa
yang lain. Memang sejauh itu tidak ada masalah. Tapi, bagaimana kalau orang itu
adalah si pembuat masalah & sangat bermasalah. Bermasalah dengan
segala-galanya.
Yupz... Dia itu aku, si miss
trouble maker. Satu tingkat di atas miss cuek. Julukan ini aku dapat
setelah aku melakukan tindakan paling nekat pertama yang pernah dilakukan semua
orang di sekolah. Aku menyiram dengan sengaja baju anak baru yang duduk
disebelahku di hari pertamanya masuk sekolah dengan sebotol tinta yang menjadi
penghuni setia tasku. Saat semua dewan guru rapat dengan pemilik yayasan, ayah
aku sendiri. Tapi jujur, aku senang melakukannya.
Ada yang setuju dan ada yang tidak dengan pemberian tugas
ini kepadaku. Tapi yang paling aku tahu, semua orang senang & bahagia
melihatku pergi. Tidak ada lagi miss trouble
maker. Itu artinya tidak ada lagi masalah. Yang pasti apabila aku tidak ada
maka suasana sekolah akan lebih tenang & tidak ada lagi raut-raut wajah
ketakukan. Hehehe...
Sekarang tinggal yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan
kelakuanku di Amsterdam? Apakah aku bisa menjaga sikapku? Dan apakah aku bisa
mencerminkan sopan santun orang timur yang terkenal sangat tinggi? Ternyata aku
punya rasa nasionalisme yang kuat terhadap negeriku. Selama di Amsterdam aku
harus benar-benar berubah. Aku harus menjadi orang yang sopan, ramah, baik
hati, suka menolong, senang bergaul serta rajin. Selama setahun ini aku
benar-benar menjadi siswi yang sempurna.
Tapi
itu semua bukan diriku, karena aku bukanlah orang yang seperti itu. Lebih
tragisnya lagi yang menyuruhku pergi adalah ayahku sendiri. Entah apa yang
terpikir olehnya saat itu. Mungkin lebih baik aku berada jauh dari semua yang
mengenalku dan aku bebas berbuat apa saja sesukaku. Karena apabila aku membuat
kesalahan maka aku akan di Drop Out dari sekolah. Dari pada aku berada di
sekolah dan pura-pura menjadi anak yang baik secara tiba-tiba selama murid dari
Amsterdam itu berada disekolahku.
Kupikir
itu adalah yang terbaik. Aku pergi dari negeriku, aku pergi meninggalkan semua
masalah. Masalah perceraian orang tuaku. Masalah pertengkaran setiap pagi
dengan ibu, dan semua masalahku dengan si Mr. Rese. Lagi pula aku juga sudah
sumpek dengan kehidupan jakarta yang penuh masalah. Tapi sekarang aku berada
dalam pesawat yang membawaku kembali ke kehidupanku sebenarnya.
Sebelum
mengepak barang-barangku kemarin, aku sempat membelikan beberapa oleh-oleh
untuk ayah, ibu, kak Rio, dan tak lupa untuk si Mr. Rese. Aneh, semenjak aku
tidak lagi menyandang gelar miss cuek yang kini berganti menjadi miss trouble maker, aku menjadi orang
yang sedikit peduli & perhatian dengan orang-orang disekitarku. Hm...
*****
Pesawat mendarat di Bandara. Untuk pertama kalinya, setelah
1 thn, akhirnya kumenginjakkan kakiku kembali di Jakarta, kuhirup udara Jakarta.
Tak kusangka aku sangat merindukan Jakarta.
Aku akan tersenyum dihadapan semua orang di sekolah. Senyum
kemenangan karena aku telah menjalankan tugasku dengan sempurna. Jadi, tidak
ada alasan bagi pihak sekolah untuk mengeluarkanku dari sekolah.
Aku berjalan memasuki Bandara. Siapa nanti yang akan
menjemputku, aku tidak tahu. Paling juga kak Rio, karena hanya dia yang kuberi
tahu kalau kepulanganku lebih cepat. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang
sepertinya cowok sedang membentangkan poster tinggi-tinggi yg berukuran kurang
lebih 50x50 cm, bertuliskan “welcome miss
Trouble Maker” dengan spidol warna-warni.
Karena penasaran apakah yang dimaksud itu aku, maka aku berjalan
mendekatinya. Aku berdiri dibelakangnya dan menarik-narik secara perlahan kaos
biru muda yang dikenakannya. Dia berbalik dan langsung berteriak sambil
memelukku.
"Rikaaaaa!!!
Gue kangen berat sama lo". Teriaknya.
Aku melepaskan diri dari pelukannya.
"iiih... Kenapa sih lo? Kok elo yang datang jemput gue.
Terus, ngapain juga lo bawa-bawa poster kayak gini? Norak tau". Kataku
kesal.
"kak Rio lagi ada kuliah, makanya gue yang datang. Kalo
soal poster ini, karena gue Mr. Rese, gue mau bikin penyambutan yang heboh buat
lo. Masa Mr. Rese bikin acara penyambutan biasa-biasa aja. Rusak dong reputasi
gue. Haghaghag...". Jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"heh... Bangga ya lo jadi Mr. Rese?" Tanyaku
heran.
"iya dong" Jawabnya dengan bangga.
Hm... Bener juga apa yang dia bilang.
Aku ambil poster itu dari tangannya & menggulungnya, setelah itu kupulkan
ke kepalanya.
"Au..." teriaknya sambil meringis. "kenapa lo
pukul gue?"
"karena elo Mr. Rese." Jawabku santai. "oh
ya, cewek-cewek lo mana? Kok sendirian?" Tanyaku.
"Demi elo, gue tinggalin semua cewek-cewek gue."
Katanya gombal.
Mendengar jawabannya itu, maka kupukul lagi dia dengan lebih
keras.
"Aaah!! Kenapa sih lo mukul gue lagi?" Tanyanya
kesal sambil menampakkan ekspresi bingungnya.
"Karena elo mr. Rese". Kataku lagi.
"Elo ini ya bener-bener miss trouble maker. Baru aja nyampe udah bikin masalah."
Katanya.
Dia Satria, teman sebangkuku waktu kelas X. Murid baru yang
bajunya aku siram dengan sebotol tinta. Sesuatu yang tidak pernah terpikir
olehku, dia menjadi sahabat terbaik sekaligus orang yang paling aku benci
karena dia mr. Rese. Hal yang membuat kami bisa saling mengerti satu sama lain
adalah karena kami sama-sama membenci sikap kedua orang tua kami yang lebih
memfokuskan perhatiannya ke urusan masing-masing ketimbang kami.
"Ka, apa yang pertama bakal lo lakuin disekolah?"
Tanya Satria tiba-tiba.
"Gue pengen membangkitkan kembali mimpi buruk 1 sekolah
yang sudah lama nggak ada". Kataku berapi-api & penuh semangat.
"KARENA MISS
TROUBLE MAKER SUDAH KEMBALI". Kata kami berbarengan sambil tertawa
lepas.
THE FIRST DAY
Sudah sejak tiga minggu lalu tahun
ajaran baru dimulai dan kegiatan sekolah berlangsung. Tapi aku baru masuk
sekolah pada hari ini karena aku harus menyelesaikan dulu laporan kegiatan
sekolahku selama di Amsterdam untuk diserahkan kepada pemilik yayasan sekolah
ini. Hanya aku satu-satunya murid yang mendapatkan tugas seberat ini sebagai
bahan pertimbangan apakah aku akan dikeluarkan atau tidak dari sekolah.
Terlalu banyak masalah yang aku buat
di sekolah dan aku dikenal sebagai Miss
Trouble Maker. Tetapi berat bagi pihak sekolah untuk mengeluarkanku karena
nilai akademik dan prestasi yang kudapat cukup membanggakan sekolah. Banyak
pihak yang ingin sekali mengeluarkanku dari sekolah tetapi pemilik yayasan
tidak ingin melakukannya. Maka dari itu beliau memberikan tugas ini kepadaku,
dan apabila aku gagal, aku akan dikeluarkan tanpa ada pertimbangan apapun.
Sebenarnya aku diperbolehkan tidak masuk sampai minggu depan untuk
menyelesaikan semuanya, tetapi ternyata aku dapat merampungkannya lebih awal.
Selain itu aku juga sudah kangen dengan sekolah ini.
Pukul 7 aku berangkat dari rumah karena
telat bangun pagi. Aku berjalan dengan santai menuju sekolah sambil membawa
setumpuk berkas laporan di tanganku yang kumasukkan ke dalam map. Penghuni
sekolah yang pertama kutemui adalah pak Mamat, satpam sekolahku. Ketika
melihatku beliau langsung membuka gerbang sekolah. Hal yang tidak biasa,
batinku. Mungkin dia pikir tidak ada gunanya membiarkanku tetap di luar, toh
aku juga tidak akan jera. Lagipula ini hari pertamaku masuk sekolah dan bertemu
dengannya setelah satu tahun.
Setelah melewati gapura sekolah, aku
melihat poster kecil yang menarik perhatianku di madding sekolah, di sana
tertulis “HATI-HATI…!! Miss Trouble Maker
Tahun Ini Kembali!!” Aku tersenyum geli membaca tulisan itu sambil membayangkan
wajah semua warga sekolah yang mengenalku ketika melihat Miss Trouble Maker kembali dengan sebuah kemenangan.
Aku berjalan di koridor yang sepi.
Suara langkah kakiku terdengar sangat jelas beradu dengan lantai sehingga
membuat siswa yang belajar di dalam kelas menoleh ke luar. Walaupun aku sudah
bermetamorfosis menjadi Miss Trouble
Maker tetapi sifat cuek masih melekat di tubuhku. Sehingga aku tidak peduli
tentang pikiran mereka ketika melihatku.
Di depan jalan menuju kamar mandi aku
mendengar suara tawa perempuan. Aku berhenti dan menunggu siapa mereka. Tidak
beberapa lama kemudian keluar tiga siswa perempuan dengan dandanan yang agak
berlebihan menurutku. Mereka seperti kaget saat melihatku dan menatapku dengan
tatapan sinis, sedangkan aku hanya membalas dengan wajah tanpa ekspresi.
“Eh, ada anak baru nih.” Kata cewek
yang berdiri di tengah. Dilihat dari gaya bicaranya, sepertinya dia ketua geng
cewek-cewek badut ini.
Mereka bertiga berjalan ke arahku.
Dengan sengaja cewek yang berdiri di tengah tadi menabrak pundakku, sehingga
aku dan mapku jatuh ke lantai. Cewek yang berada di sebelah kiri mengambil map
itu dari lantai. Cewek yang berada di tengah menerima map tersebut dan
mengeluarakan isinya.
“Kertas apaan nih? Nggak penting
banget…!” seru cewek itu dengan nada jijik. Kemudian ia membuang kertas-kertas
tersebut ke dalam tempat sampah.
“Berkas laopran gue…!” Teriakku
seketika saat melihat si nenek lampir membuang semua kertas-kertas itu ke
tempat sampah setelah diremas-remasnya terlabih dahulu. Kemudian mereka
langsung pergi begitu saja.
Rasanya aku ingin sekali menjambak
rambut nenek lampir itu. Tapi pikiranku hanya terfokus pada lembaran-lembaran
kertas laporanku yang sudah aku buat susah payah hampir satu tahun, dan kini
semuanya lecek, berantakan tak keruan. Kupungut kertas-kertas itu satu persatu.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari arah belakang.
Saat menoleh, aku melihat seorang
siswi cewek dengan potongan rambut yang aneh karena dipotong sembarang dan
tidak beraturan, serta menggunakan kacamata yang satu lensanya sudah tidak ada
lagi dan satunya lagi retak. Aku benar-benar terkejut dengan perasaan tidak
percaya karena cewek itu adalah sepupuku sendiri, Yara.
Yara menceritakan semuanya kepadaku. Ternyata kumpulan cewek
badut tadi adalah siswi kelas XI yang menamakan diri mereka The Mighter atau penguasa. Sekelompok
cewek yang suka berbuat onar dan seenaknya. Ketua mereka adalah syeily, siswi
yang baru pindah pada semester kedua tahun ajaran lalu, anak wakil kepala
sekolah. Tidak ada seorang pun yang berani membalas perlakuan mereka apalagi
melaporkannya kepada kepala sekolah.
“Kok Satria nggak pernah cerita sama gue?” tanyaku heran.
“Kalo soal itu aku nggak tahu kak, tapi Syeily itu ceweknya
kak Satria.”
“Apa?” aku benar-benar kaget. Kenapa Satria menyembunyikan hal
ini kepadaku. Tapi sudahlah, aku juga tidak mau terlalu memikirkannya.
Korban terakhir Syeily saat ini adalah Yara, karena Yara
melihat syeily dan teman-temannya memukuli siswi kelas XI di halaman belakang
sekolah kemarin siang. Dan mereka melakukan hal yang sama terhadapku, seperti
yang dilakukannya kepada Yara. Tapi tenang saja, aku akan membalas semuanya.
Karena Miss trouble Maker sudah kembali.
Bel istirahat baru saja berbunyi dan Satria terburu-buru
keluar dari kelas. Tahun ini aku mendapatkan kelas yang sama dengan Satria dan
duduk satu meja dengannya. Awalnya seluruh penghuni kelas kaget melihat
kehadiranku, tetapi kekagetan itu langsung berubah menjadi kecemasan. Satria
tidak bertanya apa-apa kepadaku, ia tahu kalau wajahku menunjukkan ekspresi
masam itu artinya dia bakal dicuekin terus. Jadi nggak ada gunanya buat nanya.
Istirahat adalah waktu yang tepat
untuk beraksi dan memperkenalkan diri kepada semua orang di sekolah. Tujuan
pertamaku adalah kelas Yara karena aku membutuhkan bantuannya sekarang.
Aku berjalan di koridor depan kelas
XII. Semua yang melihatku menunjukklan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan
teman-teman di kelas tadi. Dari kelas Yara, aku langsung menuj kelas Syeily,
tetapi ternyata Syeily and the genk sedang tidak ada di kelas. Itu tidak masalah,
untuk sementara aku punya mangsa baru untuk melampiaskan kekesalanku, tas
mereka.
Aku mengambil tas-tas itu dan mengeluarkan isinya. Di depan
semua mata siswa kelas XI aku membuang tas beserta isinya itu ke dalam tempat
sampah. Tidak ada seorang pun yang mampu mencegahku karena semuanya berlangsung
sangat cepat.
Tidak ada di kelas, berarti ada di kantin. Itu dugaanku. Yap,
ternyata tebakanku benar. Mereka bertiga sedang bercerita tentang kejadian yang
baru saja mereka lakukan terhadapku dan Yara tadi pagi dengan penuh kemenangan
sambil tertawa cekikikan. Benar-benar seperti nenek lampir.
Aku dan Yara berdiri di belakang
mereka. Di tangan Yara sekarang ada sebuah nampan dengan 5 gelas minuman. Semua
pasang mata penghuni kantin melihat ke arahku. Aku mendengar Syeily dan
teman-temannya sedang membicarakan sosok Miss Trouble Maker yang tahun ini
kembali ke sekolah, tentunya dengan nada dan rasa penasaran.
“Permisi, gue pengen duduk di sini, bisa pindah gak?” Tanyaku
polos.
Syeily menjawab tanpa menoleh, “nggak bisa, cari tempat duduk
yang lain aja.”
“Nggak mau, gue pengennya duduk di sini, soalnya di sini kan
enak. Lagi pula tempat ini kan untuk umum dan ini juga bukan punya kalian.”
“Lo ini kurang ajar banget ya? Elo berani sama gue?” seru
syeily sambil berbalik ke arahku. Saat melihatku ia langsung berkata, “Ooooh
elo? Elo murid baru yang tadi pagi kan?” Tanya syeily dengan marah.
Adegan ini yang paling aku tunggu, kemarahan dari orang yang
akan menjadi musuhku.
“Eh elo?” Balasku dengan tenang, “Elo kan yang udah ngerusakin
berkas laporan gue?”
“Kalau iya emangnya kenapa? Elo mau apa?” tantang Syeily.
“Kalau mau balas gue, mending sana. Atau elo belum puas dengan yang tadi pagi?
Elo mau ditambahin?” sesumbar syeily. Aku hanya diam dan membiarkan dia
meluapkan kemarahannya. “Elo belum tahu siapa gue? Emang susah sih ngomong sama
anak baru. Gue kasih tahu, di sini ini gue yang punya kuasa. Kalo elo berani
sama gue, gue laporin elo sama wakil kepala sekolah dan elo bisa dikeluarin
dari sini, soalnya dia bokap gue.”
“Oh, gitu ya? Aduh gue jadi takut nih buat duduk di sini.”
Kataku pura-pura takut. Kuambil gelas minuman dan nada bicaraku langsung
berubah menjadi garang. “Tapi gue gak
takut buat ngelakuin ini”. Kataku sambil menyiram mereka dengan minuman. Dua
temannya pun tidak luput kena sasaran, bahkan masing-masing dari mereka
mendapat jatah satu gelas.
Semua yang melihat tidak percaya dengan apa yang telah aku lakukan. Tidak ada suara
apapun saat itu, hanya jerit kekesalan dari tiga cewek geng badut.
“Elo ini emang anak baru yang kurang ajar…! Berani banget sama
gue. Dasar cewek sialan…!! Elo nggak takut sama gue?” katanya marah.
“Nggak…!!” Jawabku ketus, “Bahkan untuk dua gelas berikutnya.”
Kataku lagi sambil menyiramnya dengan air di gelas terakhir.
“Rika…!! Apa yang lo lakuin?” Teriak seseorang di belakangku.
“Ya ampun syeily, kamu kenapa?” pertanyaannya kini terarah kepada Syeily ketika
ia melihat baju Syeily yang basah kuyup.
“Ini semua gara-gara anak baru brengsek ini.” Cerca Syeily.
“Eh Satria? Sat, dia ngatain aku anak baru brengsek, jahat
kan?” seruku langsung dengan nada dan ekspresi tanpa berdosa seperti anak kecil
sambil melingkarkan lengan ke bahu Satria. Tapi Satria melepaskannya dengan
kasar.
“Sudah cukup, kelakuan elo ini sudah keterlaluan, Rika. Terserah
elo mau nglakuin apa aja sama siapa aja, tapi gue nggak terima kalaun elo
ngelakuin ini semua sama Syeily.”
“Lho? Kok elo jadi sensi gini sama gue? Oh iya, gue baru ingat
sekarang, kalau Mr. Rese sekolah ini udah punya cewek. Kalau nggak salah namanya
Syeily, anak wakil kepala sekolah, cewek paling popular, paling belagu, paling
nyebelin, paling sombong, sok berkuasa, dan kayaknya pengen ngegeser posisi Miss trouble Maker di sekolah ini deh.”
Kuucfapkan dengan penuh penekanan di sertiap katanya, seolah-olah orang yang
kumaksud sedang tidak ada.
Sambungku, “Gue bener-bener nggak nyangka, dari sekian banyak
cewek di sini, elo malah milih orang yang seperti itu. Ternyata Satria itu
cowok yang gila kekuasaan juga ya?
Untung aja gue bukan siapa-siapa di sini, kalau nggak mengkin elo juga bakal
ngejadiin gue cewek lo Sat. Gue yakin banget, pasti dari semua cewek yang
pernah jadi pacarnya Satria, si Syeily ini yang paling disayang. Soalnya yang
paling gampang buat dimanfaatin.”
PLAK!
Satria tiba-tiba menampar pipi kananku, terlihat kepuasan di
mata Syeily, sedangkan aku merasa nyeri di pipi kanan bekas tamparan Satria
karena mendapat serangan dadakan.
“Tutup mulut Lo. Elo nggak berhak buat ngomong seperti itu.”
Bentak Satria dengan marah.
Sambil mengelus pipi kananku, ku berbicara dengan tenang dan
seolah tidak percaya. “Satria nampar gue? Mr. Rese nampar Rika? Rika ditampar
oleh Satria untuk pertama kalinya. Gue, Rika, disuruh tutup mulut? Kenapa?
Bukannya itu semua benar? Dan gue nggak berhak buat ngomong semua itu?”
kemudian kurubah nada suaraku menjadi tegas dan mengancam tanpa ada rasa ragu,
“Tapi gue berhak untuk ngelakuin ini”.
PLAK! PLAK!
Aku menampar Satria dua kali, di pipi kiri dan kanan. Semua tersentak
kaget. Satria masih ingin melawan, tapi aku langsung mengacungkan telunjukku
sebagai ancaman dan menyuruhnya untuk tidak melawan. Satria terdiam menahan
marah.
“Oh iya, gue sampai lupa satu hal. Kalian kan udah jadian, gue
punya kado spesial nih untuk kalian berdua sebagai ucapan selamat, khususnya untuk
syeily.”
Kukeluarkan botol tinta dari saku seragam sekolahku dan
memperlihatkannya ke arah Syeily. Kubuka tutup botol tinta itu. Melihat
gelagatku, Satria lngsung memegang lengan kananku untuk mencegahku melakukan
aksi selanjutnya yang kusebut sebagai ucapan selamat. Kutatap mata Satria
dengan tajam dan berteriak, “LEPAS!” Refleks satria melepaskan pegangannya di
lenganku. Tanpa banyak basa-basi lagi, kusiramkan tinta itu ke baju Syaily.
Mata syeily dan seluruh orang yang ada di tempat tersebut
melotot tidak percaya sambil mengeluarkan jerit tertahan. Hanya Satria yang
sepertinya tidak terkejut. Setidaknya itu yang kudapat dari ekspresi wajahnya.
Dia pasti sudah tahu apa yang akan kulakukan tadi. Kupukul meja untuk menarik
perhatian Syaily agar ia melihat kearahku. Dari mata yang di hiasi eyeshadow
tipis dan mascara itu kumelihat keberanian yang mulai pudar.
“Ingat! Jangan pernah membuat masalah dengan si pembuat
masalah. Miss trouble maker. Ingat
itu!” ancamku.
Aku berlalu pergi dengan meninggalkan sebuah ketakutan di
ingatan mereka, khususnya geng The
Mighter. Perkenalan diri yang menyenangkan menurutku. Sekarang tidak ada
lagi yang penasaran dengan sosok Miss
Trouble Maker. Sangat berkesan.
The Mighter
hanya berani main bentak di hadapan semua orang, dan melakukan aksinya secara
sembunyi-sembunyi. Sedang Miss trouble
Maker nggak pernah berbuat secara diam-diam. Dia selalu melakukannya
sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Berarti mahkota Miss Trouble Maker masih berada di kepalaku. Rika, anak pemilik
yayasan sekolah ini. Sssssstttt!!! Yang ini rahasia, nggak ada yang boleh tahu.
J
Oooops KETAHUAN..!! (1)
PLAK…!!
Suara hentakan keras dari
kertas-kertas memecah kesunyian di dalam ruangan ini. Belum sampai 2 menit ayah
melihat hasil pekerjaanku, dia langsung melemparkannya ke atas meja. Reaksi
yang sudah kuduga.
“Rika…!! Kenapa kamu menyerahkan
kertas-kertas yang sudah kotor, lecek dan berantakan seperti ini? Kamu itu
seperti merendahkan ayah dan guru-guru di sekolah ini, serta menganggap remeh
semua tugas itu. Bukankah dari kecil ayah sudah mengajarkanmu bagaimana cara
menyelesaikan tugas dengan baik, bukan seperti ini. Kamu tahu sendiri kalau
hasil laporan kamu ini berpengaruh terhadap keputusan kami semua mengenai
keberadaan kamu di sini. Rika Rika, ayah tidak habis pikir dengan semua ini.”
Kata ayahku marah.
“Tapi itu semua bukan ulah Rika yah,
Rika sudah menyelesaikannya dengan sempurna, tapi….”
“Tapi apa? Kamu mau bilang kalau ada
orang yang dengan sengaja bikin semua laporan kamu ini berantakan? Nggak
mungkin Rika, nggak mungkin. Siswa kelas X dan XI mana mungkin berani gangguin
kakak kelas mereka. Kalau anak kelas XII, itu lebih tidak mungkin lagi. Ayah
yakin, melihat kamu saja mereka tidak mau dekat-dekat, apalagi mencari masalah
seperti ini.” Ayah menarik nafasnya.
“Rika, ayah sengaja memperpanjang
liburan kamu agar kamu bisa menyelesaikannya dengan baik.” Suaranya mulai
tenang. “kalaupun kamu bisa selesai lebih awal, itu bagus. Tapi jika hasilnya
seperti ini, ayah sangat kecewa sama kamu, Rika.”
Ayah mengusap wajah dengan kedua
telapak tangan, kemudian mengurut keningnya pelan. Aku tidak bisa berkata
apa-apa untuk membela diri. Pembelaan seperti apa yang harus aku berikan.
Percuma saja kalau aku bersikukuh jika semua ini bukan perbuatanku, ayah juga
tidak akan percaya. Dia pasti menanyakan siapa pelakunya. Lalu aku harus jawab
apa? Anak wakil kepala sekolah itu yang sudah melakukannya? Ah. Tidak mungkin,
dan aku tidak mau. Aku tidak mau dicap sebagai tukang adu. Lagipula aku sudah
menganggap urusanku dengannya selesai.
“Sekarang apa pembelaan kamu?” Tanya
ayah tiba-tiba. Aku hanya menggelang karena tidak tahu lagi apa yang harus
kukatakan.
“Jujur Rika, ayah tidak ingin
mengeluarkanmu dari sekolah, tapi di sini ayah harus bersikap adil. Makanya
ayah melakukan berbagai macam cara agar kamu tidak dikeluarkan. Tapi apa?
Semuanya sia-sia. Seakan-akan kamu sendiri yang ingin keluar dari sini.
Kamu tahukan Rika, hanya dengan kamu
sekolah di sini ayah bisa mengawasi kamu, mendidik kamu, dan membimbing kamu.
Kalau kamu pergi dari sini, ayah takut hubungan kita akan semakin jauh.”
“Ayah kan bisa saja menemui aku dan
kak Rio di rumah?”
“Semua itu sulit Rika. Kamu tahu
sendiri setiap kali ayah bertemu dengan ibumu, kami selalu bertengkar.”
Apa kata Rika yah? Bener kan?
Perceraian tidak akan menyelesaikan semuanya. Bahkan malah membuat masalah
baru. Rika dan Kak Rio harus tinggal dengan orang tua yang terpisah. Kami harus
terpisah dengan ayah. Kami juga selalu bertengkar dengan ibu di rumah. Suasana
di rumah benar-benar tidak nyaman. Dan sekarang apakah pertengkaran ayah dan
ibu berakhir? Tidak kan?!
Rika sudah melakukan berbagai macam
cara agar kalian berdua ngerti perasaan Rika dan kak Rio, anak kalian berdua,
sampai-sampai Rika menjadi seperti ini. Anak yang penuh dengan masalah. Lalu
sekarang Rika harus kehilangan kasih sayang seorang ayah hanya karena
keegoisan. Kalian berdua memang egois. Rika sudah tidak tahan Yah dengan
keadaan seperti ini.”
Air mataku perlahan mengucur keluar.
Kulihat wajah ayah yang menatapku dengan kaku. Tidak ada sepatah kata pun yang
keluar dari bibirnya. Keheningan tercipta kembali di ruangan yang dingin ini.
Seperti keadaan kami. Sampai akhirnya suara ketukan pintu dari luar
mengembalikan kami ke keadaan yang nyata.
Aku melihat Pak Agung, wakil kepala
sekolahku masuk ke rungan ini bersama dengan syeily dan dua temannya.
“Pak Hendra, saya sudah tidak bisa
lagi mentolerir kelakuan Rika setelah apa yang sudah dilakukannya dengan anak
saya dan teman-temannya.” Kata Pak Agung marah dengan suaranya yang menggelegar
tanpa basa-basi lagi.
Aku masih duduk di kursiku dengan
tenang sambil menikmati lukisan laut yang tergantung di belakang ayah.
“Apa maksud Pak Agung?” Tanya ayahku
heran.
“Rika sudah menyiram mereka bertiga
dengan minuman. Bahkan anak saya dengan tiga gelas sekaligus ditambah sebotol
tinta Pak. Anak ini memang anak yang tidak tahu diri. Baru hari pertama masuk
sekolah, dia sudah membuat kekacauan.”
Ayah menatap ke arahku, “Benar Rika
apa yang dikatakan Pak Agung?”
“Di sini saya tidak mungkin bisa
berbohong, karena semua orang melihat apa yang sudah saya lakukan.” Jawabku
singkat. Di depan orang-orang sekolah, stiap kali berhadapan dengan ayah, aku
memang selalu berbicara layaknya antara murid dan guru, begitu pun sebaliknya.
“Kenapa kamu melakukan ini semua?”
“Karena dia dan teman-temannya yang
sudah membuat laporan saya kotor dan berantakan seperti itu.”
“Bohong Pak!” Teriak Syeily, “Saya
tidak mungkin melakukan itu, toh tidak ada gunanya juga kan bagi saya? Lagi
pula, saya juga tidak kenal dengan dia.”
“Sekarang Rika, apa ada yang melihat
kejadian itu?”
Aku terdiam. Apa yang harus aku
katakana? Siapa yang melihat kejadian itu? Aku sendiri tidak tahu. Aku bisa
saja menyebutkan satu nama dari sekian nama siswa yang ada di sekolah ini untuk
membantuku. Hanya dengan sedikit gertakan, dia pasti mau nurut. Tapi kalau dia
tidak takut sama aku, dan merasa lebih takut terhadap Syeily bagaimana? Atau
dia nanti kenapa-kenapa? Aku bukan orang yang seperti itu. Aku bukan pengecut
yang suka menyeret orang lain dalam masalahku.
“Lihat Pak” Pak Agung angkat bicara,
“Dia ini memang pembohong, kalau benar anak saya yang melakukannya, dia pasti
sudah dapat membuktikannya.”
“Tunggu dulu Pak.” Ayah menyela Pak
Agung. Sekarang ayah bertanya kepadaku, “Rika benar tidak ada yang melihat
kejadian itu?”
Aku diam, Syeily dan teman-temannya
saling berpandangan sambil tersenyum mengejek, begitu pula dengan Pak Agung,
sedangkan ayah masih menunggu jawabanku dengan alis yang terangkat.
***
“Ada Pak. Saya!” Teriak seorang
perempuan diiringi dengan suara pintu yang di dobrak. Suaranya yang lantang
membuat kami semua menoleh ke arah pintu.
“Yara?” Tanya ayahku bingung.
“Ngapain lo ke sini Yar?” Bentakku.
“Pak Hendra?” Tanyanya balik setelah
melihat ayahku. “Saya ke sini mau bantuin kak Rika Pak.”
“Gue nggak perlu bantuan lo. Gue bisa
nyeleseiin semuanya sendiri.” Sebenarnya aku hanya tidak mau kalau Yara
mengatakan statusku sebagai anak dari Pak Hendra, ayah kandungku, pemilik
yayasan sekaligus kepala sekolah di sini.
“Diam Rika!” Bentak ayah. “Benar Yara
kamu melihat semuanya?” Yara mengangguk mantap. Tidak ada rasa takut yang
terlihat di diri Yara. “Bisa kamu ceritakan semuanya?” Pinta Ayahku.
Yara menceritakan semua kejadian tadi
pagi. Bahwa dia di cegat oleh Syeily dan teman-temannya saat ingin menuju ke
kelas. Suasana sekolah pagi itu sepi karena bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Yara di seret ke kamar mandi, dan di sana dia menjadi bulan-bulanan Syeily dan
teman-temannya. Yara tidak mampu melawan. Sehingga kaca matanya pecah akibat di
lempar sembarang oleh mereka, selain itu rambut Yara pun mereka potong asal.
Alasan mereka semua melakukan itu terhadap Yara, karena Yara melihat Syeily dan
teman-temannya mengeroyok siswa kelas XI waktu pulang sekolah kemarin.
Syeily and the geng baru keluar dari kamar mandi setelah
mereka memastikan suasana sekolah benar-benar sepi. Tetapi mereka malah bertemu
denganku yang mengetahui aksi mereka. Yara menginti kejadian yang terjadi
denganku dari lubang kunci.
“Mereka bertiga dengan sengaja menabrak pundak kak Rika yang
berdiri di ujung lorong kamar mandi. Kemudian Syeily melempar kertas-kertas
milik kak Rika ke dalam tempat sampah.”
PLAK!
Aku melihat Syeily menampar pipi Yara di hadapan kami semua.
“Diam lo!” Bentak Syeily.
PLAK!
Aku membalas menampar Syeily. “Elo
yang diam!”
PLAK!
Aku tiba-tiba di tampar oleh Pak
Agung. “Sekarang kamu yang diam!”
“Diam semuanya.” Bentak ayahku sambil
memukul meja. “Pak Agung! Kenapa Pak Agung menampar Rika?”
“Karena dia sudah menampar anak saya
Pak!”
“Itu karena anak Bapak sudah menampar
sepupu saya. Makanya dia pantas untuk di tampar.” Belaku.
“Kamu juga pantas di tampar karena
mulut dan kelakuan kamu yang sudah kurang ajar. Itu semua pasti hasil didikan
orang tua kamu yang tidak benar.”
“Pak Agung diam.” Bentak ayahku.
“Lho? Kenapa saya harus diam pak? Itu
semua memang benar kan? Tidak mungkin anak yang kurang ajar seperti dia ini
hasil dari didikan orang tua yang baik-baik. Seperti kata pepatah, buah jatuh
tidak jauh dari pohonnya. Iya kan Rika? Di keluargamu pasti ada yang
kelakuannya kurang ajar seperti kamu. Kalau bukan ibu kamu berarti ayah kamu.”
“Diam Pak” Teriakku. Aku sudah tidak
tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut orang ini. “Pak, Bapak boleh
menghina saya sesuka Bapak, tapi saya mohon agar Bapak jangan menghina orang
tua saya. Dan saya minta Bapak menarik kata-kata itu atau Bapak akan menyesal
karenanya.”
“Saya tidak akan menarik kembali
kata-kata saya dan saya tidak akan pernah menyesal. Karena akhirnya saya bisa
meluapkan perasaan saya terhadap kedua orang tua kamu, di hadapan kamu sendiri.
Dari dulu saya menyarankan kepada pihak sekolah agar mendrop out kamu dari
sekolah. Tetapi tidak ada yang mendengarkan saya. Saya heran, untuk apa sekolah
mempertahankan orang seperti kamu yang bisanya cuma membuat masalah.”
Aku tersenyum sinis ke arahnya.
Perlahan-lahan senyumku berubah menjadi tawa yang melengking. Aku tertawa
sepuasnya. “Baguslah.” Kataku ke arah Pak Agung, Syeily dan teman-temannya.
“Pak Hendra, sekarang terserah Bapak
mau percaya sama siapa, Pak Agung dan anaknya atau saya dan Kak Rika, keponakan
dan anak kandung Pak Hendra sendiri.” Yara menekankan kalimat terakhirnya dan
langsung membuat wajah Pak agung serta Syeily menjadi pucat. Sedangkan aku dan
Yara tersenyum puas.
“Aku memang murid baru Pak di sekolah
ini, tapi siswa satu sekolah sudah tahu perlakuan kurang ajar seperti apa yang
sudah dilakukan Syeily. Memang tidak ada yang berani mengadukannya karena
mereka takut jika harus berhadapan dengan wakil kepala sekolah dan beresiko
harus dikeluarkan dari sini.” Sambung Yara.
“Kamu benar Yar, saya akan menindak
lanjuti masalah ini dan segera membicarakannya dengan pihak sekolah.”
Saat itu juga Ayah selaku kepala
sekolah dan pemilik yayasan langsung membawa masalah yang terjadi selama ini ke
rapat besar. Seluruh dewan guru dan pengurus yayasan langsung membicarakannya.
Kabar begitu cepat tersebar, seluruh pihak sekolah ramai membicarakannya. Yang
dibicaraka dalam rapat itu bukan hanya tentang masalah yang terjadi pada hari
ini, tetapi juga masalah-masalah sebelumnya mengenai Syeily, aku, Pak Agung,
dan siswa-siswa lainnya yang ikut terlibat.
Dua jam kemudian kami semua
dikumpulkan di tengah lapangan untuk mendengarkan hasil keputusan rapat. Semua
orang terlihat sangat antusias menunggu pengumuan yang akan disampaikan
langsung oleh kepala sekolah sekaligus pemilik yayasan ini yang tidak lain dan
tidak bukan adalah ayahku sendiri.
Sepuluh menit setelah para siswa
terkumpul di lapangan, ayahku keluar dari ruangannya diikuti oleh seluruh dewan
guru, pengurus yayasan yang dapat berhadir ke sekolah, serta aku, Syeily dan
teman-temannya, juga Yara berjalan menuju lapangan.
Pengumuman yang dibacakan oleh ayahku antara
lain, pertama ucapan selamat datang untukku, Naldarika Suhendra, karena sudah
kembali dari Amsterdam setelah mengikuti program pertukaran pelajar selama satu
tahun terakhir. Terlihat semua orang memberikan tepuk tangan untukku tetapi
tanpa ekspresi kebahagiaan di wajah-wajah mereka. Hanya ayah dan Yara yang
terlihat senang menyambut kedatanganku. Selain itu aku juga secara resmi di
terima kembali di sekolah ini, dan dianggap sudah melaksanakan tugasku sebagai
hukuman atas perbuatanku selama ini.
Pengumuman yang kedua yaitu Syeily dan
teman-temannya akan mendapat skorsing selama satu minggu untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya, setelah habis masa skorsingnya ia dan yang
lainnya akan menjadi siswa percobaan selama tiga bulan di sekolah ini. Apabila
selama masa percobaan itu Syeily dan teman-temannya ketahuan membuat ulah lagi,
maka mereka akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Bukan Cuma mereka, aku juga
mendapatan skorsing di hari pertamaku masuk sekolah. Tetapi skorsingku lebih
ringan, yakni hanya tiga hari tanpa menjadi siswa percobaan setelahnya.
Pengumuman yang ketiga adalah pencopotan
jabatan oleh ayahku terhadap Pak Agung sebagai wakil kepala sekolah. Pengumuman
yang satu ini disambut meriah oleh seluruh siswa di sekolah. Tidak ada lagi kepala
sekolah yang otoriter dan berat sebelah.
Pengumuman terakhir adalah pengumuman
yang tidak aku sangka sebelumnya akan dikatakan oleh ayahku sendiri. Di depan
seluruh penghuni sekolah, ayah mengumumkan bahwa ia memiliki putri di sekolah
ini yang bernama Naldarika Suhendra, yaitu aku. Dalam waktu sepesekian detik
aku langsung terdiam, begitu pula dengan seluruh siswa yang mendengar
pengumuman ini. Beberapa di antara mereka yang mulai sadar langsung merespon
dengan mengatakan “hah” di tambah ekspresi tidak percaya, sinis, kaget, dan
lain sebagainya. Anehnya aku malah seperti melihat kalau ayah sangat menikmati
pemandangan dan keadaan seperti ini.
Aku melihat keadaan yang mulai tidak
terkendali. Semua siswa saling berbisik-bisik membicarakan apa yang baru saja
mereka dengar tadi. Untuk menenangkan keadaan, aku pun berinisiatif mengambil
alih microfon dan memberikan pengumuman terakhir sebagai penutup.
“Maaf Pak, sejujurnya saya sangat
senang dengan keputusan itu, tapi di lain pihak saya juga merasa berat untuk
menerimanya. Sekolah ini sudah sangat baik kepada saya, Pak Hendra dan
pihak-pihak sekolah lainnya sudah memberikan kesempatan yang sangat banyak
kepada saya sehingga saya masih bisa berdiri di sini sambil membusungkan dada
dan kemenangan atas pertarungan terhadap diri saya sendiri. Tetapi saya juga
menyadari kekurangan yang saya miliki. Atas kekurangan tersebut dan apa yang
telah saya lakukan selama ini, saya rasa saya sudah tidak berhak lagi mendapatkan
kebaikan-kebaikan ini. Selain itu juga saya merasa tidak nyaman berada di sini
setelah status saya sebagai anak dari pemilik yayasan diketahui oleh seluruh
pihak sekolah. Saya akan menjadi serba salah dalam melakukan sesuatu kedepannya
nanti. Untuk itu pada hari ini saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai
siswa dari sekolah ini. Sekolah yang menuntut keadilan, dan ini adalah keadilan
yang berhak saya dapatkan.” Kataku singkat.
Pemandangan
yang kali ini aku lihat adalah kekecewaaan di mata ayah. Aku pun langsung
memeluk beliau untuk menenangkannya. Tidak lupa juga aku meminta maaf kepada
seluruh siswa dan guru-guru di sekolah yang sudah direpotkan atas kelakuanku.
Satu hal yang tidak aku percaya, ternyata masih ada beberapa guru dan sebagian
siswa yang menangis saat memeluk dan mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Itu
artinya aku sudah berhasil menjadi murid yang paling berkesan di sekolah ini.
Namaku akan menjadi sejarah di sini dan akan terus di kenang sepanjang masa
oleh orang-orang yang pernah mengenalku. Selain itu ayah juga sudah berhasil mendidikku
menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawabnya. GOOD BYE..!!
GILA…!!
Aku mengemudikan mobil dengan
kecepatan tinggi menuju rumah Rika. Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya
dengan keputusan yang diambilnya. Di hari yang sama dengan hari penyambutan
kedatangannya ke sekolah dan dengan kemenangan yang ada di tangan, dia malah
mengundurkan diri dan menyatakan keluar dari sekolah.
Tapi kalau aku jadi dia, mungkin ku
juga akan mengambil keputusan yang sama. Gimana nggak coba, kalau kita dapat
beasiswa untuk sekolah di sekolah terbaik, di luar negeri sampai lulus kuliah
malah. Ku akui Rika itu memang GILA. Dari kelakuannya, keputusannya, cara
pikir, bahkan dengan apa yang ada di hadapannya, semuanya GILA. Apapun yang ada
di diri Rika adalah sebuah kegilaan. Sesuatu yang tidak bisa langsung di terima
dengan akal sehat.
Tidak terasa mobilku sudah memasuki
halaman rumah Rika yang sederhana. Aku ke sini karena sudah janji akan
mengantarkan Rika ke bandara bersama kak Rio.
“Ka, bener lo mau pindah ke
Amsterdam?” tanyaku lagi. Pertanyaan yang sudah berulang kali aku tanyakan.
“Ya iyalah. Emangnya kenapa sih lo
nanya mulu?”
“Nggak. Kalau lo pergi, apa lo bisa
bikin orang tua lo balikan lagi? Lagi pula, apa lo gak kasian ninggalin gue
sendirian di sini?”
“Dengar ya Sat. Gue sama kak Rio udah
bikin rencana yang hebat buat orang tua gue. Kalau soal kasihan atau nggaknya
sama lo, itu hal belakangan. Tapi yang pasti gue bakal kangen banget sama lo
Sat, tenang aja.”
Tenang aja dia bilang. Gimana aku bisa
tenang? Sekarang aku sendirian lagi, satu-satunya sahabat, teman yang paling
ngertiin aku malah mau pergi. Bahkan tanpa mau mikirin perasaanku sekalipun.
Aku masih mengemudikan mobil menuju
Bandara. Mataku memang masih tertuju ke jalanan, tapi pikiranku melayang-layang
entah kemana, memikirkan hari esok tanpa Rika lagi. Sekarang kami bertiga
berada dalam kesunyian. Sunyi seperti perasaan kami masing-masing. Sesampainya
di Bandara, aku langsung memarkir mobil di tempat yang sudah di sediakan. Kemudian
mengikuti mereka masuk ke dalam Bandara. Di depan pintu keberangkatan, kak Rio
meninggalkan aku dan Rika berdua untuk saling mengucapkan kata perpisahan.
“Ka, gue boleh meluk lo buat yang
terakhir kali gak?” pintaku.
“Iiih, apaan sih lo? Malu tahu keliatan….”
Belum sempat Rika menyelesaikan
kalimat penolakannya, aku sudah memeluknya. Kami berdua tidak bisa berkata
apapun. Aku melepaskan semua perasan yang ada untuk Rika. Aku benar-benar
tenggelam dalam perasaanku sendiri.
“Rika, gue pengen mengatakan sesuatu
sama lo.” Rika berusaha melepaskan pelukanku, tapi aku malah memeluknya semakin
erat. “lo diam aja dan dengerin gue.” Bisikku di telinganya.
“Rika, lo denger kan suara detak
jantung gue? Detak jantung gue selalu berdetak gak normal dan lebih cepat
setiap kali gue ada deket elo. Entah sejak kapan gue ngerasain hal ini sama lo.
Tapi yang pasti gue udah suka sama elo sejak pertama kali gue ngeliat lo di
depan gerbang sekolah di hari pertama gue masuk. Baru waktu itu gue menemukan
cewek dengan tatapan yang penuh misteri kayak lo, sampai sekarang gue nggak
pernah lagi ketemu cewek dengan tatapan kayak gitu.
“cewek yang punya banyak rahasia. Gue
juga nggak tahu apa yang bikin gue bisa jatuh cinta sama cewek kayak lo. Elo
yang selalu mengganggu pikiran gue, membuyarkan konsentrasi gue, elo juga yang
udah bikin gue lupa sama masalah gue di rumah. Memang ini semua terdengar
gombal dan gila, tapi itu jujur dari hati gue Ka.
“Mungkin lo nggak percaya kalau gue
udah jatuh cinta sama lo, dan sampai sekarang masih cinta sama lo. Sebenarnya
gue nggak pernah mau ngungkapin perasaan ini, selama elo masih ada di samping
gue, dekat gue dan gue bisa selalu ada untuk elo, dan menjadi orang yang bisa ngilangin kesedihan-kesedihan lo.
“cewek-cewek itu hanya sebagai pengusir
rasa sepi gue selama elo nggak ada. Tapi sekarang gue harus mengatakan
semuanya, gue nggak mau menyesal karena perasaan ini terpendam sia-sia. Gue
ngomong gini karena gue takut Ka, gue takut kehilangan lo. Nggak ada yang bisa
ngegantiin lo dalam hidup gue, asal lo tahu, elo nggak akan pernah bisa
terganti.” Aku memeluknya lebih erat lagi, dengan mata yang berkaca-kaca.
“Rika, gue pengen lo selalu ngingat
gue, persahabatan kita, pertengkaran kita, keresean gue dan semua hal tentang
kita, seperti gue yang nggak akan pernah ngelupain elo.”
Kuusap air mataku sebelum melepaskan
Rika dari pelukan. Aku melihat wajah Rika yang cemberut. Aneh, pikirku.
“Elo kenapa Ka?” tanyaku heran.
“Satria, elo dari tadi ngapain aja?
Baju gue sampai basah gini. Elo ngomong sambil muncrat ya? Ini pasti air liur
lo. Iiiiiiiihhhhhhhhhh….!! Satria, elo jorok banget sih? Bentaknya langsung.
“Enak aja lo bilang gue jorok, elo
sendiri dari tadi ngapain? Baju gue juga sampai basah gini. Jangan-jangan elo
tidur sambil ngiler bukannya dengerin gue.” Balasku.
Kami berdua saling beradu memasang
wajah cemberut, entah kenapa tiba-tiba kami berdua tertawa, kemudian saling
berpelukan.
“Gue tadi nagis.” Ungkap kami
berbarengan.
Kami kembali tertawa. Setiap orang
yang melihat kami pasti mengira kami ini aneh atau gila. Tapi benar, Rika itu
GILA, sampai-sampai GILAnya nular ke aku. Kalau GILA kami berdua lagi kumat,
pasti ngalahin gilanya orang yang ada di rumah sakit jiwa.
“Satria, gue pengen ngasih elo
sesuatu.” kata Rika tiba-tiba.
“Apaan?”
“Tutup mata dulu, terus elo agak
nunduk dikit.”
Aku turuti perintahnya, cukup lama
nunggu tapi tidak terjadi apa-apa.
“Sudah belum?” tanyaku.
“Nunduk lagi, nggak nyampe.”
Aku semakin menunduk, saat itu aku
merasakan ada sesuatu yang menempel sekilas di pipi kananku. Aku kaget tapi
tetap memejamkan mata untuk menunggu instruksi dari Rika. Tapi setelah menunggu
beberapa saat dan tidak ada tanda-tanda dari Rika yang menyuruhku untuk membuka
mata, aku memutuskan untuk membukanya sendiri. Saat membuka mata, kumelihat Rika sudah melenggang dengan santainya
meninggalkanku.
“SATRIA, ENTAR KALAU GUE UDAH NYAMPE,
GUE PASTI LANGSUNG KIRIM EMAIL BUAT ELO..!!” teriaknya dari kejauhan.
Aku tersenyum melepas kepergiannya.
Aku masih penasaran, apaan sih yang menempel tadi. Rasa penasaranku terjawab
ketika kumemperhatikan pantulan bayangan wajahku di kaca spion mobil. Di pipi
sebelah kananku samar-samar terlihat cap bibir berwarna pink. BERARTI TADI RIKA
NYIUM GUE? Oh My God !!!!
Rika… kenapa sih elo tadi ngasih
ciuman di pipi? Gue kan jadi repot kalau pengen ngebersihin muka, ssayang kalau
sampai ngilangin cap bibir elo. Kalau nggak dibersihin ntar muka gue jerawatan.
Kenapa tadi nggak ngasih di tempat lain aja biar bisa gue abadikan. Di bibir
gue kek sekalian. Rutukku dalam hati.
RIKA GILAAAAAAAAAAAAAA….!!!!!
~The
End~