Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Senin, 28 November 2011

MISS TROUBLE MAKER THE SERIES


MISS CUEK VS MR.RESE

Samar-samar terdengar suara teriakan ibu membangunkanku. Tapi Entah kenapa hari ini aku malas banget untuk bangun tidur. Sebenarnya bukan hanya malas bangun ,tapi, tapi juga malas untuk melakukan apapun. Sifat malasku ini muncul sejak perceraian ayah dan ibu. Di sini juga ada kakak laki-lakiku. Memang kami tinggal ikut ibu tapi dengan tujuan agar lbu tahu kalau kami sebagai anak benar-benar tidak ingin perceraian ini terjadi.
            “Bu, kak Rio mana?” Tanyaku. Pertanyaan rutin setiap pagi, agar ibu menyadari kesalahannya.
            “Alaah, biarkan saja kakakmu itu mau berbuat apa, toh dia juga tidak mau mendengarkan ibu”.
            “Tapi ibu duluan kan yang berbuat seperti ini, ibu tidak pernah mau mendengarkan kami”.
            “Rika sudahlah, ibu tidak mau selalu bertengkar denganmu setiap pagi begini”. Jawab ibu. Yaah itulah yang selalu dikatakan beliau.
            “Itu karena masalah ini tidak pernah selesai, karena ibu selalu menghindarinya.”
            “Rika!” Kata ibu mulai marah “Coba kamu ngerti ibu, ibu sedang sibuk dengan pekerjaan ibu, nanti ada saatnya kita bicara”.
            “Rika tahu, tapi kapan saatnya itu akan tiba? Hari libur? Nggak mungkin. Satu minggu lagi? 2 minggu? Satu bulan? Beberapa bulan? Atau bahkan tahun depan?”
            “Sudahlah Rika, berhenti marah-marah. Sekarang habiskan sarapan kamu dan berangkat sekolah, ibu mau pergi kerja!” Kata ibu mengakhiri pertangkaran kami, dan beliau meninggalkanku sendiri di meja makan dengan sepotong roti dan secangkir susus hangat.

            Sekarang aku berjalan menuju sekolah. Walaupun terasa berat kaki ini melangkah, tapi tetap kupaksakan demi memenuhi kewajibanku sebagai pelajar. Jarakku dengan pintu gerbang sekitar 15 meter lagi. Aku melihat para siswa berlari menuju gerbang sekolah, karena sebentar lagi akan ditutup oleh satpam. Aku sendiri tetap berjalan dengan santainya, tidak peduli konsekuensi apa yang aku terima apabila aku terlambat. Itu sebabnya aku dijuluki “Miss Cuek” cewek yang tidak mau peduli terhadap diri sendiri apa lagi dengan orang  lain. 5 meter lagi aku akan sampai di depan pintu gerbang. Tapi pagar besi itu sudah tertutup rapat. Dan aku masih berjalan sambil menikmati langkah-langkah kakiku.
            BUK!!
          Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang, kumelihat seorang siswa laki-laki berlari tergesa-gesa melewatiku. Setelah menabrak dia hanya menoleh sebentar kearahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk meminta maaf. Tapi biarlah aku akan balas dia lain kali.
            Akhirnya aku sampai di depan gerbang, berdiri di samping cowok yang menabrakku tadi. Dan sekarang dia sedang memohon-mohon kepada satpam agar diperbolehkan masuk. Tapi permohonannya hanya dibalas dengan kata “tidak!!” Dia melihatku dan langsung membentak karena aku hanya berdiri diam disampingnya. Aku menatapnya dengan tatapan yang mengancam dan cuek. Biar saja dia menganggapku orang aneh.
 Sepertinya dia murid baru di sekolah ini. Melihat ekspresiku yang datar dia kembali melanjutkan aksinya memohon-mohon kepada satpam. Dilihat dari usahanya, 10 detik lagi pintu gerbang akan terbuka. Aku mulai menghitung 10, 9, 8, ….., 3, 2 dan 1. Yupz, sekarang kami berdua boleh masuk ke dalam. Aku dan si murid baru berjalan beriringan di koridor. Dia  menanyakan namaku dengan sedikit kasar. Jadinya dia tak kuhiraukan, akhirnya dia menanyakan letak ruang kepala sekolah. Nah sekarang saatnya balas dendam masalah tadi pagi.
“Lurus aja, di persimpangan pertama belok kanan, mentok sebelah kiri”. mampus rasain lo emang enak masuk gudang.

Aku sampai di kelas ketika pelajaran sudah dimulai. Kali ini aku tidak kena hukuman dengan alasan lebih cepat 20 menit dari biasanya. Sudah hampir 15 menit aku duduk di kursiku di paling belakang sendirian sampai akhirnya Pak Agung yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah masuk kekelasku. Dengan sedikit salam sebelumnya beliau mengatakan  kalau ada murid baru dikelas ini. Aku melihat cowok  yang tadi pagi, tapi aku tidak peduli. Menurutku lebih baik melanjutkan mengerjakan PR.
Murid baru itu memperkenalkan dirinya. Dia bilang namanya Satria. Hmm Satria dari negeri mana? Negeri antah berantah? Ngedumelku dalam hati. Pak agung menyuruhnya duduk di sebelahku, menempati kursi yang tidak pernah ada penghuninya kecuali aku sendiri.
“ Oooo. Jadi nama lo Rika ya? Bagus juga?” Katanya memulai pembicaraan, tapi dia lagi-lagi tidak kuhiraukan.
Hari ini kami disuruh mencatat karena para guru sedang rapat dengan pemilik yayasan sekaligus kepala sekolah. Dan ternyata si murid baru ini orangnya ‘RESE’. Bukan hanya rese tapi SANGAT RESE. Apa yang ada selalu dikomentari sama dia. Pada mulanya aku hanya diam mendengar ocehannya tapi lama-kelamaan anak ini semakin bertambah rese. Dan kekesalanku sudah sampai puncaknya.
Kupukul meja dengan keras. “Eh lo ini bisa diam nggak sih, dari tadi ngomong terus cerewet banget kayak nenek-nenek. Terus mulut lo itu rese banget, tau nggak lo? Sekalian kalo mau ngomong terus mending pindah gih sana gue nggak mau duduk dengan orang rese kayak lo!!!” Semprotku. Seluruh isi kelas hanya terdiam mendengarnya
Tapi dia tidak mau beranjak pergi dan malah mengatakan “NGGAK!!” sambil berteriak kearahku. Mendengar jawabannya yang seperti itu maka kulempar tasnya ke depan. Hal itu membuatnya marah
“Pindah nggak, atau lo mau gue melakukan hal yang lebih parah dari ini?!”. Ancamku
“Coba aja!”. Tantangnya balik.
Kini kekesalanku sudah sampai ubun-ubun. Kuambil botol tinta dari dalam tas dan menumpahkannya ke baju Satria. Baju dan celananya kini dipenuhi bercak-bercak tinta. Terlihat kemarahan yang luar biasa di mata Satria. Dia mengangkat tangannya.
“Apa?!. Lo mau nampar gue? Nih tampar aja sesuka lo?” tantangku lagi
Dengan geram dia menurunkan tangannya dan mengancam akan melaporkanku ke kepala sekolah.
“Laporin aja, gue nggak peduli!” Teriakku
Satria pergi sambil membawa tasnya. Sekarang aku sudah tidak peduli walaupun aku harus dikeluarkan dari sini. Satu keinginanku, aku berharap orang tuaku mengetahui kelakuanku yang mulai kacau ini, agar mereka tahu akibat dari keputusan mereka.
Masalah dalam hidupku bertambah lagi. Bukan hanya masalah dirumah dengan ibu. Tapi di sekolah juga aku harus duduk satu meja dengan manusia paling rese yang pernah aku kenal.
       

I’AM COME BACK


Suara deru mesin sudah tidak terdengar lagi sejak beberapa jam lalu, yang terdengar sekarang hanya suaranya yang samar-samar. Itu tandanya Amsterdam sudah berada jauh d belakangku. Good bye Amsterdam, kataku senang dalam hati. Aku melihat ke luar jendela. Entah di atas negeri mana sekarang burung besi ini terbang. Dari atas sini semuanya tidak terlihat.
Setahun aku berada di Amsterdam. Tinggal bersama kakek & nenek, jauh dari orang tua. Kalau boleh jujur, 1 tahun yang kulalui ini begitu berat. Aku harus tinggal di negeri orang & menjadi orang lain. Tapi sekarang aku sudah bebas, aku bisa kembali menjadi diriku yang dulu.
Satu hal yang tidak bisa aku mengerti. Kenapa sekolah mengirimku untuk mengikuti program pertukaran pelajar ini & kenapa orang tuaku mengijinkanku pergi. Jelas saja semua ini sangat mengganggu pikiranku. Bukankah siswa yang mengikuti program pertukaran pelajar adalah siswa yang memiliki prestasi terbaik di sekolahnya & mampu memberikan cerminan yang baik pula untuk sekolah lain. Sedangkan aku? Kalau orang yang mengenalku, mereka akan berpikir dua kali untuk menyerahkan tugas ini kepadaku. Modal yang kupunya hanyalah nilai akademik yang lumayan bagus di atas rata-rata & kemampuanku menguasai bahasa Belanda juga lumayan walaupun tidak jauh berbeda dengan siswa yang lain. Memang sejauh itu tidak ada masalah. Tapi, bagaimana kalau orang itu adalah si pembuat masalah & sangat bermasalah. Bermasalah dengan segala-galanya.
Yupz... Dia itu aku, si miss trouble maker. Satu tingkat di atas miss cuek. Julukan ini aku dapat setelah aku melakukan tindakan paling nekat pertama yang pernah dilakukan semua orang di sekolah. Aku menyiram dengan sengaja baju anak baru yang duduk disebelahku di hari pertamanya masuk sekolah dengan sebotol tinta yang menjadi penghuni setia tasku. Saat semua dewan guru rapat dengan pemilik yayasan, ayah aku sendiri. Tapi jujur, aku senang melakukannya.
Ada yang setuju dan ada yang tidak dengan pemberian tugas ini kepadaku. Tapi yang paling aku tahu, semua orang senang & bahagia melihatku pergi. Tidak ada lagi miss trouble maker. Itu artinya tidak ada lagi masalah. Yang pasti apabila aku tidak ada maka suasana sekolah akan lebih tenang & tidak ada lagi raut-raut wajah ketakukan. Hehehe...
Sekarang tinggal yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan kelakuanku di Amsterdam? Apakah aku bisa menjaga sikapku? Dan apakah aku bisa mencerminkan sopan santun orang timur yang terkenal sangat tinggi? Ternyata aku punya rasa nasionalisme yang kuat terhadap negeriku. Selama di Amsterdam aku harus benar-benar berubah. Aku harus menjadi orang yang sopan, ramah, baik hati, suka menolong, senang bergaul serta rajin. Selama setahun ini aku benar-benar menjadi siswi yang sempurna.
Tapi itu semua bukan diriku, karena aku bukanlah orang yang seperti itu. Lebih tragisnya lagi yang menyuruhku pergi adalah ayahku sendiri. Entah apa yang terpikir olehnya saat itu. Mungkin lebih baik aku berada jauh dari semua yang mengenalku dan aku bebas berbuat apa saja sesukaku. Karena apabila aku membuat kesalahan maka aku akan di Drop Out dari sekolah. Dari pada aku berada di sekolah dan pura-pura menjadi anak yang baik secara tiba-tiba selama murid dari Amsterdam itu berada disekolahku.
Kupikir itu adalah yang terbaik. Aku pergi dari negeriku, aku pergi meninggalkan semua masalah. Masalah perceraian orang tuaku. Masalah pertengkaran setiap pagi dengan ibu, dan semua masalahku dengan si Mr. Rese. Lagi pula aku juga sudah sumpek dengan kehidupan jakarta yang penuh masalah. Tapi sekarang aku berada dalam pesawat yang membawaku kembali ke kehidupanku sebenarnya.
Sebelum mengepak barang-barangku kemarin, aku sempat membelikan beberapa oleh-oleh untuk ayah, ibu, kak Rio, dan tak lupa untuk si Mr. Rese. Aneh, semenjak aku tidak lagi menyandang gelar miss cuek yang kini berganti menjadi miss trouble maker, aku menjadi orang yang sedikit peduli & perhatian dengan orang-orang disekitarku. Hm...

*****

Pesawat mendarat di Bandara. Untuk pertama kalinya, setelah 1 thn, akhirnya kumenginjakkan kakiku kembali di Jakarta, kuhirup udara Jakarta. Tak kusangka aku sangat merindukan Jakarta.
Aku akan tersenyum dihadapan semua orang di sekolah. Senyum kemenangan karena aku telah menjalankan tugasku dengan sempurna. Jadi, tidak ada alasan bagi pihak sekolah untuk mengeluarkanku dari sekolah.
Aku berjalan memasuki Bandara. Siapa nanti yang akan menjemputku, aku tidak tahu. Paling juga kak Rio, karena hanya dia yang kuberi tahu kalau kepulanganku lebih cepat. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang sepertinya cowok sedang membentangkan poster tinggi-tinggi yg berukuran kurang lebih 50x50 cm, bertuliskan “welcome miss Trouble Maker” dengan spidol warna-warni.
Karena penasaran apakah yang dimaksud itu aku, maka aku berjalan mendekatinya. Aku berdiri dibelakangnya dan menarik-narik secara perlahan kaos biru muda yang dikenakannya. Dia berbalik dan langsung berteriak sambil memelukku.
"Rikaaaaa!!! Gue kangen berat sama lo". Teriaknya.
Aku melepaskan diri dari pelukannya.
"iiih... Kenapa sih lo? Kok elo yang datang jemput gue. Terus, ngapain juga lo bawa-bawa poster kayak gini? Norak tau". Kataku kesal.
"kak Rio lagi ada kuliah, makanya gue yang datang. Kalo soal poster ini, karena gue Mr. Rese, gue mau bikin penyambutan yang heboh buat lo. Masa Mr. Rese bikin acara penyambutan biasa-biasa aja. Rusak dong reputasi gue. Haghaghag...". Jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"heh... Bangga ya lo jadi Mr. Rese?" Tanyaku heran.
"iya dong" Jawabnya dengan bangga.
          Hm... Bener juga apa yang dia bilang. Aku ambil poster itu dari tangannya & menggulungnya, setelah itu kupulkan ke kepalanya.
"Au..." teriaknya sambil meringis. "kenapa lo pukul gue?"
"karena elo Mr. Rese." Jawabku santai. "oh ya, cewek-cewek lo mana? Kok sendirian?" Tanyaku.
"Demi elo, gue tinggalin semua cewek-cewek gue." Katanya gombal.
Mendengar jawabannya itu, maka kupukul lagi dia dengan lebih keras.
"Aaah!! Kenapa sih lo mukul gue lagi?" Tanyanya kesal sambil menampakkan ekspresi bingungnya.
"Karena elo mr. Rese". Kataku lagi.
"Elo ini ya bener-bener miss trouble maker. Baru aja nyampe udah bikin masalah." Katanya.

Dia Satria, teman sebangkuku waktu kelas X. Murid baru yang bajunya aku siram dengan sebotol tinta. Sesuatu yang tidak pernah terpikir olehku, dia menjadi sahabat terbaik sekaligus orang yang paling aku benci karena dia mr. Rese. Hal yang membuat kami bisa saling mengerti satu sama lain adalah karena kami sama-sama membenci sikap kedua orang tua kami yang lebih memfokuskan perhatiannya ke urusan masing-masing ketimbang kami.

"Ka, apa yang pertama bakal lo lakuin disekolah?" Tanya Satria tiba-tiba.
"Gue pengen membangkitkan kembali mimpi buruk 1 sekolah yang sudah lama nggak ada". Kataku berapi-api & penuh semangat.
"KARENA MISS TROUBLE MAKER SUDAH KEMBALI". Kata kami berbarengan sambil tertawa lepas.


THE FIRST DAY

          Sudah sejak tiga minggu lalu tahun ajaran baru dimulai dan kegiatan sekolah berlangsung. Tapi aku baru masuk sekolah pada hari ini karena aku harus menyelesaikan dulu laporan kegiatan sekolahku selama di Amsterdam untuk diserahkan kepada pemilik yayasan sekolah ini. Hanya aku satu-satunya murid yang mendapatkan tugas seberat ini sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dikeluarkan atau tidak dari sekolah.
          Terlalu banyak masalah yang aku buat di sekolah dan aku dikenal sebagai Miss Trouble Maker. Tetapi berat bagi pihak sekolah untuk mengeluarkanku karena nilai akademik dan prestasi yang kudapat cukup membanggakan sekolah. Banyak pihak yang ingin sekali mengeluarkanku dari sekolah tetapi pemilik yayasan tidak ingin melakukannya. Maka dari itu beliau memberikan tugas ini kepadaku, dan apabila aku gagal, aku akan dikeluarkan tanpa ada pertimbangan apapun. Sebenarnya aku diperbolehkan tidak masuk sampai minggu depan untuk menyelesaikan semuanya, tetapi ternyata aku dapat merampungkannya lebih awal. Selain itu aku juga sudah kangen dengan sekolah ini.
          Pukul 7 aku berangkat dari rumah karena telat bangun pagi. Aku berjalan dengan santai menuju sekolah sambil membawa setumpuk berkas laporan di tanganku yang kumasukkan ke dalam map. Penghuni sekolah yang pertama kutemui adalah pak Mamat, satpam sekolahku. Ketika melihatku beliau langsung membuka gerbang sekolah. Hal yang tidak biasa, batinku. Mungkin dia pikir tidak ada gunanya membiarkanku tetap di luar, toh aku juga tidak akan jera. Lagipula ini hari pertamaku masuk sekolah dan bertemu dengannya setelah satu tahun.
          Setelah melewati gapura sekolah, aku melihat poster kecil yang menarik perhatianku di madding sekolah, di sana tertulis “HATI-HATI…!! Miss Trouble Maker Tahun Ini Kembali!!” Aku tersenyum geli membaca tulisan itu sambil membayangkan wajah semua warga sekolah yang mengenalku ketika melihat Miss Trouble Maker kembali dengan sebuah kemenangan.
          Aku berjalan di koridor yang sepi. Suara langkah kakiku terdengar sangat jelas beradu dengan lantai sehingga membuat siswa yang belajar di dalam kelas menoleh ke luar. Walaupun aku sudah bermetamorfosis menjadi Miss Trouble Maker tetapi sifat cuek masih melekat di tubuhku. Sehingga aku tidak peduli tentang pikiran mereka ketika melihatku.
          Di depan jalan menuju kamar mandi aku mendengar suara tawa perempuan. Aku berhenti dan menunggu siapa mereka. Tidak beberapa lama kemudian keluar tiga siswa perempuan dengan dandanan yang agak berlebihan menurutku. Mereka seperti kaget saat melihatku dan menatapku dengan tatapan sinis, sedangkan aku hanya membalas dengan wajah tanpa ekspresi.
          “Eh, ada anak baru nih.” Kata cewek yang berdiri di tengah. Dilihat dari gaya bicaranya, sepertinya dia ketua geng cewek-cewek badut ini.
          Mereka bertiga berjalan ke arahku. Dengan sengaja cewek yang berdiri di tengah tadi menabrak pundakku, sehingga aku dan mapku jatuh ke lantai. Cewek yang berada di sebelah kiri mengambil map itu dari lantai. Cewek yang berada di tengah menerima map tersebut dan mengeluarakan isinya.
          “Kertas apaan nih? Nggak penting banget…!” seru cewek itu dengan nada jijik. Kemudian ia membuang kertas-kertas tersebut ke dalam tempat sampah.
          “Berkas laopran gue…!” Teriakku seketika saat melihat si nenek lampir membuang semua kertas-kertas itu ke tempat sampah setelah diremas-remasnya terlabih dahulu. Kemudian mereka langsung pergi begitu saja.
          Rasanya aku ingin sekali menjambak rambut nenek lampir itu. Tapi pikiranku hanya terfokus pada lembaran-lembaran kertas laporanku yang sudah aku buat susah payah hampir satu tahun, dan kini semuanya lecek, berantakan tak keruan. Kupungut kertas-kertas itu satu persatu. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari arah belakang.
          Saat menoleh, aku melihat seorang siswi cewek dengan potongan rambut yang aneh karena dipotong sembarang dan tidak beraturan, serta menggunakan kacamata yang satu lensanya sudah tidak ada lagi dan satunya lagi retak. Aku benar-benar terkejut dengan perasaan tidak percaya karena cewek itu adalah sepupuku sendiri, Yara.
Yara menceritakan semuanya kepadaku. Ternyata kumpulan cewek badut tadi adalah siswi kelas XI yang menamakan diri mereka The Mighter atau penguasa. Sekelompok cewek yang suka berbuat onar dan seenaknya. Ketua mereka adalah syeily, siswi yang baru pindah pada semester kedua tahun ajaran lalu, anak wakil kepala sekolah. Tidak ada seorang pun yang berani membalas perlakuan mereka apalagi melaporkannya kepada kepala sekolah.
“Kok Satria nggak pernah cerita sama gue?” tanyaku heran.
“Kalo soal itu aku nggak tahu kak, tapi Syeily itu ceweknya kak Satria.”
“Apa?” aku benar-benar kaget. Kenapa Satria menyembunyikan hal ini kepadaku. Tapi sudahlah, aku juga tidak mau terlalu memikirkannya.
Korban terakhir Syeily saat ini adalah Yara, karena Yara melihat syeily dan teman-temannya memukuli siswi kelas XI di halaman belakang sekolah kemarin siang. Dan mereka melakukan hal yang sama terhadapku, seperti yang dilakukannya kepada Yara. Tapi tenang saja, aku akan membalas semuanya. Karena Miss trouble Maker sudah kembali.

Bel istirahat baru saja berbunyi dan Satria terburu-buru keluar dari kelas. Tahun ini aku mendapatkan kelas yang sama dengan Satria dan duduk satu meja dengannya. Awalnya seluruh penghuni kelas kaget melihat kehadiranku, tetapi kekagetan itu langsung berubah menjadi kecemasan. Satria tidak bertanya apa-apa kepadaku, ia tahu kalau wajahku menunjukkan ekspresi masam itu artinya dia bakal dicuekin terus. Jadi nggak ada gunanya buat nanya.
          Istirahat adalah waktu yang tepat untuk beraksi dan memperkenalkan diri kepada semua orang di sekolah. Tujuan pertamaku adalah kelas Yara karena aku membutuhkan bantuannya sekarang.
          Aku berjalan di koridor depan kelas XII. Semua yang melihatku menunjukklan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan teman-teman di kelas tadi. Dari kelas Yara, aku langsung menuj kelas Syeily, tetapi ternyata Syeily and the genk sedang tidak ada di kelas. Itu tidak masalah, untuk sementara aku punya mangsa baru untuk melampiaskan kekesalanku, tas mereka.
Aku mengambil tas-tas itu dan mengeluarkan isinya. Di depan semua mata siswa kelas XI aku membuang tas beserta isinya itu ke dalam tempat sampah. Tidak ada seorang pun yang mampu mencegahku karena semuanya berlangsung sangat cepat.
Tidak ada di kelas, berarti ada di kantin. Itu dugaanku. Yap, ternyata tebakanku benar. Mereka bertiga sedang bercerita tentang kejadian yang baru saja mereka lakukan terhadapku dan Yara tadi pagi dengan penuh kemenangan sambil tertawa cekikikan. Benar-benar seperti nenek lampir.
          Aku dan Yara berdiri di belakang mereka. Di tangan Yara sekarang ada sebuah nampan dengan 5 gelas minuman. Semua pasang mata penghuni kantin melihat ke arahku. Aku mendengar Syeily dan teman-temannya sedang membicarakan sosok Miss Trouble Maker yang tahun ini kembali ke sekolah, tentunya dengan nada dan rasa penasaran.
“Permisi, gue pengen duduk di sini, bisa pindah gak?” Tanyaku polos.
Syeily menjawab tanpa menoleh, “nggak bisa, cari tempat duduk yang lain aja.”
“Nggak mau, gue pengennya duduk di sini, soalnya di sini kan enak. Lagi pula tempat ini kan untuk umum dan ini juga bukan punya kalian.”
“Lo ini kurang ajar banget ya? Elo berani sama gue?” seru syeily sambil berbalik ke arahku. Saat melihatku ia langsung berkata, “Ooooh elo? Elo murid baru yang tadi pagi kan?” Tanya syeily dengan marah.
Adegan ini yang paling aku tunggu, kemarahan dari orang yang akan menjadi musuhku.
“Eh elo?” Balasku dengan tenang, “Elo kan yang udah ngerusakin berkas laporan gue?”
“Kalau iya emangnya kenapa? Elo mau apa?” tantang Syeily. “Kalau mau balas gue, mending sana. Atau elo belum puas dengan yang tadi pagi? Elo mau ditambahin?” sesumbar syeily. Aku hanya diam dan membiarkan dia meluapkan kemarahannya. “Elo belum tahu siapa gue? Emang susah sih ngomong sama anak baru. Gue kasih tahu, di sini ini gue yang punya kuasa. Kalo elo berani sama gue, gue laporin elo sama wakil kepala sekolah dan elo bisa dikeluarin dari sini, soalnya dia bokap gue.”
“Oh, gitu ya? Aduh gue jadi takut nih buat duduk di sini.” Kataku pura-pura takut. Kuambil gelas minuman dan nada bicaraku langsung berubah menjadi garang. “Tapi gue  gak takut buat ngelakuin ini”. Kataku sambil menyiram mereka dengan minuman. Dua temannya pun tidak luput kena sasaran, bahkan masing-masing dari mereka mendapat jatah satu gelas.
Semua yang melihat tidak percaya dengan  apa yang telah aku lakukan. Tidak ada suara apapun saat itu, hanya jerit kekesalan dari tiga cewek geng badut.
“Elo ini emang anak baru yang kurang ajar…! Berani banget sama gue. Dasar cewek sialan…!! Elo nggak takut sama gue?” katanya marah.
“Nggak…!!” Jawabku ketus, “Bahkan untuk dua gelas berikutnya.” Kataku lagi sambil menyiramnya dengan air di gelas terakhir.
“Rika…!! Apa yang lo lakuin?” Teriak seseorang di belakangku. “Ya ampun syeily, kamu kenapa?” pertanyaannya kini terarah kepada Syeily ketika ia melihat baju Syeily yang basah kuyup.
“Ini semua gara-gara anak baru brengsek ini.” Cerca Syeily.
“Eh Satria? Sat, dia ngatain aku anak baru brengsek, jahat kan?” seruku langsung dengan nada dan ekspresi tanpa berdosa seperti anak kecil sambil melingkarkan lengan ke bahu Satria. Tapi Satria melepaskannya dengan kasar.
“Sudah cukup, kelakuan elo ini sudah keterlaluan, Rika. Terserah elo mau nglakuin apa aja sama siapa aja, tapi gue nggak terima kalaun elo ngelakuin ini semua sama Syeily.”
“Lho? Kok elo jadi sensi gini sama gue? Oh iya, gue baru ingat sekarang, kalau Mr. Rese sekolah ini udah punya cewek. Kalau nggak salah namanya Syeily, anak wakil kepala sekolah, cewek paling popular, paling belagu, paling nyebelin, paling sombong, sok berkuasa, dan kayaknya pengen ngegeser posisi Miss trouble Maker di sekolah ini deh.” Kuucfapkan dengan penuh penekanan di sertiap katanya, seolah-olah orang yang kumaksud sedang tidak ada.
Sambungku, “Gue bener-bener nggak nyangka, dari sekian banyak cewek di sini, elo malah milih orang yang seperti itu. Ternyata Satria itu cowok yang gila kekuasaan juga  ya? Untung aja gue bukan siapa-siapa di sini, kalau nggak mengkin elo juga bakal ngejadiin gue cewek lo Sat. Gue yakin banget, pasti dari semua cewek yang pernah jadi pacarnya Satria, si Syeily ini yang paling disayang. Soalnya yang paling gampang buat dimanfaatin.”
PLAK!
Satria tiba-tiba menampar pipi kananku, terlihat kepuasan di mata Syeily, sedangkan aku merasa nyeri di pipi kanan bekas tamparan Satria karena mendapat serangan dadakan.
“Tutup mulut Lo. Elo nggak berhak buat ngomong seperti itu.” Bentak Satria dengan marah.
Sambil mengelus pipi kananku, ku berbicara dengan tenang dan seolah tidak percaya. “Satria nampar gue? Mr. Rese nampar Rika? Rika ditampar oleh Satria untuk pertama kalinya. Gue, Rika, disuruh tutup mulut? Kenapa? Bukannya itu semua benar? Dan gue nggak berhak buat ngomong semua itu?” kemudian kurubah nada suaraku menjadi tegas dan mengancam tanpa ada rasa ragu, “Tapi gue berhak untuk ngelakuin ini”.
PLAK! PLAK!
Aku menampar Satria dua kali, di pipi kiri dan kanan. Semua tersentak kaget. Satria masih ingin melawan, tapi aku langsung mengacungkan telunjukku sebagai ancaman dan menyuruhnya untuk tidak melawan. Satria terdiam menahan marah.
“Oh iya, gue sampai lupa satu hal. Kalian kan udah jadian, gue punya kado spesial nih untuk kalian berdua sebagai ucapan selamat, khususnya untuk syeily.”
Kukeluarkan botol tinta dari saku seragam sekolahku dan memperlihatkannya ke arah Syeily. Kubuka tutup botol tinta itu. Melihat gelagatku, Satria lngsung memegang lengan kananku untuk mencegahku melakukan aksi selanjutnya yang kusebut sebagai ucapan selamat. Kutatap mata Satria dengan tajam dan berteriak, “LEPAS!” Refleks satria melepaskan pegangannya di lenganku. Tanpa banyak basa-basi lagi, kusiramkan tinta itu ke baju Syaily.
Mata syeily dan seluruh orang yang ada di tempat tersebut melotot tidak percaya sambil mengeluarkan jerit tertahan. Hanya Satria yang sepertinya tidak terkejut. Setidaknya itu yang kudapat dari ekspresi wajahnya. Dia pasti sudah tahu apa yang akan kulakukan tadi. Kupukul meja untuk menarik perhatian Syaily agar ia melihat kearahku. Dari mata yang di hiasi eyeshadow tipis dan mascara itu kumelihat keberanian yang mulai pudar.
“Ingat! Jangan pernah membuat masalah dengan si pembuat masalah. Miss trouble maker. Ingat itu!” ancamku.
Aku berlalu pergi dengan meninggalkan sebuah ketakutan di ingatan mereka, khususnya geng The Mighter. Perkenalan diri yang menyenangkan menurutku. Sekarang tidak ada lagi yang penasaran dengan sosok Miss Trouble Maker. Sangat berkesan.
The Mighter hanya berani main bentak di hadapan semua orang, dan melakukan aksinya secara sembunyi-sembunyi. Sedang Miss trouble Maker nggak pernah berbuat secara diam-diam. Dia selalu melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Berarti mahkota Miss Trouble Maker masih berada di kepalaku. Rika, anak pemilik yayasan sekolah ini. Sssssstttt!!! Yang ini rahasia, nggak ada yang boleh tahu. J


Oooops KETAHUAN..!! (1)

          PLAK…!!
          Suara hentakan keras dari kertas-kertas memecah kesunyian di dalam ruangan ini. Belum sampai 2 menit ayah melihat hasil pekerjaanku, dia langsung melemparkannya ke atas meja. Reaksi yang sudah kuduga.
          “Rika…!! Kenapa kamu menyerahkan kertas-kertas yang sudah kotor, lecek dan berantakan seperti ini? Kamu itu seperti merendahkan ayah dan guru-guru di sekolah ini, serta menganggap remeh semua tugas itu. Bukankah dari kecil ayah sudah mengajarkanmu bagaimana cara menyelesaikan tugas dengan baik, bukan seperti ini. Kamu tahu sendiri kalau hasil laporan kamu ini berpengaruh terhadap keputusan kami semua mengenai keberadaan kamu di sini. Rika Rika, ayah tidak habis pikir dengan semua ini.” Kata ayahku marah.
          “Tapi itu semua bukan ulah Rika yah, Rika sudah menyelesaikannya dengan sempurna, tapi….”
          “Tapi apa? Kamu mau bilang kalau ada orang yang dengan sengaja bikin semua laporan kamu ini berantakan? Nggak mungkin Rika, nggak mungkin. Siswa kelas X dan XI mana mungkin berani gangguin kakak kelas mereka. Kalau anak kelas XII, itu lebih tidak mungkin lagi. Ayah yakin, melihat kamu saja mereka tidak mau dekat-dekat, apalagi mencari masalah seperti ini.” Ayah menarik nafasnya.
          “Rika, ayah sengaja memperpanjang liburan kamu agar kamu bisa menyelesaikannya dengan baik.” Suaranya mulai tenang. “kalaupun kamu bisa selesai lebih awal, itu bagus. Tapi jika hasilnya seperti ini, ayah sangat kecewa sama kamu, Rika.”
          Ayah mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, kemudian mengurut keningnya pelan. Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk membela diri. Pembelaan seperti apa yang harus aku berikan. Percuma saja kalau aku bersikukuh jika semua ini bukan perbuatanku, ayah juga tidak akan percaya. Dia pasti menanyakan siapa pelakunya. Lalu aku harus jawab apa? Anak wakil kepala sekolah itu yang sudah melakukannya? Ah. Tidak mungkin, dan aku tidak mau. Aku tidak mau dicap sebagai tukang adu. Lagipula aku sudah menganggap urusanku dengannya selesai.
          “Sekarang apa pembelaan kamu?” Tanya ayah tiba-tiba. Aku hanya menggelang karena tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.
          “Jujur Rika, ayah tidak ingin mengeluarkanmu dari sekolah, tapi di sini ayah harus bersikap adil. Makanya ayah melakukan berbagai macam cara agar kamu tidak dikeluarkan. Tapi apa? Semuanya sia-sia. Seakan-akan kamu sendiri yang ingin keluar dari sini.
          Kamu tahukan Rika, hanya dengan kamu sekolah di sini ayah bisa mengawasi kamu, mendidik kamu, dan membimbing kamu. Kalau kamu pergi dari sini, ayah takut hubungan kita akan semakin jauh.”
          “Ayah kan bisa saja menemui aku dan kak Rio di rumah?”
          “Semua itu sulit Rika. Kamu tahu sendiri setiap kali ayah bertemu dengan ibumu, kami selalu bertengkar.”
          Apa kata Rika yah? Bener kan? Perceraian tidak akan menyelesaikan semuanya. Bahkan malah membuat masalah baru. Rika dan Kak Rio harus tinggal dengan orang tua yang terpisah. Kami harus terpisah dengan ayah. Kami juga selalu bertengkar dengan ibu di rumah. Suasana di rumah benar-benar tidak nyaman. Dan sekarang apakah pertengkaran ayah dan ibu berakhir? Tidak kan?!
          Rika sudah melakukan berbagai macam cara agar kalian berdua ngerti perasaan Rika dan kak Rio, anak kalian berdua, sampai-sampai Rika menjadi seperti ini. Anak yang penuh dengan masalah. Lalu sekarang Rika harus kehilangan kasih sayang seorang ayah hanya karena keegoisan. Kalian berdua memang egois. Rika sudah tidak tahan Yah dengan keadaan seperti ini.”
          Air mataku perlahan mengucur keluar. Kulihat wajah ayah yang menatapku dengan kaku. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Keheningan tercipta kembali di ruangan yang dingin ini. Seperti keadaan kami. Sampai akhirnya suara ketukan pintu dari luar mengembalikan kami ke keadaan yang nyata.

          Aku melihat Pak Agung, wakil kepala sekolahku masuk ke rungan ini bersama dengan syeily dan dua temannya.
          “Pak Hendra, saya sudah tidak bisa lagi mentolerir kelakuan Rika setelah apa yang sudah dilakukannya dengan anak saya dan teman-temannya.” Kata Pak Agung marah dengan suaranya yang menggelegar tanpa basa-basi lagi.
          Aku masih duduk di kursiku dengan tenang sambil menikmati lukisan laut yang tergantung di belakang ayah.
          “Apa maksud Pak Agung?” Tanya ayahku heran.
          “Rika sudah menyiram mereka bertiga dengan minuman. Bahkan anak saya dengan tiga gelas sekaligus ditambah sebotol tinta Pak. Anak ini memang anak yang tidak tahu diri. Baru hari pertama masuk sekolah, dia sudah membuat kekacauan.”
          Ayah menatap ke arahku, “Benar Rika apa yang dikatakan Pak Agung?”
          “Di sini saya tidak mungkin bisa berbohong, karena semua orang melihat apa yang sudah saya lakukan.” Jawabku singkat. Di depan orang-orang sekolah, stiap kali berhadapan dengan ayah, aku memang selalu berbicara layaknya antara murid dan guru, begitu pun sebaliknya.
          “Kenapa kamu melakukan ini semua?”
          “Karena dia dan teman-temannya yang sudah membuat laporan saya kotor dan berantakan seperti itu.”
          “Bohong Pak!” Teriak Syeily, “Saya tidak mungkin melakukan itu, toh tidak ada gunanya juga kan bagi saya? Lagi pula, saya juga tidak kenal dengan dia.”
          “Sekarang Rika, apa ada yang melihat kejadian itu?”
          Aku terdiam. Apa yang harus aku katakana? Siapa yang melihat kejadian itu? Aku sendiri tidak tahu. Aku bisa saja menyebutkan satu nama dari sekian nama siswa yang ada di sekolah ini untuk membantuku. Hanya dengan sedikit gertakan, dia pasti mau nurut. Tapi kalau dia tidak takut sama aku, dan merasa lebih takut terhadap Syeily bagaimana? Atau dia nanti kenapa-kenapa? Aku bukan orang yang seperti itu. Aku bukan pengecut yang suka menyeret orang lain dalam masalahku.
          “Lihat Pak” Pak Agung angkat bicara, “Dia ini memang pembohong, kalau benar anak saya yang melakukannya, dia pasti sudah dapat membuktikannya.”
          “Tunggu dulu Pak.” Ayah menyela Pak Agung. Sekarang ayah bertanya kepadaku, “Rika benar tidak ada yang melihat kejadian itu?”
          Aku diam, Syeily dan teman-temannya saling berpandangan sambil tersenyum mengejek, begitu pula dengan Pak Agung, sedangkan ayah masih menunggu jawabanku dengan alis yang terangkat.
***


          “Ada Pak. Saya!” Teriak seorang perempuan diiringi dengan suara pintu yang di dobrak. Suaranya yang lantang membuat kami semua menoleh ke arah pintu.
          “Yara?” Tanya ayahku bingung.
          “Ngapain lo ke sini Yar?” Bentakku.
          “Pak Hendra?” Tanyanya balik setelah melihat ayahku. “Saya ke sini mau bantuin kak Rika Pak.”
          “Gue nggak perlu bantuan lo. Gue bisa nyeleseiin semuanya sendiri.” Sebenarnya aku hanya tidak mau kalau Yara mengatakan statusku sebagai anak dari Pak Hendra, ayah kandungku, pemilik yayasan sekaligus kepala sekolah di sini.
          “Diam Rika!” Bentak ayah. “Benar Yara kamu melihat semuanya?” Yara mengangguk mantap. Tidak ada rasa takut yang terlihat di diri Yara. “Bisa kamu ceritakan semuanya?” Pinta Ayahku.
          Yara menceritakan semua kejadian tadi pagi. Bahwa dia di cegat oleh Syeily dan teman-temannya saat ingin menuju ke kelas. Suasana sekolah pagi itu sepi karena bel masuk sekolah sudah berbunyi. Yara di seret ke kamar mandi, dan di sana dia menjadi bulan-bulanan Syeily dan teman-temannya. Yara tidak mampu melawan. Sehingga kaca matanya pecah akibat di lempar sembarang oleh mereka, selain itu rambut Yara pun mereka potong asal. Alasan mereka semua melakukan itu terhadap Yara, karena Yara melihat Syeily dan teman-temannya mengeroyok siswa kelas XI waktu pulang sekolah kemarin.
Syeily and the geng baru keluar dari kamar mandi setelah mereka memastikan suasana sekolah benar-benar sepi. Tetapi mereka malah bertemu denganku yang mengetahui aksi mereka. Yara menginti kejadian yang terjadi denganku dari lubang kunci.
“Mereka bertiga dengan sengaja menabrak pundak kak Rika yang berdiri di ujung lorong kamar mandi. Kemudian Syeily melempar kertas-kertas milik kak Rika ke dalam tempat sampah.”
PLAK!
Aku melihat Syeily menampar pipi Yara di hadapan kami semua.
          “Diam lo!” Bentak Syeily.
          PLAK!
          Aku membalas menampar Syeily. “Elo yang diam!”
          PLAK!
          Aku tiba-tiba di tampar oleh Pak Agung. “Sekarang kamu yang diam!”
          “Diam semuanya.” Bentak ayahku sambil memukul meja. “Pak Agung! Kenapa Pak Agung menampar Rika?”
          “Karena dia sudah menampar anak saya Pak!”
          “Itu karena anak Bapak sudah menampar sepupu saya. Makanya dia pantas untuk di tampar.” Belaku.
          “Kamu juga pantas di tampar karena mulut dan kelakuan kamu yang sudah kurang ajar. Itu semua pasti hasil didikan orang tua kamu yang tidak benar.”
          “Pak Agung diam.” Bentak ayahku.
          “Lho? Kenapa saya harus diam pak? Itu semua memang benar kan? Tidak mungkin anak yang kurang ajar seperti dia ini hasil dari didikan orang tua yang baik-baik. Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Iya kan Rika? Di keluargamu pasti ada yang kelakuannya kurang ajar seperti kamu. Kalau bukan ibu kamu berarti ayah kamu.”
          “Diam Pak” Teriakku. Aku sudah tidak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut orang ini. “Pak, Bapak boleh menghina saya sesuka Bapak, tapi saya mohon agar Bapak jangan menghina orang tua saya. Dan saya minta Bapak menarik kata-kata itu atau Bapak akan menyesal karenanya.”
          “Saya tidak akan menarik kembali kata-kata saya dan saya tidak akan pernah menyesal. Karena akhirnya saya bisa meluapkan perasaan saya terhadap kedua orang tua kamu, di hadapan kamu sendiri. Dari dulu saya menyarankan kepada pihak sekolah agar mendrop out kamu dari sekolah. Tetapi tidak ada yang mendengarkan saya. Saya heran, untuk apa sekolah mempertahankan orang seperti kamu yang bisanya cuma membuat masalah.”
          Aku tersenyum sinis ke arahnya. Perlahan-lahan senyumku berubah menjadi tawa yang melengking. Aku tertawa sepuasnya. “Baguslah.” Kataku ke arah Pak Agung, Syeily dan teman-temannya.
          “Pak Hendra, sekarang terserah Bapak mau percaya sama siapa, Pak Agung dan anaknya atau saya dan Kak Rika, keponakan dan anak kandung Pak Hendra sendiri.” Yara menekankan kalimat terakhirnya dan langsung membuat wajah Pak agung serta Syeily menjadi pucat. Sedangkan aku dan Yara tersenyum puas.
          “Aku memang murid baru Pak di sekolah ini, tapi siswa satu sekolah sudah tahu perlakuan kurang ajar seperti apa yang sudah dilakukan Syeily. Memang tidak ada yang berani mengadukannya karena mereka takut jika harus berhadapan dengan wakil kepala sekolah dan beresiko harus dikeluarkan dari sini.” Sambung Yara.
          “Kamu benar Yar, saya akan menindak lanjuti masalah ini dan segera membicarakannya dengan pihak sekolah.”

          Saat itu juga Ayah selaku kepala sekolah dan pemilik yayasan langsung membawa masalah yang terjadi selama ini ke rapat besar. Seluruh dewan guru dan pengurus yayasan langsung membicarakannya. Kabar begitu cepat tersebar, seluruh pihak sekolah ramai membicarakannya. Yang dibicaraka dalam rapat itu bukan hanya tentang masalah yang terjadi pada hari ini, tetapi juga masalah-masalah sebelumnya mengenai Syeily, aku, Pak Agung, dan siswa-siswa lainnya yang ikut terlibat.
          Dua jam kemudian kami semua dikumpulkan di tengah lapangan untuk mendengarkan hasil keputusan rapat. Semua orang terlihat sangat antusias menunggu pengumuan yang akan disampaikan langsung oleh kepala sekolah sekaligus pemilik yayasan ini yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayahku sendiri.
          Sepuluh menit setelah para siswa terkumpul di lapangan, ayahku keluar dari ruangannya diikuti oleh seluruh dewan guru, pengurus yayasan yang dapat berhadir ke sekolah, serta aku, Syeily dan teman-temannya, juga Yara berjalan menuju lapangan.
          Pengumuman yang dibacakan oleh ayahku antara lain, pertama ucapan selamat datang untukku, Naldarika Suhendra, karena sudah kembali dari Amsterdam setelah mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun terakhir. Terlihat semua orang memberikan tepuk tangan untukku tetapi tanpa ekspresi kebahagiaan di wajah-wajah mereka. Hanya ayah dan Yara yang terlihat senang menyambut kedatanganku. Selain itu aku juga secara resmi di terima kembali di sekolah ini, dan dianggap sudah melaksanakan tugasku sebagai hukuman atas perbuatanku selama ini.
          Pengumuman yang kedua yaitu Syeily dan teman-temannya akan mendapat skorsing selama satu minggu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, setelah habis masa skorsingnya ia dan yang lainnya akan menjadi siswa percobaan selama tiga bulan di sekolah ini. Apabila selama masa percobaan itu Syeily dan teman-temannya ketahuan membuat ulah lagi, maka mereka akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Bukan Cuma mereka, aku juga mendapatan skorsing di hari pertamaku masuk sekolah. Tetapi skorsingku lebih ringan, yakni hanya tiga hari tanpa menjadi siswa percobaan setelahnya.
          Pengumuman yang ketiga adalah pencopotan jabatan oleh ayahku terhadap Pak Agung sebagai wakil kepala sekolah. Pengumuman yang satu ini disambut meriah oleh seluruh siswa di sekolah. Tidak ada lagi kepala sekolah yang otoriter dan berat sebelah.
          Pengumuman terakhir adalah pengumuman yang tidak aku sangka sebelumnya akan dikatakan oleh ayahku sendiri. Di depan seluruh penghuni sekolah, ayah mengumumkan bahwa ia memiliki putri di sekolah ini yang bernama Naldarika Suhendra, yaitu aku. Dalam waktu sepesekian detik aku langsung terdiam, begitu pula dengan seluruh siswa yang mendengar pengumuman ini. Beberapa di antara mereka yang mulai sadar langsung merespon dengan mengatakan “hah” di tambah ekspresi tidak percaya, sinis, kaget, dan lain sebagainya. Anehnya aku malah seperti melihat kalau ayah sangat menikmati pemandangan dan keadaan seperti ini.
          Aku melihat keadaan yang mulai tidak terkendali. Semua siswa saling berbisik-bisik membicarakan apa yang baru saja mereka dengar tadi. Untuk menenangkan keadaan, aku pun berinisiatif mengambil alih microfon dan memberikan pengumuman terakhir sebagai penutup.
          “Maaf Pak, sejujurnya saya sangat senang dengan keputusan itu, tapi di lain pihak saya juga merasa berat untuk menerimanya. Sekolah ini sudah sangat baik kepada saya, Pak Hendra dan pihak-pihak sekolah lainnya sudah memberikan kesempatan yang sangat banyak kepada saya sehingga saya masih bisa berdiri di sini sambil membusungkan dada dan kemenangan atas pertarungan terhadap diri saya sendiri. Tetapi saya juga menyadari kekurangan yang saya miliki. Atas kekurangan tersebut dan apa yang telah saya lakukan selama ini, saya rasa saya sudah tidak berhak lagi mendapatkan kebaikan-kebaikan ini. Selain itu juga saya merasa tidak nyaman berada di sini setelah status saya sebagai anak dari pemilik yayasan diketahui oleh seluruh pihak sekolah. Saya akan menjadi serba salah dalam melakukan sesuatu kedepannya nanti. Untuk itu pada hari ini saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai siswa dari sekolah ini. Sekolah yang menuntut keadilan, dan ini adalah keadilan yang berhak saya dapatkan.” Kataku singkat.
 
      Pemandangan yang kali ini aku lihat adalah kekecewaaan di mata ayah. Aku pun langsung memeluk beliau untuk menenangkannya. Tidak lupa juga aku meminta maaf kepada seluruh siswa dan guru-guru di sekolah yang sudah direpotkan atas kelakuanku. Satu hal yang tidak aku percaya, ternyata masih ada beberapa guru dan sebagian siswa yang menangis saat memeluk dan mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Itu artinya aku sudah berhasil menjadi murid yang paling berkesan di sekolah ini. Namaku akan menjadi sejarah di sini dan akan terus di kenang sepanjang masa oleh orang-orang yang pernah mengenalku. Selain itu ayah juga sudah berhasil mendidikku menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawabnya. GOOD BYE..!!
GILA…!!

          Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah Rika. Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya dengan keputusan yang diambilnya. Di hari yang sama dengan hari penyambutan kedatangannya ke sekolah dan dengan kemenangan yang ada di tangan, dia malah mengundurkan diri dan menyatakan keluar dari sekolah.
          Tapi kalau aku jadi dia, mungkin ku juga akan mengambil keputusan yang sama. Gimana nggak coba, kalau kita dapat beasiswa untuk sekolah di sekolah terbaik, di luar negeri sampai lulus kuliah malah. Ku akui Rika itu memang GILA. Dari kelakuannya, keputusannya, cara pikir, bahkan dengan apa yang ada di hadapannya, semuanya GILA. Apapun yang ada di diri Rika adalah sebuah kegilaan. Sesuatu yang tidak bisa langsung di terima dengan akal sehat.
          Tidak terasa mobilku sudah memasuki halaman rumah Rika yang sederhana. Aku ke sini karena sudah janji akan mengantarkan Rika ke bandara bersama kak Rio.
          “Ka, bener lo mau pindah ke Amsterdam?” tanyaku lagi. Pertanyaan yang sudah berulang kali aku tanyakan.
          “Ya iyalah. Emangnya kenapa sih lo nanya mulu?”
          “Nggak. Kalau lo pergi, apa lo bisa bikin orang tua lo balikan lagi? Lagi pula, apa lo gak kasian ninggalin gue sendirian di sini?”
          “Dengar ya Sat. Gue sama kak Rio udah bikin rencana yang hebat buat orang tua gue. Kalau soal kasihan atau nggaknya sama lo, itu hal belakangan. Tapi yang pasti gue bakal kangen banget sama lo Sat, tenang aja.”
          Tenang aja dia bilang. Gimana aku bisa tenang? Sekarang aku sendirian lagi, satu-satunya sahabat, teman yang paling ngertiin aku malah mau pergi. Bahkan tanpa mau mikirin perasaanku sekalipun.
          Aku masih mengemudikan mobil menuju Bandara. Mataku memang masih tertuju ke jalanan, tapi pikiranku melayang-layang entah kemana, memikirkan hari esok tanpa Rika lagi. Sekarang kami bertiga berada dalam kesunyian. Sunyi seperti perasaan kami masing-masing. Sesampainya di Bandara, aku langsung memarkir mobil di tempat yang sudah di sediakan. Kemudian mengikuti mereka masuk ke dalam Bandara. Di depan pintu keberangkatan, kak Rio meninggalkan aku dan Rika berdua untuk saling mengucapkan kata perpisahan.
          “Ka, gue boleh meluk lo buat yang terakhir kali gak?” pintaku.
          “Iiih, apaan sih lo? Malu tahu keliatan….”
          Belum sempat Rika menyelesaikan kalimat penolakannya, aku sudah memeluknya. Kami berdua tidak bisa berkata apapun. Aku melepaskan semua perasan yang ada untuk Rika. Aku benar-benar tenggelam dalam perasaanku sendiri.
          “Rika, gue pengen mengatakan sesuatu sama lo.” Rika berusaha melepaskan pelukanku, tapi aku malah memeluknya semakin erat. “lo diam aja dan dengerin gue.” Bisikku di telinganya.
          “Rika, lo denger kan suara detak jantung gue? Detak jantung gue selalu berdetak gak normal dan lebih cepat setiap kali gue ada deket elo. Entah sejak kapan gue ngerasain hal ini sama lo. Tapi yang pasti gue udah suka sama elo sejak pertama kali gue ngeliat lo di depan gerbang sekolah di hari pertama gue masuk. Baru waktu itu gue menemukan cewek dengan tatapan yang penuh misteri kayak lo, sampai sekarang gue nggak pernah lagi ketemu cewek dengan tatapan kayak gitu.
          “cewek yang punya banyak rahasia. Gue juga nggak tahu apa yang bikin gue bisa jatuh cinta sama cewek kayak lo. Elo yang selalu mengganggu pikiran gue, membuyarkan konsentrasi gue, elo juga yang udah bikin gue lupa sama masalah gue di rumah. Memang ini semua terdengar gombal dan gila, tapi itu jujur dari hati gue Ka.
          “Mungkin lo nggak percaya kalau gue udah jatuh cinta sama lo, dan sampai sekarang masih cinta sama lo. Sebenarnya gue nggak pernah mau ngungkapin perasaan ini, selama elo masih ada di samping gue, dekat gue dan gue bisa selalu ada untuk elo, dan menjadi orang yang  bisa ngilangin kesedihan-kesedihan lo.
          “cewek-cewek itu hanya sebagai pengusir rasa sepi gue selama elo nggak ada. Tapi sekarang gue harus mengatakan semuanya, gue nggak mau menyesal karena perasaan ini terpendam sia-sia. Gue ngomong gini karena gue takut Ka, gue takut kehilangan lo. Nggak ada yang bisa ngegantiin lo dalam hidup gue, asal lo tahu, elo nggak akan pernah bisa terganti.” Aku memeluknya lebih erat lagi, dengan mata yang berkaca-kaca.
          “Rika, gue pengen lo selalu ngingat gue, persahabatan kita, pertengkaran kita, keresean gue dan semua hal tentang kita, seperti gue yang nggak akan pernah ngelupain elo.”
          Kuusap air mataku sebelum melepaskan Rika dari pelukan. Aku melihat wajah Rika yang cemberut. Aneh, pikirku.
          “Elo kenapa Ka?” tanyaku heran.
          “Satria, elo dari tadi ngapain aja? Baju gue sampai basah gini. Elo ngomong sambil muncrat ya? Ini pasti air liur lo. Iiiiiiiihhhhhhhhhh….!! Satria, elo jorok banget sih? Bentaknya langsung.
          “Enak aja lo bilang gue jorok, elo sendiri dari tadi ngapain? Baju gue juga sampai basah gini. Jangan-jangan elo tidur sambil ngiler bukannya dengerin gue.” Balasku.
          Kami berdua saling beradu memasang wajah cemberut, entah kenapa tiba-tiba kami berdua tertawa, kemudian saling berpelukan.
          “Gue tadi nagis.” Ungkap kami berbarengan.
          Kami kembali tertawa. Setiap orang yang melihat kami pasti mengira kami ini aneh atau gila. Tapi benar, Rika itu GILA, sampai-sampai GILAnya nular ke aku. Kalau GILA kami berdua lagi kumat, pasti ngalahin gilanya orang yang ada di rumah sakit jiwa.

          “Satria, gue pengen ngasih elo sesuatu.” kata Rika tiba-tiba.
          “Apaan?”
          “Tutup mata dulu, terus elo agak nunduk dikit.”
          Aku turuti perintahnya, cukup lama nunggu tapi tidak terjadi apa-apa.
          “Sudah belum?” tanyaku.
          “Nunduk lagi, nggak nyampe.”
          Aku semakin menunduk, saat itu aku merasakan ada sesuatu yang menempel sekilas di pipi kananku. Aku kaget tapi tetap memejamkan mata untuk menunggu instruksi dari Rika. Tapi setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada tanda-tanda dari Rika yang menyuruhku untuk membuka mata, aku memutuskan untuk membukanya sendiri. Saat membuka mata, kumelihat  Rika sudah melenggang dengan santainya meninggalkanku.
          “SATRIA, ENTAR KALAU GUE UDAH NYAMPE, GUE PASTI LANGSUNG KIRIM EMAIL BUAT ELO..!!” teriaknya dari kejauhan.
          Aku tersenyum melepas kepergiannya. Aku masih penasaran, apaan sih yang menempel tadi. Rasa penasaranku terjawab ketika kumemperhatikan pantulan bayangan wajahku di kaca spion mobil. Di pipi sebelah kananku samar-samar terlihat cap bibir berwarna pink. BERARTI TADI RIKA NYIUM GUE? Oh My God !!!!
          Rika… kenapa sih elo tadi ngasih ciuman di pipi? Gue kan jadi repot kalau pengen ngebersihin muka, ssayang kalau sampai ngilangin cap bibir elo. Kalau nggak dibersihin ntar muka gue jerawatan. Kenapa tadi nggak ngasih di tempat lain aja biar bisa gue abadikan. Di bibir gue kek sekalian. Rutukku dalam hati.
          RIKA GILAAAAAAAAAAAAAA….!!!!!
         


~The End~

Tidak ada komentar: