Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Rabu, 07 Desember 2011

(cerpen) Surat Untuk Ai


SURAT UNTUK AI
Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Hari itu, jumat sore tanggal 2 Desember. Kulihat air matamu mengalir begitu aja. Ah. Bukan begitu aja. Segala sesuatu terjadi pasti ada sebabnya kan? Sebab air mata itu lagi-lagi adalah aku. Untuk kedua kalinya kamu nangis karena ulahku. Kali ini adalah karena aku yang ingin pergi darimu, pergi dari hidupmu, dan pergi dari duniamu. Bukan karena aku yang tidak mau peduli sama kamu lagi, bukan karena aku yang capek menghadapi kamu. Bukan, bukan semua itu alasan kenapa aku ingin pergi. Tapi karena aku yang sudah lelah menanggung rasa bersalah atas semua masalah yang terjadi dalam hidupmu. Semua itu terjadi karena keberadaanku.
Aku lelah menanggung semua beban itu, teramat lelah malah. Walau aku tau, kamu pasti tidak akan pernah mau menyalahkanku. Kamu pasti tidak akan pernah bisa marah sama aku walau sebesar apapun kesalahan yang udah aku lakuin sama kamu. Kamu terlalu  baik untukku. Kamu terlalu baik untuk mendapingiku melewati smua ini. Kamu terlalu baik.
Suara Avril Lavigne terdengar mengalun merdu membawakan lagunya I will Be. Mengiringi setiap hembusan nafasku. Mengingat kejadian di hari jumat sore itu membuatku ikut meneteskan air mata.
Semua terjadi terlalu singkat. Pertemuan kita, perjalanan kita, cerita kita, sampai kekeputusanku untuk hilang dari hidupmu. Aku pikir ku cukup kuat untuk bertahan di sini menemanimu. Ternyata aku tidak sekuat itu. Aku menyerah dengan keadaan ini. Keadaan yang selalu melahirkan masalah karena aku.
“Kamu beneran mau menghilang Na?” pertanyaanmu waktu itu. Sebuah pertanyaan yang akan mengawali air matamu.
“Kalau ini yang tebaik buat kita. Aku gak bisa ngapa-ngapain lagi Ai.” Jawabku singkat.
Ah, kenapa aku harus mengatakan itu. Tapi aku harus jawab apa? Hanya itu yang ada dipikiranku. Dan memang itu kan alasanku untuk pergi. Untuk hilang.
Kamu diam, aku diam, kita hanya diam. Kurangkul bahumu, berusaha menenangkanmu, berusaha meyakinkanmu kalau semua akan baik-baik aja. Walau perlahan air mata itu sudah mulai tidak tertahan keluar dari pelupuk matamu. Semua terasa terlalu berat untukmu ya? Semua ini memang berat. Bukan hanya untukmu, untukku juga. Tapi salah satu di antara kita harus ada yang memulai. Harus ada yang kuat.
“Kamu harus kuat Ai. Semua akan baik-baik aja. Semua nggak sesulit yang kamu pikir kok.” Kataku sambil berusaha tersenyum.
“Tapi kalau kamu hilang, aku bakal sendirian lagi Na. Sendiri lagi.”
“Kamu gak pernah sendirian Ai. Kamu harus yakin kalau Tuhan gak akan pernah ninggalin kamu sendirian. Tuhan pasti akan ngasih kamu seseorang buat gantiin aku. Kalau kamu yakin, semuanya akan menjadi lebih mudah Ai. Ingat, kamu nggak pernah kehilangan aku. Aku bukan orang baik, kamu harus mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.” Kataku sambil mengusap air mata dipipimu dengan jariku, dan merangkulmu semakin erat. Aku gak mau kamu merasa sendiri dalam menghadapi situasi ini. Walau mungkin ini yang terakhir kalinya aku memeluk dan mengusap air matamu.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Entah apa yang aku pikirkan saat aku memutuskan untuk pergi ketempat ini. Keputusanku untuk hilang kali ini terasa lebih berat. Lebih berat karena kamu mengetahuinya. sehingga semua menjadi seperti sebuah perpisahan.
Aku hanya ingin hilang. Hilang begitu aja. Aku tidak ingin kamu tau semua rencanaku. Karena aku nggak mau nantinya semua akan terjadi seperti ini. Tapi semua sudah terlanjur terjadi kan? Kamu sudah terlanjur mengetahuinya. kamu sudah terlanjur menanyakannya. Dan aku sudah terlanjur mengatakannya.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Aku pergi ketempat ini karena merasa sesuatu terjadi di luar kendaliku. Situasi ini sudah mulai tidak terkontrol. Aku tiba-tiba merasa takut. Takut kalau-kalau ini akan menjadi yang terakhir di antara kita.
Ah, kalau aku tiba-tiba bertemu deganmu di tempat ini, aku rasa aku tidak sanggup untuk mengatakan semuanya.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Di sini, di tempat ini, tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu, aku menulis surat untukmu. Surat yang mungkin menjadi surat perpisahan, permohonan maaf, dan bisa menjadi surat terakhirku untukmu. Kubaca berkali-kali surat itu sebelum sampai ketanganmu.

                        Dear Ai,
teman terbaikku
Ai, maafin Na ea karena udah nulis surat ini buat Ai. Na nulis ini karena Na ngerasa gak sanggup buat bilang langsung ke Ai.
Ai, Na ngerasa ada yang berbeda dengan keputusan Na hilang kali ini. Entah kenapa semua nggak bikin Na merasa lebih baik. Nggak bikin Na ngerasa nyaman. Na malah takut Ai. Takut banget. Nggak kayak waktu Na ilang kemarin dulu itu yang bikin Na ngerasa tenang.
Na takut hari jumat itu adalah hari terakhir pertemuan kita. Karena semua terjadi seperti sebuah perpisahan. Na takut Ai.
Tapi Ai, kalau ini menjadi yang terakhir di antara kita, gpp kan Ai? Ai harus ikhlas ea. Na juga akan berusaha untuk ikhlas kok Ai, walau sepertinya susah.
Ai, maafin Na ea. Selama ini Na udah terlalu banyak bikin salah sama Ai. Kesalahan Na kali ini begitu besar Ai. Walau Ai selalu maafin Na bagaimanapun besarnya kesalahan yang Na bikin sama Ai, tapi untuk kali ini Na ragu kalau Ai masih mau maafin Na.
Na ngerasa gak pantas ada di samping Ai. Ai udah terlalu baik sama Na. Ai udah terlalu sering maafin Na. Na ngerasa udah gak pantes lagi buat nerima itu semua Ai. Ai terlalu baik buat Na.
Setiap ngeliat Ai, Na semakin yakin kalau Ai terlalu jauh untuk bisa Na gapai. Na melihat Ai ibarat bintang yang terus berpendar di atas langit sana, sedangkan Na hanya sebatang rumput yang ikut menikmati indahnya sinar Ai. Hanya sebatang rumput Ai. Mana pantas sebatang rumput berteman dengan sebuah bintang yang begitu indah seperti Ai. Gak pantas Ai. Gak pantas.
Makasih ea Ai karena selama ini Ai udah mau nemenin Na. udah bikin Na ngerasain kebaikan Ai. Udah bikin hidup Na berwarna. Udah ngajarin Na banyak hal tentang persahabatan dan berbagi. Makasih Ai. Makasih banget. Semua terasa menjadi lebih ringan tiap kali Ai ada di samping Na. Ai udah ngajarin Na gimana caranya untuk kuat. Na pasti bakal kangen itu semua.
Makasih banyak ea Ai untuk semuanya. Maafin Na juga kalau Na selalu bikin masalah dalam hidup Ai. Na harap Ai masih mau maafin Na untuk kesalahan Na yang terakhir. Kesalahan terbesar yang udah Na lakuin sama Ai. Walau Na gak terlalu banyak berharap.
Makasih atas semua kata maaf Ai selama ini.
Kalau ini jadi yang terakhir di antara kita, Ai harus ikhlas ea.
Ai harus tetap tersenyum seperti bintang yang tak pernah bosan bersinar. Ai harus tetap bersinar di atas sana.
Makasih atas semua kata maaf Ai selama ini.

Salam sayang selalu
Temanmu    
     Na          
   ^,^                 

Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata pisahan itu.
Kubaca lagi surat itu untuk yang terakhir kalinya sebelum Kulipat dengan perlahan dan rapi. Serapi mungkin. Serapi persahabatan kita selama ini. Kutatap jauh ke depan sana. Mencoba mengingat kembali pertemuan terakhir kita. Seperti isi suratku, andai ini jadi yang terakhir diantara kita, aku ingin kamu bisa ikhlas menerimanya. Dan semoga pertemuan terakhir kita waktu itu menjadi perpisahan yang indah. Walau aku tau, nggak akan pernah ada sampai kapanpun  perpisahan yang indah.
Sebelum kumelangkah pergi meninggalkan tempat ini, kutitipkan surat itu kepada penjaga tempat ini. Seseorang yang mengenal kita cukup baik. Seseorang yang selalu menjadi saksi tentang apapun yang terjadi di antara kita selama ini.
 Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata pisahan itu. Dan mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku kesini. Aku mulai melangkah pergi. Melangkah dengan pasti. Meninggalkan tempat ini jauh di belakangku. Meninggalkan semua kenangan yang tertinggal di belakangku. Aku harus pergi. Pergi ninggalin itu semua agar kita bisa hidup lebih tenang.
Suara Avril yang dari tadi membawakan lagu I Will Be sudah sampai pada lyric yang terakhir.
I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling apart
And All my life, you know I’ll be with you  forever
To get you through the day
And make everything okay.

ENTRY SPECIAL UNTUK YANG TERSPECIAL


ENTRY SPECIAL UNTUK YANG TERSPECIAL


          Entry special untuk yang terspecial. Hooooo… judulnya gaje bgt ea..? hahahaha.. pasti pada nanya ne entry buat siapa. Hm.. ok. Kalian tenang aja, kalian bakal tau kok ne buat siapa.
          Entry special untuk yang terspecial.
          Diliat dari judulnya yang gaje, pasti pada bisa nebak ne entry buat siapa. Yupz.. ne entry buat mr.Gaje q, yang slalu q kasih inisial &ry.
          Upz.. gak sengaja neh ketulis nama dia. Hufh.. v sudahlah.
          Ne entry mank beneran buat dia, cz q dah janji sama dia bakal nulis blog yang isinya dia. Hhee.. B-)
          MR. GAJE..!! knpa aq manggil dia mr.gaje..? karena dia tuh mank beneran gaje gila. GAK JELAS banget dweh orgnya. V anehnya knp aq bisa sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayank sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnkkkkkkkkkkkkkkk bgt sma dia. Huh..
          Oh ea.. ne ada satu potongan lirik lagu buat mr.Gaje.
          Maafkan aq yang tak bisa berhenti menyayangimu
          Walaupun tak bisa memilikimu
          Atau menjadi yang tercinta untukmu
          Huh.. tu lagu bneran mewakilin perasaan aq bgt lho. Aq tuh sebenarnya pengen banget benci sama dia, benci sebenci-bencinya. V GAK BISAAAAAAA…!!!! Padahal dia tuh dah kurang ajar bgt sama aq, dah prnah bkin aq nangis gara-gara dia, dah pernah bikin aq gak konsen jawab ujian gara-gara marahnya dia yg gak jelas, dah bkin aq gak nafsu makan krna mikirin dia, & dah bkin aq gak mood krna klakuan dan sifat gajenya itu. Huh..
          Knapa aq bilang dia special..? dia tuh mank special bnget mnurut aq. Malah karena gajenya itu makanya dia special. Sms.nya pun isinya kadang gaje yg bkin aq kesel sendiri. Hufh..
          O ea, aq dapat julukan baru lagi neh dari mr.Gaje. dari yg dulu “nakingca”, kemudian jd “Na mauk” dan yg terakhir ne jadi “ikan teri”. Aneh dweh ne org, masa aq di panggil ikan teri. Apa krena bdan q yg kurus kecil ne ea..? aaaah.. mentang’ badanmu itu bullet kyak panda. Dasar Mr.Panda..!! hahahaha.. duh, jdi ingat sma Mrs.Panda neh, hhee.. B-) apa kabarnya dia sekarang ea..? aaaaah, gak usah ngomongin Mrs.Panda di sini.
          Hm.. karena dia q panggil Mr.Gaje, otomatis aq jd Miss.Gajenya dunk. krena smua org kyknya setuju bgt kalo aq ne gaje. Hufh... Apalagi mas @ yg terus manggil aq si GAJE huhuhu.. (derita bgt ea bagi gw =.=’)
          Tapi asal kalian tau ea, aq malah bngga jd Miss.GAJE karena gak smua org bisa jadi miss.gaje. dan Gaje itu yg bkin qm berbeda dari org kebanyakan. Different make u special. And I’m fell special coz it. Hoooooo..
            Udah ah ngomongin Mr.Gajenya. bisa bahaya kalau dia baca entry yg ne. bisa-bisa sifat gajjenya tambah parah. Huhuhu..

Satu hari terakhir kita



Hari itu, pagi itu, tanggal itu, 10 juni 2011, tidak seperti biasa kamu sms aq pagi-pagi. Sms GAJEmu seperti dirimu dah membuat hp aq sibuk d pagi buta. Sibuk sibuk sibuk dengan isi sms yang gak jelas. Pagi itu juga kalo penyakit GAJEmu kambuh, kamu kirim sms itu, potongan lyric lagu Lyla, “nyanyikan lagu indah sebelum kupergi dan mungkin tak  kembali, nyanyikan lagu indah tuk mlepas q pergi, dan tak kembali”.
          Hari itu, pagi itu, tanggal itu, 10 juni 2011, tepat satu tahun dimana kamu mengatakan janji itu, janji tuk kita bersama. Tapi hari itu, pagi itu, tanggal itu, 10 juni 2011, hari terakhir kita berhubungan. Akhirnya, kamu benar-benar menepati janji kamu. Kamu benar-benar melakukan apa yang kamu katakan. Seperti lirik lagu itu “nyanyikan lagu indah sebelum kupergi dan mungkin tak kembali, nyanyikan lagu indah tuk melepas ku pergi dan tak kembali”. Yah.. kamu benar-benar pergi dan akan ku anggap kau takkan pernah kembali. Karena kita hanya sebatas bayangan yang takkan pernah bisa menjadi nyata.
Lagu itu, iya, lagu itu, kamu minta aku menyanyikan sebuah lagu kan? Seperti janji aku dulu, apabila kamu minta aku buat menyanyikan sebuah lagu sebagai perpisahan kita, maka ku akan menyanyikan lagu ini, “when u walk away I count the step that u take, do u see how much I need u right now?” when u’r gone, song by Avril Lavigne.
Hari itu… kenapa harus hari itu…? Tanggal 10 juni 2011. Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku yang ke-20. Kenapa saat terakhir kita harus terjadi pada tanggal itu..? menjelang tepat satu setengah tahun perjanjian yang pernah kita bikin dulu.
Di sini aku ngerti, cinta bukanlah sebuah perjanjian, cinta bukan sebuah bayangan, mencintaimu bagiku berarti mencintai sebuah bayangan. Dan itu takkan pernah abadi. Seperti kita yang tak abadi. Kita berbeda, kita tak bisa bersama, aku tak bisa bertahan disampingmu karena kita berbeda. Perbedaan yang hanya atas izin Allah kita bisa bersama…
Sekarang, hari ini, saat ini, 22 juni 2011 pukul 12.30 am aku katakan kita berakhir, cukup semua sampai di sini,  anggap kita tak pernah saling mengenal, anggap kita tak pernh saling mengingat, anggap kita hanya sebuah bayangan dalam mimpi sebagai bunga tidur yang saat kita terjaga semua lenyap. Lenyap seperti asap yang tak berbekas saat membumbung tinggi ke angkasa.

Untukmu, Mr. GAJEku

Selasa, 06 Desember 2011

(artikel) CURHAT MELALUI CERPEN DENGAN KEMAMPUAN MENULIS


Curahan hati atau yang biasa disingkat dengan curhat tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita apalagi kalangan remaja yang akrab dengan bahasa-bahasa gaul atau istilah seperti itu. Curhat merupakan kata kerja dari kegiatan orang yang  mencoba mengeluarkan uneg-uneg atau masalah yang ia pikirkan.
            Cara untuk curhat ini pun beragam, ada yang bercerita langsung dengan orang yang dipercaya seperti kepada sahabat, ibu atau saudara (karena menganggap curhatnya ini masalah pribadi yang sangat rahasia). Juga bercerita dengan memanfaatkan berbagai media yang tersedia seperti di radio pada program khusus curhat. Bahkan sekarang acara televisi pun ada yang menayangkan reality show tentang curhat melalui hipnotis. Orang-orang yang bisa mengungkapkan masalahnya secara terbuka ini biasanya karena mereka ingin berbagi bersama orang lain mengenai pengalamannya atau juga karena mereka ingin meminta bantuan orang lain untuk memecahkan masalahnya tersebut.
            Selain dengan cara bercerita langsung seperti di atas, curhat juga bisa melalui tulisan. Media ini dipilih oleh orang-orang yang mungkin merasa berat untuk menceritakannya secara langsung atau terbuka. Curhat melalui tulisan sudah kita jumpai sejak zaman dahulu kala. Dari yang paling sederhana dengan menuliskan di buku harian sampai yang sangat modern dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat pada masa sekarang ini seperti curhat di grup-grup yang tersedia pada jejaring sosial, atau pada blog pribadi. Biasanya curhat-curhat dengan media seperti itu hanya berisi catatan-catatan kecil atau cerita-cerita singkat tanpa alur atau kronologis cerita yang jelas.
            Kita tidak bisa memungkiri bahwa dari catatan-cataatan kecil seperti itu dapat mengasah kemampuan kita dalam menulis. Menulis yang dimaksud di sini adalah menulis karya-karya fiksi berupa novel atau cerpen  yang merupakan bagian dari karya sastra. Karena sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (M. Atar Semi 1988: 8). Dari pengertian tersebut tentunya kita mendapat gambaran yang jelas bahwa curhat-curhat yang pernah kita dengar atau kita alami dapat dikembangkan menjadi sebuah novel atau cerpen.
            Banyak novel atau cerpen yang kita baca terinspirasi dari kisah-kisah nyata, baik itu dari pengalaman langsung penulis maupun pengalaman orang lain. Bahkan ada orang yang menuliskan curhatnya kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerpen atau novel. Seperti yang kita tahu, curhat biasanya cerita-cerita mengenai perasaan si penutur terhadap orang lain. Sehingga cerita-cerita dari curhat ini lebih tepat dituangkan ke dalam bentuk cerpen. Karena cerpen atau cerita pendek menurut Satyagraha hoerip (1979) adalah karekter yang “dijabarkan” lewat rentetan kejadian daripada kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu. Apa yang “terjadi” di dalamnya lazim merupakan suatu pengalaman atau penjelajahaan. Dan reaksi mental itulah yang pada hakikatnya disebut cerpen. Di dalam sebuah cerpen unsur perwatakan lebih dominan daripada unsur cerita itu sendiri (M. Atar Semi 1988: 34).
            Apabila kita berminat, kita juga bisa mengembangkan curhat-curhat kita menjadi sebuah cerpen. Dengan sedikit menambah bumbu-bumbu pada bagian ceritanya, kita pasti akan mendapatkan sebuah cerita yang memuaskan. Apalagi cerpen yang berasal dari pengalaman pribadi tentu akan lebih berkesan dan lebih hidup dibanding dengan cerpen yang hanya berupa khayalan penulisnya semata.
            Kemampuan menulis bukanlah semata-mata milik golongan berbakat menulis. Siapa saja dapat menulis apalagi kalau hanya menulis cerpen. Tentunya kemampuan ini di dapat dengan latihan yang terus-menerus dan dimulai dari hal yang paling sederhana.
            Bagi yang ingin mencoba menuliskan curhatnya menjadi sebuah cerpen, adapun tahap-tahap yang harus dilalui dalam menulis cerpen. Tahap-tahap tersebut terbagi menjadi lima tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pengendapan, tahap pembulatan inspirasi, tahap penulisan, dan yang terakhir tahap revisi.
            Pada tahap persiapan kita harus menetapkan pokok pikiran yang akan diungkapkan atau pokok perasaan yang akan diekspresikan. Bagi kita yang ingin menulis cerpen berdasarkaan curhat atau pengalaman yang pernah dialami sendiri atau dialami oleh orang lain tentu akan lebih mudah dalam menentukan pokok pikiran atau hal apa yang akan ditulis.
             Berdasarkan pokok pikiran dan pokok perasaan yang dirasakan, kita dapat langsung memilih genre / jenis cerpen yang paling sesuai sebagai sarana pengungkap atau pengekspresian. Sebaiknya didasarkan pada kemampuan paling dominan yang kita miliki (paling disukai atau paling dikuasai secara teknis).
Pada tahap pengendapan (inkubasi), kita harus mengerahkan segenap potensi kreatif  yang dimiliki agar dapat dengan mudah mengungkapkan pikiran dan mengekspresikan perasaan itu secara tertulis. Agar kita dapat mengungkapkan pokok pikiran dan pokok perasaan dengan mudah tentunya kita harus menambah wawasan seperti dengan cara membaca sebanyak mungkin bahan-bahan tertulis yang isinya berhubungan langsung dengan apa yang ingin diungkapkan atau diekspresikan secara tertulis. Selain itu kita juga harus melakukan pengamatan yang lebih intensif atas segala sesuatu yang berhubungan erat dengan  pokok pikiran atau pokok perasaan yang akan dituliskan dalam bentuk cerpen.
            Tahap selanjutnya adalah tahan pembulatan inspirasi. Pada tahap ini, pikiran yang akan diungkapkan dan perasaan yang akan diekspresikan sudah mulai memasuki proses pengkristalan di wilayah bawah sadar, sudah mulai terbentuk secara imajinatif, dan sudah siap untuk dituangkaan secara tertulis dalam bentuk cerpen yang masih kasar.
            Kemudian adalah tahap penulisan. Pada tahap penulisan ini kita yang ingin menulis cerpen hanya akan menulis segala sesuatu yang selama ini dipikirkan dan dirasakan pada tahap-tahap pengendapan dan pembulatan inspirasi. Semuanya dituangkan secara tertulis tanpa kontrol diri sama sekali, spontan, penuh gairah, tanpa pertimbangan rasio, tanpa penilaian tepat tidaknya, tanpa penilaian baik buruk, tanpa nalar dan tanpa-tanpa lainnya. Tidak ada kegiatan lain yang dilakukan pada tahap ini kecuali menulis, menulis, dan menulis.
Setelah selesai ditulis, draf naskah yang masih kasar kita biarkan saja selama beberapa hari tanpa disentuh atau dibaca sama sekali. Selain bertujuan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan yang sudah lelah bekerja untuk menyelesaikan tahap 1, 2, dan 3. Penyimpanan draf naskah kasar tersebut juga dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan hubungan emosional yang sudah begitu dekat antara kita dengan draf naskah cerpen yang masih kasar itu.
Tahapan yang terakhir yaitu tahap revisi. Tahap revisi dilakukan setelah hubungan emosional pada saat penulisan dengan draf naskah kasar cerpen terputus sekian lama. Perevisian dilakukan agar cerpen yang ditulis benar-benar bisa menjadi cerpen yang baik sesuai dengan keinginan kita selaku penulis.  Hal-hal yang terjadi pada tahap revisi ini biasanya adalah membuang kosa-kata yang dinalar tak perlu, dan menambahkan segalaa sesuatu yang dianggap perlu, pemindahan kosa kata, pemotongan, penambahan, penyulaman, dan penjahitan ulang yang dirasa perlu sesuai dengan pertimbangan rasio, nalar, etika, estetika, dan lain-lain. Demi pertimbangan semuanya itu, jika dirasa perlu maka bukan hal yang mustahil kita terpaksa akan melakukan penulisan ulang terhadaap cerpen tersebut dari awal.
 Setelah memahami tahapan-tahapan tersebut kita tentu akan lebih mudah dalam menulis cerpen. Walaupun dalam menulis cerpen terdapat beberapa tahapan yang tersusun rapi, akan tetapi dalam prakteknya tahapan-tahapan tersebut tidak dapat disahkan secara jelas, melainkan sering bertumpang tindih. Pada saat kita membuat persiapan, mungkin kita sudah mulai menulis, sedangkan pada saat menulis mungkin juga sambil melakukan revisi di sana-sini.
Mungkin dalam memulai cerpen, para pemula yang ingin mencobanya tentu menemui berbagai macam kendala. Kendala-kendala tersebut biasanya terletak pada pendeskripsian baik itu tokoh, latar, maupun alur. Pendeskripsian yang baik akan membuat cerita lebih nyata dan pesan yang ingin diungkapkan akan lebih sampai kepada pembaca. Karena melalui deskripsi berarti kita mengajak pembaca ikut merasakan apa yang kita rasakan, ikut melihat apa yang kita lihat, dan ikut mengalami apa yang kita alami.
 Untuk sedikit membantu dalam pendeskripsian itu kita tentunya harus terlebih dahulu mengenali apa yang akan kita deskripsikan tersebut berdasarkan ciri-ciri yang dimiliknya. Pendeskripsian harus dituturkan secara berurutan, tidak meloncat kesana kemari. Hal ini tentunya bertujuan agar penggambaran tersebut bisa ditangkap dengan jelas oleh pembaca. Adapun yang dideskripsikan dalam cerpen biasanya adalah mengenai tokoh, latar atau setting, serta alur cerita atau kejadian.
Cerpen sudah pasti terdiri dari sejumlah peristiwa atau kejadian yang dialami oleh para tokoh cerita yang beraksi atau bereaksi. Sebelum mendeskripsikan tokoh tersebut sebaiknya kita terlebih dahulu mengetahui penggolongan-penggolongan tokoh yang dibedakan menjadi tiga.
Yang pertama berdasarkan peranannya, terdiri dari : tokoh utama, tokoh pembantu, daan tokoh tambahan (Mido 1994: 36). Kemudian berdasarkan perwatakannya, terdiri dari (1) tokoh statis (tokoh yang wataknya tidak berkembang, pada umumnya berstatus sebagai tokoh pembantu), (2) tokoh dinamis (tokoh cerita yang wataknya berubah-ubah, berkembang dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dan dari situasi yang satu ke situasi yang lain), (3) tokoh datar (tokoh yang wataknya ditampilkan secara terbatas. Tidak semua wataknya digambarkan, hanya watak yang diperlukan saja yang digambarkan), dan (4) tokoh bulat (tokoh yang digambarkan secara lengkap, unik, kompleks, berubah-ubah dalam arti berkembang dan meliputi segala aspek kehidupannya (mido 1994: 38-39). Dan yang terakhir berdasarkan fungsi penampilannya, terdiri dari : tokoh protagonis atau tokoh yang dikagumi, seorang pahlawan (hero), tokoh dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ideal. Serta tokoh antagonis yaitu tokoh yang menjadi lawan tokoh protagonis, tokoh yang menjadi penyebab terjadinya konflik dalam sebuah karya sastra (Nurgiyantoro, 2000: 178-179).
Menurut Sudjiman (1992: 22-26), ada tiga cara yang bisa dipilih untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita, yaitu (1) metode diskursif, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menceritakan tokoh cerita melalui paparan langsung (eksplisit), atau melalui komentar langsung pengarang. (2) metode dramatik, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menciptakan tokoh cerita melalui paparan tidak langsung (implisit) atau melalui komentar tidak langsung pengarangnya. (3) metode kontekstual, yaitu metode penokohan yang menyajikan watak atau menciptakan tokoh cerita melalui pemakaian gaya bahasa yang dipilih pengarang dalam memaparkan pikiran, perasaan, cakapan, dan lakuan tokoh cerita.
Penggambaran mengenai tokoh-tokoh tersebut biasanya berdasarkan dimensi fisiologis (penggambaran ciri-ciri fisik tokoh cerita meliputi ciri-ciri umum dan ciri-ciri khusus), dimensi sosiologis (penggambaran ciri-ciri sosial tokoh cerita), serta dimensi psikologis (penggambaran ciri-ciri psikologis tokoh cerita).
Berikutnya adalah mengenai pendeskripsian latar. Latar dalam sebuah cerpen terdiri dari : latar waktu, latar tempat, dan latar suasana (latar situasi). Latar waktu terdiri dari : (1) masa kini, (2) masa lalu, (3) masa depan, dan (4) masa tak tentu. Latar tempat terdiri dari : (1) tempat yang dikenal, (2) tempat tak dikenal, dan (3) tempat khayalan. Latar suasana terdiri dari : (1) suasana alamiah, (2) suasana sosial budaya, dan (3) suasana batiniah.
Khusus untuk latar tempat, ada 7 unsur fisik yang sering digambarkandi dalam cerpen, yakni, sejarah asal-usul tempat, akses jalan yang tersedia dan sarana transportasi yang dapat digunakan untuk masuk dan keluar dari tempat itu, keadaan atau lingkungan yang dominan, komposisi penduduk berdasarkan sistem mata pencaharian mereka, pola pemukiman penduduk, fasilitas umum yang tersedia, dan fasilitas khusus yang tersedia.
Yang terakhir adalah pendeskripsian urutan peristiwa cerita. Sebuah cerpen sudah pasti terdiri dari sejumlah peristiwa yang dialami oleh para tokoh cerita. Jelasnya, tanpa tokoh mustahil ada cerita tak ada pula karya sastra. Urutan peristiwa cerita yang sambung menyambung dalam sebuah cerpen lazim disebut alur cerita. Urutan penting dalam alur cerita adalah hukum sebab-akibat. Jalinan cerita yang tidak menimbulkan hubungan sebab-akibat tidak bisa dinamakan alur cerita.
Alur ceita rekaan (termasuk di dalamnya : cerpen) terdiri dari lima bagian, yakni : (1) beberapa mula (introduksi atau eksposisi), (2) penggawatan (komplikasi), (3) puncak kegawatan (klimaks), (4) peleraian (antiklimaks), dan (5) penyelesaian (konklusi akhir).
Setelah memahami beberapaa penjelasan di atas mengenai penulisan cerpen, tentunya diharaapkan kita akan semakin mudah dalam membentuk curhat-curhat yang ingin diungkapkan ke dalam bentuk sebuah cerpen.