Pukul 7.10 malam bel tanda masuk
berbunyi. Kursi-kursi kosong mulai terisi satu persatu. Mereka adalah teman-temanku satu kelas yang mengikuti
bimbingan belajar tambahan di luar sekolah.
Selasa
malam. Malam ini jujur aku penasaran menunggu siklus dua mingguan. Mata
pelajaran bahasa Indonesia. Kira-kira ibu guru nyetrikku mau melakukan
pertunjukan apa lagi untuk merefresh otak kami yang sedikit lelah karena
belajar terus-terusan. Kenapa aku menyebutnya
siklus 2 mingguan? Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena jadwal mata
pelajaran wajib yang satu ini hanya setiap dua minggu sekali. Dua minggu lalu
untuk pertama kalinya Bu Nani – begitu kami menyebutnya – tiba-tiba masuk
dengan nada salam yang berbeda dari biasanya. Menyapa dengan nada cepat,
berbicara pun demikian layaknya penyiar-penyiar radio. Selain itu, sebelum
belajar kami disuguhi dua buah lagu terlebih dahulu. Wah.. rasanya memang
seperti nonton siaran radio secara live. Live.
Iyah,
live (sengaja di ulang biar jelas). Penyiarnya tepat ada di depan kami,
suaranya jelas kami dengar. Kalau bukan live, apalagi namanya?
Kreeek,
buk. Suara pintu di tutup. Tempat dudukku persis di samping pintu yang ada di
belakang. Bu Nani berdiri memunggungi pintu. Terlihat menarik nafas untuk
menenangkan diri.
“Assalamualaikum.”
Teman di sampingku mulai menebak apa yang dikatakan beliau. Tapi guru
perempuanku yang satu ini hanya menggerakkan tangan mengisayaratkan bukan itu
yang ingin disampaikan.
“Selamat
malam?” Usaha temanku lagi masih mencoba menebak. Kali ini masih dibalas dengan
gerakan tangan ditambah gelengan kepala.
“Pasti
suaranya bakal berubah.” Temanku yang lain ikut-ikutan menebak. Hm.. sedangkan
aku? Sungguh mati aku jadi penasaran. Lirik lagu yang pas dengan apa yang
kurasakan. Ckckckckc..
“Malu aku jadi orang Indonesia!” Suara
lantang beliau mengagetkan kami sekelas. Teman yang dari tadi cuek-cuek saja langsung menoleh kebelakang demi melihat apa
yang terjadi. Masa tiba-tiba guru bahasa Indonesia bilang kalau dia malu jadi
orang Indonesia? Bukankah aku, kamu, kami, dan beliau warga negara Indonesia?
Selain itu juga tidak ada tanda-tanda kalau Bu Nani hasil dari Naturalisasi
seperti pemain-pemain bola.
“Ketika di Pekalongan, SMA
kelas tiga / Ke Wisconsin aku dapat beasiswa / Sembilan belas lima enam
itulah tahunnya / Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia.” Nada suara itu tambah lantang menggema di
ruang kelas kami. Dengan tatapan tajam yang seakan menusuk mata. “Negeriku baru enam tahun
terhormat diakui dunia / Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda / Sahabatku sekelas, Thomas
Stone namanya, / Whitefish Bay kampung asalnya / Kagum dia pada revolusi
Indonesia.” Oow.. aku baru sadar kalau ternyata
kalimat-kalimat yang beliau bacakan tadi adalah sebuah larik puisi. Menatap kami
satu persatu sambil berdeklamasi.
Dengan seksama kami perhatikan larik
demi larik yang beliau bacakan. Tentang kebanggan teman tokoh aku dan tentu
saja tentang kebanggan tokoh aku itu sendiri.
Kali ini larik-lariknya terdengar lirih. “Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya
di dunia nomor satu, / Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang
susah dicari tandingan, / Di
negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,” Bait demi bait yang beliau bacakan mulai berisi tentang
kebobrokan negeri.
“Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar,
alat-alat ringan, senjata,
pesawat tempur, kapal
selam, kedele, terigu dan peuyeum
dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung
jas safari,” Tentang korupsi. Ah ya. Bukankah
akhir-akhir ini sedang ramai tentang korupsi daging impor. Milyaran bahkan
triliunan lebih masuk ke dalam kantung pribadi. Belum lagi tentang pembangunan
sarana olahraga yang dilakukan sendiri oleh anggota partai. Ironisnya, partai
tersebut dalam kampanyenya menjunjung tinggi anti korupsi, nyatanya..? hm..
betapa munafiknya manusia-manusia di negeri ini.
“Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri,
anak jenderal, anak
sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,” wah, inilah yang
terlihat di masyarakat. Sebuah tindak nepotisme. Dari sebuah lembaga terendah
sampai tertinggi. Jabatan pemerintah sampai sekolah. Yang lebih disayangkan,
adalah tindak ini terjadi dalam lapisan lembaga milik pemerintah, hal yang
dikelola oleh negara.
Tak
usahlah kita berbicara lembaga atau jabatan pemerintah yang masih jauh untuk
kami gapai sebagai pelajar. Di sekolah sendiri, siswa yang orang tuanya punya
jabatan penting di pemerintahan atau memiliki hubungan ‘istimewa’ dengan pihak
sekolah, akan mudah masuk ke sekolah favorit yang mereka inginkan. Sedangkan
kami para siswa biasa harus bersaing dengan nilai akademik. Dilihat dari
kemampuan, banyak dari mereka memang memiliki kemampuan lebih dibanding kami.
Lebih dalam kemampuan uang dan koneksi. Bukankah sekolah kami sekolah negeri,
milik pemerintah, dikelola negara, bukan milik mereka pribadi. Bukan hanya para
siswa yang dipilih karena hubungan kekerabatan, para guru pun demikian. Bagi
calon-calon guru yang memiliki koneksi bagus dengan pihak sekolah, tak perlu
cemas dalam mencari pekerjaan.
“Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung
rambut pun bersalah perasaan.” Hohoho..
tentang pemilu kali ini. eh, bukankah negera kita baru saja melaksanakan pemilu
yang katanya disebut pesta rakyat. Haha. Pesta rakyat apanya? Bukankah dalam
pesta itu berarti semua rakyat bergembira? Pada kenyataannya, rakyat hanya
diberi kegembiraan fatamorgana. Dipaksa memilih wakil mereka untuk duduk di gedung
dewan. Janji-janji manis wakil rakyat semua seakan membius. Ketika mereka
terpilih, siapa yang akan berpesta? Rakyatkah? Bahkan bukan rahasia umum lagi
bagaimana cara mereka agar terpilih, dari mulai politik uang, sampai manipulasi
suara pemilihan. Jangan berpikir hal ini tidak mungkin dilakukan, bukankah
untuk wilayah terpencil di mana sebagian besar masyarakatnya tidak mengerti
politik, maka tak ada yang mustahil.
Beberapa
hari lalu ditayangkan berita bahwa sekarang sudah menjadi zaman ‘vulgarisasi
politik’. Tindak kecurangan dalam pemilu jelas dilakukan secara
terang-terangan. Membagi-bagikan barang dari uang, bahan sembako sampai
peralatan ibadah dilakukan pada hari pemilihan. Panggung politik tak ubahnya
arena judi, itu yang banyak pakar katakan. Setelah para caleg ini tidak
terpilih, maka rumah sakit jiwa menanti. Bagaimana tidak menjadi stres ketika
modal uang puluhan hingga ratusan juta rupiah menguap begitu saja. Belum lagi
hutang sana-sini demi mencalonkan diri. Tak heran saat orang-orang dengan modal
besar ini terpilih, maka gantian uang kita yang mereka keruk. Hak kita mereka
rampas. Ah.. alangkah lucunya negeri ini.
Alangkah
lucunya negeri ini? Aku jadi ingat film karya aak negeri yang berisi tentang
kritikan sosial dengan judul yang sama. Alangkah
Lucunya Negeri ini. Katanya lulusan sarjana akan lebih mudah mendapat
kerja. Di film ini tidak demikian, dan pada kenyaataan memang demikian. Belum
ada pengalaman, kurangnya koneksi, maka gelar Sarjana Pengangguran pun akan
disandang. Saat para pengangguran ini mulai bekerja sama untuk mengelola para
pencopet, memberdayakan dan membimbing mereka agar berhenti mencopet, orang tua
malah menentang habis-habisan. Niatnya memang baik, tapi keuntungan awal yang
mereka dapat adalah uang hasil dari mencopet. Uang haram. Setelah usaha ini
berhasil, anak-anak yang semula mencopet mulai beralih profesi menjadi
pengasong, mereka lagi-lagi berhadapan dengan aparatur negara. Ketika melakukan
pekerjaan haram, anak-anak ini harus main kejar-kejaran dengan petugas dan
masyarakat. Namun saat memulai mencari nafkah dengan jalan yang lurus,
pemerintah menghadang mereka dengan alasan melanggar hukum. Lalu apa yang harus
mereka lakukan? Ah.. negeri ini memang lucu.
“Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak
terlibat Piala Dunia
demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia
itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India,
Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,”
“Aku
merinding denger puisinya.” Suara temanku tiba-tiba membuyarkan konsentrasi dan
lamunan.
“Sama,
kujuga merinding dengernya.”
“Hahahaha..
tapi bener tuh, kapan ya negara kita bisa lolos ikut Piala Dunia?” tanyanya
lebih kepada diri sendiri. Aku hanya mengangkat bahu. Tanda sama-sama tidak
tahu.
“Langit akhlak rubuh, di atas negeriku
berserak-serak / Hukum
tak tegak, doyong berderak-derak / Berjalan
aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, / Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan
Ginza / Berjalan
aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia / Di sela
khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata / Dan kubenamkan topi baret di kepala / Malu aku jadi orang Indonesia. Karya Taufiq
Ismail tahun 1998.”
Banjarmasin,
14 Mei 2014