CERITA ANAK KOTA SERIBU SUNGAI
Semburat merah warna langit mulai
nampak terlihat di ujung sana. Menandakan senja sebentar lagi akan tiba. Para
nelayan yang biasa memancing di sepanjang sungai Martapura mulai mengayuh perahu
kecil mereka atau yang biasa di sebut jukung untuk beranjak pulang. Berapapun
banyaknya hasil tangkapan yang bisa mereka dapatkan, maka sebanyak itu pula
yang akan diberikan untuk anak istri mereka di rumah. Jika hasilnya lumayan,
berarti akan ada ikan yang dijual, hasil penjualan ikan-ikan tersebut dapat
digunakan untuk membeli kebutuhan dapur seperti beras, minyak tanah, sayuran,
rempah-rempah, dan lain-lain. Tetapi jika sebaliknya, hasil tangkapan itu hanya
cukup untuk makan mereka malam ini dan besok pagi sekeluarga.
Duduk di depan rumah nenek yang tepat berada di pinggir sungai martapura
ini, aku bisa menyaksikan itu semua. Betapa indah dan menenangkannya warna
langit di ujung cakrawala sana. Dan betapa sederhana kehidupan mereka di sini.
Rumah nenek memang tepat berada di pinggir
sungai dengan daratannya yang menjorok ke tengah, menyebabkan tempat ini
seperti sebuah tanjung kecil. Daratan ini pun bukan sepenuhnya terbuat dari
tanah. Beberapa waktu lalu, daratan yang ada di sebelah kiri rumah nenek adalah
berupa gudang atau bengkel tempat pemotongan kayu. Sehingga potongan-potongan
kayu dan serbuk-serbuk kayu tersebut yang menumpuk selama bertahun-tahun
menyebabkan tempat ini seperti sebuah daratan. Bukan hanya itu, batang-batang
padi bekas penggilingan pun juga di buang di tempat ini dengan rapi.
Dulu orang-orang di sekitar sini bekerja di bengkel tersebut. Jika para
pemudanya bekerja sebagai pemotong kuli angkut kayu yang bertugas mengangkat
kayu-kayu atau batang pohon dari kapal ke dalam bengkel untuk di potong-potong
sesuai pesanan atau mengahaluskannya yang kemudian nantinya akan di jual
kembali. Sedangkan para ibu-ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan
untuk kebutuhan rumah tangganya, maka mereka bertugas mengumpulkan kayu-kayu
hasil pemotongan yang tidak terpakai kemudian mengikatnya dengan jumlah tertentu, nantinya kayu-kayu
tersebut juga akan dijual sebagai bahan bakar untuk memasak. Di daerah sini,
belum banyak keluarga yang menggunakan kompor minyak untuk memasak, apalagi
kompor gas, sehingga mereka memanfaatkan kayu sebagai pengahasil api. Memasak
menggunakan kayu bakar ini tentunya akan membuat dapur dipenuhi dengan asap.
Alat-alat memasak pun tidak luput menjadi korbannya. Panci, wajan, ceret, dan
lain-lain pasti berwarna hitam. Kini kayu di pulau ini sudah mulai langka.
Banyak pengusaha yang bangkrut. Pemerintah menetapkan peraturan ketat tentang
penebangan hutan, sehingga yang tertinggal di gudang ini hanyalah mesin gergaji
tua yang dulu di gunakan untuk memotong dan mengahaluskan kayu, sedang teronggok
di tempatnya. Semakin tua, semakin berkarat, dan semakin diabaikan. Karena
tempat gudang ini hanyalah gudang tua kecil, banyak pekerjanya beralih profesi.
Pendidikan mereka yang hampir tidak sampai tamat sekolah dasar, menyebabkan
mereka hanya menjadi buruh tani atau buruh bangunan kasar lainnya dengan gaji
yang pas-pasan.
Di depan dan belakang rumah nenek merupakan jalur sungai. Sungai yuang
mengalir di depan rumah ukurannya lebih kecil dan dangkal di banding sungai
yang berada di belakang rumah. Meskipun begitu, jika air sedang pasang tidak
jarang perahu-perahu bermotor atau yang biasa di sebut dengan kelotok, baik
yang berukuran besar maupun kecil melintas di depan rumah nenek, apalagi hampir
setiap keluarga di sini memiliki alat transportasi air tersebut yang mereka
gunakan untuk memabawa hasil pertanian mereka, atau untuk bepergian.
Seperti sore ini, suara deru mesin
kelotok yang melintas di sepanjang sungai, saling beradu dengan suara hiruk
pikuk alam juga lantunan ayat suci Al-Quran yang terdengar dari alat pengeras
suara mesjid maupun surau-surau. Dari sini pula, aku dapat melihat
cahaya-cahaya lampu dari mobil, motor, maupun truk yang berjalan beriringan di
atas jembatan tol yang membelah sungai. Semakin gelap warna langit, maka
semakin jelas pula cahaya-cahaya itu terlihat, seperti kunang-kunang.
Kerlap-kerlipnya yang berwarna merah dan kuning, seakan beradu dan menambah
keindahan pesona langit malam yang sudah di hiasi dengan indahnya kerlip
bintang terang.
Malam? Itu masih beberapa saat lagi.
Sekitar satu jam dari sekarang jika ingin menyaksikan warna langit cerah dengan
pesona bintang di atas sungai Martapura. Sekarang masih pukul 6.15 sore. Dan
langit masih setia dengan warna merahnya, warna khas saat senja tiba.
Nenek, amang-amang dan acilku sudah tinggal di sini sejak
berpuluh-puluh tahun silam. Sebelum jalan-jalan beraspal, dan sebelum jembatan
tol itu di bangun yang menyebabkan akses transportasi darat semakin maju dan
meninggalkan transportasi air. Nenekku adalah keluarga petani. Tetapi saat
tidak sedang musim bertani, kakek dan amang-amangku biasanya beralih profesi
menjadi nelayan yang mencari ikan di
sepanjang sungai martapura ini atau juga sebagai pengemudi perahu kecil
bermotor yang di sebut getek untuk mengantar penumpangnya ke tempat-tempat yang
tidak bisa di lewati melalui jalur darat atau bagi mereka yang hanya sekedar
ingin menyebrangi sungai menuju ke suatu tempat.
Dulu sebelum aku mempunyai sepede,
setiap kali ingin ke tempat nenek, aku dan bapak selalu memanfaatkan alat
transportasi air tersebut. Biasanya perahu bermotor yang lebih besar dan
beratap, kami menyebutnya taksi kelotok. Alat transportasi ini cukup aman dan
nyaman. Dengan ukurannya yang lumayan besar, kita bisa memilih tempat duduk di
mana saja yang kita inginkan. Jika cuaca sedang tidak panas, tidak sedikit yang
memilih untuk duduk di atas atap kelotok tersebut. Pemandangannya tidak jauh
berbeda dengan orang-orang yang duduk di atas gerbong kereta api. Hehehehe.
Duduk di atas kelotok dengan
kecepatannya yang sedang sambil menyusuri sungai Martapura, tidak akan pernah
membuat kita jenuh. Pemandangan yang di sajikan di sepanjang aliran sungai akan
memberi kita gambaran bagaimana sebenarnya kehidupan masyarakat kota seribu
sungai.
Rumah-rumah lanting yang dibangun di
atas batang-batang bambu atau batang pohon besar dan mengapung di atas sungai akan
banyak terlihat, walaupun semakin lama jumlahnya semakin sedikit seiring dengan
lebih banyak orang yang memilih membangun rumahnya dengan tiang-tiang panjang
yang menancap pada tanah. Zaman dulu rumah lanting banyak difungsikan sebagai
tempat tinggal, tetapi sekarang rumah-rumah lanting tersebut lebih banyak
digunakan untuk tempat usaha seperti warung yang menjual berbagai macam peralatan
memancing, kebutuhan pertanian, barang-barang pecah belah, bahkan barang-barang
sembako.
Rumah lanting? Ah, aku tidak pernah
tahu bagaimana rasanya tinggal di atas rumah lanting itu. Rumah yang terapung
di atas air, selalu bergerak seperti perahu jika dimainkan oleh gelombang, ke
kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Aku dulu pernah tidur di atas kapal,
tetapi bukan kapal besar antar pulau yang terbuat dari besi dan baja yang
sering ada di televisi atau pelabuhan-pelabuhan besar, melainkan kapal yang
hanya terbuat dari kayu berfungsi untuk mengantar barang antar provinsi. Kapal tersebut
juga selalu bergerak membelah sungai, sehingga tidak terlalu terasa goyangan-goyangan
akibat gelombang. Berbeda dengan rumah lanting yang berada di tepi sungai
besar, tidak ada kekuatan untuk melawan ombak dan hanya mengikuti arus dan yang
pasti tidak pernah bergerak untuk membelah sungai, karena memang tidak di
lengkapi dengan mesin bermotor atau sebagainya. Hal yang membuat rumah lanting
tidak pernah hanyut di bawa gelombang adalah tali tambang besar seperti
perahu-perahu atau kapal-kapal lainnya yang di tambatkan, juga adanya jembatan
kecil yang akan membantu penghuninya menuju daratan.
Aku pernah membayangkan, mungkin saja jika baru pertama kali tinggal di
rumah lanting, dan tidur di dalamnya, untuk orang yang belum terbiasa pasti
akan mengalami mabuk laut. Minimal saat menginjak daratan, bumi serasa
bergoyang-goyang. Jelas saja, karena saat berada di dalam rumah lanting, kita
akan selalu di ayun-ayun oleh ombak. Apalagi ketika ada kapal atau perahu
melintas dengan kecepatan besar, maka ombak yang di hasilkan pun akan semakin
besar pula dan goyangan di dalam rumah lanting akan semaki jelas terasa.
Kira-kira entah sampai kapan rumah-rumah lanting tersebut dapat bertahan di
sepanjang aliran sungai sungai Martapura ini. Apakah anak cucuku masih dapat
melihat secara langsung tentang rumah lanting, bukan melihat dari buku atau
dokumentasi sejarah lainnya.
Membicarakan tentang rumah lanting
tidak akan pernah ada habisnya. Ah lihat, itu amangku dengan jukungnya pulang
dari memancing sejak tadi siang. Tubuhnya yang kurus serta kulit yang semakin
kering dan hitam karena terlalu sering terbakar sinar matahari, membuat aku
miris melihatnya. Tetapi wajahnya yang selalu tersenyum itu membuat perasaan
ini damai. Aku tidak tahu persis berapa umur amangku yang satu ini, tetapi
menurut perkiraanku usianya belum mencapai 30 tahun. Dia adik ketiga Bapak.
“lumayanaai.
Julung acil yati gin, nyaman di siangi.”
Aku berikan ikan tersebut kepada acil Yati, istri amangku, sambil
memperhatikan ia membersihkan ikan hasil tangkapan suaminya untuk lauk makan
malam mereka, sesekali lamunanku kembali ke masa lalu. Masa lalu ketika aku masih berusia 10 tahun.
Jika air sedang pasang, aku senang sekali
bermain-main di atas kelotok yang ditambatkan di samping rumah nenekku ini. Aku
tidak perlu takut tercebur atau tenggelam, karena meski aku anak perempuan, pada
usia itu aku sudah mahir berenang. Bermain-main di atas perahu adalah hal yang
paling menyenangkan bagiku. Menikmati gelombang yang mengombang-ambingkan
kelotok, angin sepoi-sepoi segar yang bebas dari polusi udara, apalagi berada
di atas air seperti ini pasti adem, tidak perlu AC ataupun kipas angin untuk
membuat sejuk udara meski siang hari.
Apabila saat sore air sungai tidak
terlalu pasang, aku dan amangku yang paling kecil - adik terakhir Bapak yang
berusia beberapa tahun dibawahku - pasti akan bermain jukung. Mengayuh perahu
kecil itu menyusuri sungai di depan rumah nenek dengan arusnya yang tenang.
Dari satu ujung ke ujung yang lain. Dari hulu ke hilir, dan sebaliknya. Begitu
terus beberapa kali. Sungai tak ubahnya seperti jalanan tempat kami bermain,
dan jukung ini seperti sepede yang kami kendarai berdua. Amangku yang satu ini,
meskipun lebih muda dan lebih kecil dibanding aku, tetapi untuk urusan segala
sesuatu yang berhubungan dengan sungai, dia jagonya. Biasanya aku hanya duduk
manis di dalam jukung, dan dia yang akan mengayuh. Karena jika aku yang
mengayuh jukung kecil tersebut, sudah di pastikan akan menabrak rumah orang
yang banyak berjejer di pinggir sungai.
Dulu, setiap sore, aku tidak pernah
melewatkan untuk berenang di sungai ini. Airnya yang sejuk meskipun terkadang
tidak selalu berwarna jernih, membuatku betah berlama-lama berendam di dalam
air. Berenang ke sana- ke mari. Dari satu tepi ke tepi yang lain. Bahkan tidak
jarang aku akan melompat dari atas titian di depan rumah nenek. Jalan menuju
rumah nenek memang hanya berupa titian kayu. Panjanganya beratus-ratus meter
dan berada di atas air. Tidak ada jalan setapak apalagi jalanan beraspal untuk
menuju ke rumah orang tua dari pihak Bapakku ini.
Rumahku juga dekat dengan sungai.
Hampir setiap hari aku mandi di sungai. Dengan teman-teman pun aku sering
melompat dari atas jembatan. Tetapi antara sungai dekat rumahku dan yang ada di
depan rumah nenek tentu sangat berbeda karena sungai di sini hanya beberapa
meter untuk langsung bermuara di Sungai Martapura yang lebarnya ratusan meter
dan arus yang deras. Sedangkan sungai dekat rumahku hanya berupa aliran anak
sungai dengan lebar beberapa puluh meter saja.
“Erna. Jangan melamun di situ, kalu
pina tecabur. Duduk di atas ban tuh bereranai ja, jangan hunjal-hunjal kaya
itu, kena tejungkang nengkaya acil semalam.” Suara
acil Yati menyadarkanku dari lamunan masa lalu sepuluh tahun silam. Aku baru
sadar kalau dari tadi aku duduk di atas ban karet besar bekas truk tronton.
Ukurannya yang super besar membuatku betah di sini karena empuk dan elastis.
“Hehehe. Kada pang Cilai. Ulun
bepingkut pisit-pisit nih.”
Sahutku sambil cengengesan.
Ah. Acil Yati ini mengganggu lamunanku saja. Kurasakan hembusan angin sore
yang sejuk menerpa kerudung hitamku. Kota
Seribu Sungai, seperti itulah kota ini di sebut. Kota Banjarmasin dengan
sungai Martapura yang membelah di tengahnya. Sungai Martapura yang memiliki
ribuan anak sungai dan tersebar di seluruh kota ini. Dari yang bernama, sampai
yang tidak bernama, dari yang besar sampai yang kecil. Anak-anak sungai itu biasanya membelah
pemukiman penduduk yang padat.
Di sini sungai menjadi jalur transportasi yang di andalkan oleh masyarakat.
Mau pergi ke pasar, menggunakan kelotok. Mau ke puskesmas, menggunakan kelotok.
Mau ke sekolah, juga menggunakan kelotok. Waktu duduk di bangku SMA,
teman-temanku banyak yang ke sekolah menggunakan kelotok. Hal ini di karenakan mereka
tidak mempunyai kendaran sendiri, sekolahku yang dekat dengan sungai, juga
belum adanya akses jalan berupa jembatan untuk memperpendek jarak tempuh, hal
inilah yang menyebabkan kelotok menjadi alternatif utama.
Setiap pagi, anak-anak berseragam sekolah, dari yang di sekolah dasar
sampai sekolah menengah atas, selalu menunggu datangnya jemputan kelotok yang
akan mengantar mereka ke sekolah, sama persis dengan anak-anak di kota besar
yang menunggu bus untuk mengantarkan mereka ke sekolah. Bedanya, jika menunggu
bus pastinya di halte bus, kalo menunggu kelotok bisa di mana saja asalkan di
pinggir sungai. Biasanya mereka menunggu di pinggir batang
yang paling dekat dengan rumah atau yang paling mudah di capai oleh kelotok.
Bukan hanya anak-anak berseragam sekolah, ibu-ibu yang ingin ke pasar juga
menggunakan alat transportasi ini.
Berbicara soal pasar, di sekitar tempat tinggal nenekku yang berada di
Kecamatan Basirih sama sekali tidak dapat ditemui pasar. Kalaupun ada, itu
hanyalah pasar malam yang buka setiap malam kamis. Terkadang setiap pagi
menjelang siang ada saja pedagang yang lewat di depan rumah penduduk
menggunakan jukung membawa barang dagangan seperti buah, sayur, ikan, dan
lain-lain. Pedagang ini adalah pedagang yang baru pulang berjualan di pasar
terapung yang berada ribuan meter ke arah hilir sungai Martapura, tepatnya di
muara sungai Barito. Tetapi jika hanya menunggu pedagang ini lewat, itu sama
saja membuang-buang waktu. Karena kita tidak akan tahu kapan mereka akan lewat
di sekitar rumah kita.
Apalagi yang khas dari kota seribu
sungai ini? Jawabannya adalah mandi dan buang hajat di pinggir sungai. Kalian
pasti tidak akan menemukan pemandangan seperti ini selain di pulau kalimantan,
khususnya di kota-kota besar. Banjarmasin termasuk kota besar, tetapi masih
banyak penduduknya yang mandi di pinggir sungai hanya menggunakan sarung, kami
menyebutnya tapih dan dililitkan di dada. Tidak jarang pula aku melihat
laki-laki dewasa yang mandi hanya menggunakan celana dalam. Jka ada pertanyaan,
apakah mereka-mereka itu tidak malu? ah. Bukan berarti kami tidak punya malu,
taopi itu sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat yang hidupnya di pinggir
sungai. Sedikit sekali rumah-rumah yang ada di pinggir sungai dilengkapi dengan
kamar mandi tertutup. Satu-satunya kamar mandi tertutup adalah jamban, tempat
untuk buang air yang fungsinya sama dengan WC.
Aku jadi teringat obrolan dengan
teman-temanku di kampus tadi siang. Kami membicarakan tentang orang yang buang
hajat di jamban. Di mana kotoran kita akan langsung nyemplung ke sungai. Apalagi
ketika air sungai terasa menjadi kalat
maka di sungai-sungai akan banyak ikan
lundu
di bawah-bawah jamban mencari makan, karena hewan ini paling gemar memakan
kotoran manusia. Jorok memang, tapi seperti itulah kenyataannya. Dan aku pernah
mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana ikan-ikan itu dengan lahap memakan
kotoran yang baru keluar dari tubuh manusia.
“Er
! lakasi masuk. Sanja sudah harinya.”
Astaghfirullah, aku tidak sadar kalau adzan maghrib sudah berkumandang jika
nenek tidak memanggilku. Pantas saja keadaan sungai semakin lengang dan tenang,
dan acil Yati tidak terlihat lagi, mungkin sudah cukup lama ia selesai
membersihkan ikan hasil tangkapan suaminya.
“Enggih
Ni.”
Sahutku sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Banjarmasin kota seribu sungai,
tempat kelahiranku, tempat kumenghabiskan masa kecil sampai seperlima abad
usiaku kini. Entah sampai kapan kota ini akan tetap menjadi kota seribu sungai
dengan masyarakatnya yang tidak pernah lepas dari sungai Martapura yang semakin
hari semakin tercemar, semakin sempit, dan semakin dangkal.
Kututup pintu rumah nenek,
meninggalkan sungai martapura di luar sana yang masih setia mengalir sampai
sekarang. Dan esok, aku akan melihat kembali bagaimana kehidupan sederhana
mereka di sepanjang sungai ini. J