Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Sabtu, 04 Januari 2014

(Cerpen) Kita akan Tetap Menjadi Kita

Kita Akan Tetap Menjadi Kita

            “Apa aku tidak akan pernah bisa mengetahui isi hatimu?” Tanyamu lirih di antara rinai hujan yang membasuh kota kelahiranku.
            Aku hanya tersenyum setelah menatap sekilas ke arahmu. Kau selalu mengetahuinya. Bahkan setiap sudut terdalam yang selalu kusembunyikan. Akulah yang selama ini membohongi diriku sendiri. Jawabku dalam hati, sama lirihnya denganmu.
            “Aku tahu, hujan lebih menarik perhatianmu dibandingkan aku.” Lanjutmu sambil tersenyum yang terlihat seperti mengejek. Entah mengejek malam, mengejek hujan, atau malah mengejek keadaan kita sekarang.
            Kau salah. Aku yang terlalu takut menatapmu lebih lama. Takut terseret perasaan yang membawa kita tenggelam lebih jauh.” Akuku.
            “Huft..,” kau menghembuskan nafas, “Mungkin aku harus berhenti di sini.” Katamu putus asa.
            Aku.. Aku menatapmu lagi. Kali ini lebih lama. Jangan...! Jangan berhenti. Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan menjelaskankan semuanya sekaligus menjemputmu. Jeritku berusaha meyakinkanmu.
            Tapi aku tak pernah berani mengatakannya langsung di hadapanmu. Selalu. Selalu hanya melalui hati. Hati yang kau bilang tadi tidak bisa kaubaca.
            “Sudahlah.. Aku lelah. Lebih baik kita pulang. Menangis di bawah hujan sekarang lebih baik bagiku daripada harus mengeluarkan air mata yang menyedihkan ini di hadapanmu.”
            “Baiklah.” Jawabku singkat dan terdengar getir, segetir langkah kakimu yang berjalan di sampingku. Satu-satunya kata yang mampu kuucapkan setelah hanya diam, menjadi pendengar monolog panjangmu.

                                    Andai engkau tahu betapa kumencinta
                                    Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
                                    Kutahu tak mudah menjadi yang kau ingat
                                    Kupasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya

***

            Delapan bulan kemudian
            Siang ini kita bertemu lagi. Pertemuan kesekian kalinya sejak aku dipindahtugaskan ke kota kelahiranmu sejak empat bulan terakhir. Tempat yang dijuluki Kota Seribu Sungai ini sungguh berbeda dengan kota tempat kita bertemu delapan bulan lalu. Tak ada hujan yang terus mengguyur. Tak ada kemacetan. Hanya cuaca dan udara yang lebih sering panas karena memang letaknya dekat dengan garis khatulistiwa.

            Tatapan lelah itu kulihat lagi di matamu. Lelah karena tangis yang tertahan. Tapi apa yang bisa kulakukan? Seperti malam di bawah rinai hujan, kuhanya berani berdiri di sampingmu, menyaksikan kesedihan dan luka yang teramat dalam. Kali ini tak ada monolog. Semua membisu. Diam. Hening. Hanya angin yang jahil berhembus mempermainkan daun-daun dan bunga di pohon kamboja, mengingatkan bahwa kita sedang tidak berada di dunia tanpa suara.
            Tatapan matamu, mengingatkanku tentang pertemuan terakhir kita tiga minggu lalu. Tatapan lelah karena putus asa dan beratnya beban yang kau simpan. Tapi senyum yang selalu kau pamerkan seolah berusaha meyakinkanku bahwa kau baik-baik saja.

***

            “Hei.. apa kabar?” Sapamu terlebih dulu. “Agak berantakan gitu, baru pulang kerja ya?” Tanyamu berusaha riang saat melihatku datang tergesa-gesa dengan pakaian yang jauh dari rapi. Belum sempat pertanyaan itu terjawab, kau sudah menodong dengan pertanyaan berikutnya. Ah.. kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak pertama aku mengenalmu enam tahun silam. “Tumben ngajak ke tempat beginian? Biasanya cuma jagung bakar depan Korim. Ini seperti bukan dirimu.” Katamu pelan sambil menatap curiga.
            Haha.. lucu memang. Aku yang memesan tempat ini, sebuah restoran dengan suasana romantis, aku yang mengajak dia. Tapi lihat, malah aku yang terlihat tidak siap. Datang terlambat, tergesa-gesa, dan berantakan.
            “Anggap ini hadiah ulang tahunmu. Sorry telat ngerayainnya.”
            “Baru tiga hari kok telatnya. It’s ok. Sekarang mana kadonya?”
            “Baru nyampe masa udah ditagih kado? Makan dulu lah. Udah lapar ini.”
            Di antara iringan alunan musik lembut, kita makan dengan damai. Sesekali di selingi dengan senyummu yang ... ah, kau mulai terlihat mencurigakan dengan senyum tanggungmu. Malam ini kau lebih banyak melamun seperti menyembunyikan sesuatu. Entah itu apa.
            “Kamu kenapa?” tanyaku tak tahan.
            kau tersentak kaget dan menggeleng.
            “Kamu gak suka?”
            “Suka kok,” berusaha tersenyum. “Gimana kerjaanmu hari ini?” tanyamu berusaha mengalihkan pembicaraan.
            “Seperti biasa. Banyak yang diurusin. Kita gak usah ngomongin kerjaan ya.” Pintaku.
            “Ok... Gimana? Udah punya cewek belum?” tanyamu lagi.
            Pertanyaan yang sama sejak beberapa tahun terakhir. Tapi mendinglah. Lebih baik membuatmu kepo dan banyak bertanya daripada harus menyaksikan aksi melamunmu.
            “Belum.” Jawaban singkat tapi cukup untuk membuatmu  sedikit frustasi.
            “Kok belum? Aduuuuuhhh gimana sih?”
            “Udahlah. Santai aja. Nanti kalau udah punya cewek, gak bisa traktir kamu makan dan nonton lagi.” Sahutku sambil sedikit tertawa.. Gimana mau kujawab sudah, kalau ceweknya gak mau pacaran. Ckckckckck
            “Tapi udah ada kan yang ditaksir?”
            “Tenang aja, masih normal ini. Belum mengalami disorientasi ketertarikan.”
            “Siapa dia? Gadis Kalimantan?”
            “Nanti kamu juga bakal tahu.”
            “Ah.. kamu. Selalu begitu.” Sahutmu sedikit merajuk. Ekspresi yang selalu membuatku gemas. “Cantik gak dia?”
            “Jelek.”
            “Hah?! Sejak kapan kamu naksir cewek jelek? Mana cewek-cewek cantik dan manis yang sering kamu ceritakan?” Tanyamu terkejut.
            Heh.. mana mungkin kamu bisa begitu tenangnya menanyakan cewek cantik dan manis yang sedang kutaksir? Apa tidak ada rasa cemburu sedikit pun di hatimu? Hufh. Tapi aku hanya bisa merutuk kesal dalam hati.
            “Jelek di mata orang-orang. Tapi cantik dan manis di mataku.” Berusaha membuatmu cemburu.
            “Halah.. belajar gombal di mana tuh? By the way, namanya siapa? Kalau boleh tau.”
            Hah..? lagi-lagi dengan entengnya kamu bertanya. Terbuat dari apa hati kamu itu? apa kamu ingin mendengar aku menyebutkan sebuah nama? Ranaya. Iya. Ranaya namanya. Kali ini aku yang berteriak frustasi. Dan lagi-lagi hanya dalam hati.
            “Nanti kamu juga bakal tahu. Kalau udah jadi.”
            “Kalau udah jadi? Terus kapan mau ditembak?”
            “Ditembak? Kamu pikir burung? Aku jago memanah, bukan jago nembak. Hahaha... Aku mau langsung ngelamar dia di depan walinya. Kamu sendiri kan yang bilang, cowok keren itu adalah cowok yang nembak ceweknya langsung di hadapan penghulu dan wali si cewek[1]. Aku mau ngikutin saran kamu.”
            “Waaaaw.. aku kasih semua jempolku buat kamu deh. Keren keren keren. Terus kapan rencananya mau melamar?”
            “Kamu sendiri kapan siap buat dilamar?”
            “Kok kamu nanya aku?” tanyamu heran.
            Kukeluarkan kotak kecil hitam dan menyerahkannya padamu. Matamu terbelalak terkejut saat membukanya. Sebuah permata kecil berkilau indah di atas cincin perak yang kau tatap.
            “Bagaimana menurutmu? Bagus? Itu cincin buat melamar dia.”
            “Waw.. ini bagus. Bagus banget. Dia pasti senang menerimanya.” Kau tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus. Aku melihat sebuah kelegaan di sana. Tetapi hal itu malah membuat perasaanku sebaliknya.
            “Kamu sendiri senang?”
            “Pastilah aku senang melihat teman sendiri akhirnya mau melamar cewek. Setidaknya itu membuatku yakin kalau kamu normal. Hahaha...” Kau tertawa senang.
            “Dua minggu lagi aku pulang. Kalau kamu senang, aku akan membawa orang tuaku untuk melamarmu dengan cincin itu.” kataku sungguh-sungguh. Kalimat yang langsung menghentikan tawa riangmu. Berganti dengan kerutan-kerutan kebingungan di kening.
            Tuhan. Bukan ini reaksi yang kuinginkan dari gadis yang duduk di dapanku. Aku ingin melihat dia tersenyum bahagia, kalau perlu sambil menangis terharu karena baru saja kumenjawab semua pertanyaannya selama ini.
            Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa denganmu? Tanyaku bingung ketika kau tertunduk lesu saat mengembalikan kotak cincin itu.
            “Aku serius. Kamu perempuan yang mau aku lamar. Kalau kamu sudah siap, kubawa orang tuaku ke hadapan walimu.” Dengan penuh keyakinan kutatap matamu. Mata yang tiba-tiba berubah jadi redup.
            “Maaf. Aku tidak bisa menerimanya.” Jawabmu lirih seperti malam di bawah rinai hujan delapan bulan lalu.
            Malam ini yang kurasakan bukan hanya rinai hujan, tetapi juga petir serta badai. Dahsyatnya gemulung ombak di lautan seakan berpindah ke hatiku saat kau serahkan selembar kertas persegi berwarna ungu muda, warna favoritmu.
            Kertas undangan. Iya. Kau kembalikan cincin yang akan kugunakan untuk meminangmu bersama selembar kertas undangan pernikahan.
            Sebuah nama terukir indah di dalamnya. Ranaya Kemala. Ranaya Kemala, namamu, sebagai pengantin perempuan. Sedangkan yang tertera sebagai pengantin pria bukan namaku, Daniel Azmi, melainkan orang lain. Bukankah kamu selalu bilang ingin nama kita tertulis di kartu undangan pernikahan sebagai sepasang pengantin? Tapi kenapa malah seperti ini?
            “Aku sudah dipinang laki-laki lain sejak sebulan yang lalu. Tiga minggu lagi kami akan menikah.” Suaramu bergetar saat menjelaskannya. Aku tahu, kamu sedang menahan tangis bukan?
            Di atasku langit seakan runtuh, bumi yang kupijak bergetar, gedung tempat kita berada sekarang terasa mau ambruk sebentar lagi, sedahsyat-dahsyatnya bencana alam seolah mengurungku karena mendengar berita yang kau sampaikan baru saja.
            Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?  Ah.. bodohnya aku. Jelas ini terjadi karena aku yang terlambat. Kau sekarang benar-benar berhenti, seperti yang kau katakan malam itu. kau pangkas habis perasaan di hatimu. Tapi kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa? Ribuan kenapa yang kutuntut untuk dijelaskan.
            Di mana kata kita yang selalu kau ucapkan? Harapan dan mimpi kita tentang kehidupan bersama. Kita, aku dan kau. Dua jadi satu. Apakah kata kita sekarang adalah sesuatu yang terpisah antara aku dan kau. Bukankah kau pernah bilang bahwa kemanapun kita pergi dan berpisah, pada akhirnya aku akan kembali kepadamu, dan kau kembali kepadaku, karena kita adalah kita, dua jadi satu.
            “Maaf.” Hanya itu kata yang bisa kau ucapkan.
            Apa kamu sedang menyesali suatu keadaan, Nay? Ini bukan salahmu. Ini salahku.

Jika aku bukan jalanmu
Kuberhenti mengharapkanmu


            “Aku di sini, Nay. Kalau kamu ingin menangis, silakan.” Bisikku pelan sambil berusaha tersenyum untuk menenangkanmu.
            Ah ya.. Bagaimana selama ini kau menggambarkan sifatku? Mr. Jutek? Si tuan ‘Gakpapa, udah biasa’? Atau laki-laki yang selalu bersikap ‘Semua baik-baik aja’?
            Perlahan bulir-bulir air mata mulai menggenang di pelupuk matamu dan sedikit demi sedikit merembes membentuk anak sungai kecil di atas pipi yang tak pernah bisa kusentuh sampai kita menjadi halal, walau kuingin mengusapnya setiap saat kau menangis. Aku ingat kalimat yang pernah kau ucapkan laki-laki yang suka pegang-pegang cewek, istrinya bukan, saudaranya bukan, tidak darurat, maka ketampanannya berkurang ratusan persen. Dan perempuan yang mau saja dipegang-pegang laki-laki seperti itu, kecantikannya berkurang dua kali lipatnya[2]. Kalimat itu yang membuatku bertahan untuk tidak sekali pun menyentuhmu. Aku ingin menjadi laki-laki paling tampan dan menjaga kecantikan hatimu.
            Siang ini, aku berdiri di sampingmu dengan Kalimat, air mata dan isakan tertahanmu, serta sikapku yang sama. Sama seperti saat malam itu. malam ketika aku menerima penolakan darimu bersama kartu undangan pernikahan. Berhari-hari kuberusaha mengumpulkan keping-keping hati yang pecah berantakan. Sampai sempat terpikir mungkin kutakkan pernah sanggup menemuimu lagi, Nay. Tapi ternyata aku tak pernah tega membiarkanmu menyimpan gumpalan kesedihan sendirian. Tidak pernah. Meski hati ini terus retak setiap mengingat tentang kita.
           
            Punggungmu terguncang pelan bersama isakan tertahanmu. Aku harus bersikap ‘semua baik-baik aja’ sekarang, walau kutahu keadaan kita sedang menunjukkan sebaliknya.
            “Maaf aku datang terlambat. Membuatmu terlalu lama menahan air mata itu,” menyerahkan saputangan yang selalu kau gunakan untuk menyeka air mata. “Menangislah sampai kamu tenang, Nay. Ah.. apa yang pernah kamu bilang? Kamu hanya bisa menangis puas ketika aku ada di dekatmu kan?. Nay.. Nay.. kamu tidak perlu khawatir, aku pasti datang untuk menemanimu menangis. Di mana pun kamu mau, bahkan di tempat seperti ini sekalipun.”
            “Maaf.” Ucapmu tertahan di antara isak tangis. Apa kali ini terselip penyesalan di dalamnya? Entahlah.
            Kau duduk lemah menapat nama di nisan kayu yang baru saja ditancapkan di atas gundukan tanah merah basah ini. Nama itu, nama yang sama persis dengan yang tertera di kartu undangan pernikahanmu. Nama calon pengantin priamu.
            “Besok seharusnya aku mengenakan baju pengantin yang telah ia persiapkan. Mendengarkannya mengucapkan ijab kabul di hadapan orang tuaku. Besok seharusnya aku menjadi istrinya. Besok .... hiks hiks hiks .... Tapi subuh tadi dia mengalami kecelakaan. Hiks.. hiks.. hiks..” Suaramu kembali tertahan karena air mata yang mengucur.
            “Sudah Nay..,” aku tahu, kamu pasti ingin tanya kenapa kan? Seperti pertanyaanku malam itu. kenapa semua jadi seperti ini? “Tuhan pasti punya rencana yang berbeda atas semua ini. Allah sedang menguji kita. Seperti malam itu, kita harus kuat. Kita pasti bisa melewati semua ini.” Hanya isak tangismu yang terdengar sebagai jawaban. Kau sedang melepaskan beban kesedihan itu sekarang.

            “Nay...,” panggilku pelan setelah beberapa menit hanya angin yang mengambil alih pembicaraan kita. “Benda ini masih jadi milikmu.” Ucapku sembari meletakkan kotak kecil hitam ke pangkuanmu. “Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku tidak ingin kau terus tenggelam dalam ribuan pertanyaan kenapa, Nay. Mungkin ini jawabannya.”
            Bukan restoran mewah dengan cahaya lilin atau alunan musik romantis, hanya suara alam yang menemani kita, aku melamarmu. Lagi. Kau menatapku dengan mata sembab. Tersenyum. Mengangguk kecil. Di bawah rindangnya pohon kamboja yang sedang memekarkan bunganya. Di taman pemakaman yang sepi. Di samping gundukan tanah merah yang masih menebarkan aroma basah. Di depan nisan jasad calon suamimu, Kau menerimaku. Selama ini kau mencintaiku dalam diam bukan? Seperti penggalan puisi yang pernah kautuis.
                                     Kau kekasih yang mengalpa dalam kata
                                    Tak perlu rangkaian abjad tuk tafsirkan rasa
                                    Karena gerak telah sampaikan makna
                                    Bukankah ‘mencinta’ itu kata kerja?[3]
            Sekarang kau sudah tahu isi hatiku kan, Nay? Perasaan yang selama ini kusimpan rapat. Aku juga sama sepertimu, mencintaimu dalam diam. Karena kuhanya ingin mengatakannya ketika kutelah siap menikahimu.

            Ya Allah.. inikah rencana-Mu selama ini? Inikah hadiah dari ujian perasaan-Mu yang berat. Engkau menguji seberapa kuat perasaan kami?
            Seperti yang pernah kamu katakan, Nay. Kita akan tetap menjadi kita. Aku dan kamu yang menjadi satu. Tanpa batas. Pada akhirnya aku tetap kembali kepadamu, dan kamu akan kembali padaku. Kemanapun kita pergi, sejauh apapun kita berpisah, kita akan kembali jadi kita. Inilah rahasia Tuhan yang tak pernah kita tahu, karena kita manusia berada dalam keterbatasan yang tak terbatas.

Jika aku memang tercipta untuku
Kukan memilikimu
Jodoh pasti bertemu[4]


[1] Kutipan Tere Liye dari Facebook
[2] Kutipan Tere Liye dari facebook
[3] Puisi Na
[4] Lagu Afgan : Jodoh Pasti Bertemu