SURAT
UNTUK AI
Masih di tempat ini. Tempat
terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Hari itu, jumat sore tanggal 2
Desember. Kulihat air matamu mengalir begitu aja. Ah. Bukan begitu aja. Segala
sesuatu terjadi pasti ada sebabnya kan? Sebab air mata itu lagi-lagi adalah
aku. Untuk kedua kalinya kamu nangis karena ulahku. Kali ini adalah karena aku
yang ingin pergi darimu, pergi dari hidupmu, dan pergi dari duniamu. Bukan
karena aku yang tidak mau peduli sama kamu lagi, bukan karena aku yang capek
menghadapi kamu. Bukan, bukan semua itu alasan kenapa aku ingin pergi. Tapi
karena aku yang sudah lelah menanggung rasa bersalah atas semua masalah yang terjadi
dalam hidupmu. Semua itu terjadi karena keberadaanku.
Aku lelah menanggung semua beban
itu, teramat lelah malah. Walau aku tau, kamu pasti tidak akan pernah mau menyalahkanku.
Kamu pasti tidak akan pernah bisa marah sama aku walau sebesar apapun kesalahan
yang udah aku lakuin sama kamu. Kamu terlalu
baik untukku. Kamu terlalu baik untuk mendapingiku melewati smua ini.
Kamu terlalu baik.
Suara Avril Lavigne terdengar
mengalun merdu membawakan lagunya I will Be. Mengiringi setiap hembusan
nafasku. Mengingat kejadian di hari jumat sore itu membuatku ikut meneteskan
air mata.
Semua terjadi terlalu singkat.
Pertemuan kita, perjalanan kita, cerita kita, sampai kekeputusanku untuk hilang
dari hidupmu. Aku pikir ku cukup kuat untuk bertahan di sini menemanimu.
Ternyata aku tidak sekuat itu. Aku menyerah dengan keadaan ini. Keadaan yang
selalu melahirkan masalah karena aku.
“Kamu beneran mau menghilang
Na?” pertanyaanmu waktu itu. Sebuah pertanyaan yang akan mengawali air matamu.
“Kalau ini yang tebaik buat
kita. Aku gak bisa ngapa-ngapain lagi Ai.” Jawabku singkat.
Ah, kenapa aku harus mengatakan
itu. Tapi aku harus jawab apa? Hanya itu yang ada dipikiranku. Dan memang itu
kan alasanku untuk pergi. Untuk hilang.
Kamu diam, aku diam, kita hanya
diam. Kurangkul bahumu, berusaha menenangkanmu, berusaha meyakinkanmu kalau
semua akan baik-baik aja. Walau perlahan air mata itu sudah mulai tidak
tertahan keluar dari pelupuk matamu. Semua terasa terlalu berat untukmu ya?
Semua ini memang berat. Bukan hanya untukmu, untukku juga. Tapi salah satu di
antara kita harus ada yang memulai. Harus ada yang kuat.
“Kamu harus kuat Ai. Semua akan
baik-baik aja. Semua nggak sesulit yang kamu pikir kok.” Kataku sambil berusaha
tersenyum.
“Tapi kalau kamu hilang, aku
bakal sendirian lagi Na. Sendiri lagi.”
“Kamu gak pernah sendirian Ai.
Kamu harus yakin kalau Tuhan gak akan pernah ninggalin kamu sendirian. Tuhan
pasti akan ngasih kamu seseorang buat gantiin aku. Kalau kamu yakin, semuanya
akan menjadi lebih mudah Ai. Ingat, kamu nggak pernah kehilangan aku. Aku bukan
orang baik, kamu harus mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.” Kataku
sambil mengusap air mata dipipimu dengan jariku, dan merangkulmu semakin erat.
Aku gak mau kamu merasa sendiri dalam menghadapi situasi ini. Walau mungkin ini
yang terakhir kalinya aku memeluk dan mengusap air matamu.
Kini aku disini. Masih di
tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan
itu.
Entah apa yang aku pikirkan
saat aku memutuskan untuk pergi ketempat ini. Keputusanku untuk hilang kali ini
terasa lebih berat. Lebih berat karena kamu mengetahuinya. sehingga semua
menjadi seperti sebuah perpisahan.
Aku hanya ingin hilang. Hilang
begitu aja. Aku tidak ingin kamu tau semua rencanaku. Karena aku nggak mau
nantinya semua akan terjadi seperti ini. Tapi semua sudah terlanjur terjadi
kan? Kamu sudah terlanjur mengetahuinya. kamu sudah terlanjur menanyakannya.
Dan aku sudah terlanjur mengatakannya.
Kini aku disini. Masih di
tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan
itu.
Aku pergi ketempat ini karena
merasa sesuatu terjadi di luar kendaliku. Situasi ini sudah mulai tidak
terkontrol. Aku tiba-tiba merasa takut. Takut kalau-kalau ini akan menjadi yang
terakhir di antara kita.
Ah, kalau aku tiba-tiba bertemu
deganmu di tempat ini, aku rasa aku tidak sanggup untuk mengatakan semuanya.
Kini aku disini. Masih di
tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan
itu.
Di sini, di tempat ini, tempat
terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu, aku menulis
surat untukmu. Surat yang mungkin menjadi surat perpisahan, permohonan maaf,
dan bisa menjadi surat terakhirku untukmu. Kubaca berkali-kali surat itu
sebelum sampai ketanganmu.
Dear Ai,
teman terbaikku
Ai,
maafin Na ea karena udah nulis surat ini buat Ai. Na nulis ini karena Na ngerasa
gak sanggup buat bilang langsung ke Ai.
Ai,
Na ngerasa ada yang berbeda dengan keputusan Na hilang kali ini. Entah kenapa
semua nggak bikin Na merasa lebih baik. Nggak bikin Na ngerasa nyaman. Na malah
takut Ai. Takut banget. Nggak kayak waktu Na ilang kemarin dulu itu yang bikin
Na ngerasa tenang.
Na
takut hari jumat itu adalah hari terakhir pertemuan kita. Karena semua terjadi
seperti sebuah perpisahan. Na takut Ai.
Tapi
Ai, kalau ini menjadi yang terakhir di antara kita, gpp kan Ai? Ai harus ikhlas
ea. Na juga akan berusaha untuk ikhlas kok Ai, walau sepertinya susah.
Ai,
maafin Na ea. Selama ini Na udah terlalu banyak bikin salah sama Ai. Kesalahan
Na kali ini begitu besar Ai. Walau Ai selalu maafin Na bagaimanapun besarnya
kesalahan yang Na bikin sama Ai, tapi untuk kali ini Na ragu kalau Ai masih mau
maafin Na.
Na
ngerasa gak pantas ada di samping Ai. Ai udah terlalu baik sama Na. Ai udah
terlalu sering maafin Na. Na ngerasa udah gak pantes lagi buat nerima itu semua
Ai. Ai terlalu baik buat Na.
Setiap
ngeliat Ai, Na semakin yakin kalau Ai terlalu jauh untuk bisa Na gapai. Na
melihat Ai ibarat bintang yang terus berpendar di atas langit sana, sedangkan
Na hanya sebatang rumput yang ikut menikmati indahnya sinar Ai. Hanya sebatang
rumput Ai. Mana pantas sebatang rumput berteman dengan sebuah bintang yang
begitu indah seperti Ai. Gak pantas Ai. Gak pantas.
Makasih
ea Ai karena selama ini Ai udah mau nemenin Na. udah bikin Na ngerasain
kebaikan Ai. Udah bikin hidup Na berwarna. Udah ngajarin Na banyak hal tentang
persahabatan dan berbagi. Makasih Ai. Makasih banget. Semua terasa menjadi
lebih ringan tiap kali Ai ada di samping Na. Ai udah ngajarin Na gimana caranya
untuk kuat. Na pasti bakal kangen itu semua.
Makasih
banyak ea Ai untuk semuanya. Maafin Na juga kalau Na selalu bikin masalah dalam
hidup Ai. Na harap Ai masih mau maafin Na untuk kesalahan Na yang terakhir.
Kesalahan terbesar yang udah Na lakuin sama Ai. Walau Na gak terlalu banyak
berharap.
Makasih
atas semua kata maaf Ai selama ini.
Kalau
ini jadi yang terakhir di antara kita, Ai harus ikhlas ea.
Ai
harus tetap tersenyum seperti bintang yang tak pernah bosan bersinar. Ai harus
tetap bersinar di atas sana.
Makasih
atas semua kata maaf Ai selama ini.
Salam sayang selalu
Temanmu
Na
^,^
Kini aku disini. Masih di
tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata pisahan itu.
Kubaca lagi surat itu untuk
yang terakhir kalinya sebelum Kulipat dengan perlahan dan rapi. Serapi mungkin.
Serapi persahabatan kita selama ini. Kutatap jauh ke depan sana. Mencoba
mengingat kembali pertemuan terakhir kita. Seperti isi suratku, andai ini jadi
yang terakhir diantara kita, aku ingin kamu bisa ikhlas menerimanya. Dan semoga
pertemuan terakhir kita waktu itu menjadi perpisahan yang indah. Walau aku tau,
nggak akan pernah ada sampai kapanpun
perpisahan yang indah.
Sebelum kumelangkah pergi
meninggalkan tempat ini, kutitipkan surat itu kepada penjaga tempat ini.
Seseorang yang mengenal kita cukup baik. Seseorang yang selalu menjadi saksi
tentang apapun yang terjadi di antara kita selama ini.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat
terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata pisahan itu. Dan mungkin ini
akan menjadi yang terakhir kalinya aku kesini. Aku mulai melangkah pergi.
Melangkah dengan pasti. Meninggalkan tempat ini jauh di belakangku. Meninggalkan
semua kenangan yang tertinggal di belakangku. Aku harus pergi. Pergi ninggalin
itu semua agar kita bisa hidup lebih tenang.
Suara Avril yang dari tadi
membawakan lagu I Will Be sudah sampai pada lyric yang terakhir.
I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling
apart
And All my life, you know I’ll
be with you forever
To get you through the day
And make everything okay.