Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Rabu, 07 Desember 2011

(cerpen) Surat Untuk Ai


SURAT UNTUK AI
Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Hari itu, jumat sore tanggal 2 Desember. Kulihat air matamu mengalir begitu aja. Ah. Bukan begitu aja. Segala sesuatu terjadi pasti ada sebabnya kan? Sebab air mata itu lagi-lagi adalah aku. Untuk kedua kalinya kamu nangis karena ulahku. Kali ini adalah karena aku yang ingin pergi darimu, pergi dari hidupmu, dan pergi dari duniamu. Bukan karena aku yang tidak mau peduli sama kamu lagi, bukan karena aku yang capek menghadapi kamu. Bukan, bukan semua itu alasan kenapa aku ingin pergi. Tapi karena aku yang sudah lelah menanggung rasa bersalah atas semua masalah yang terjadi dalam hidupmu. Semua itu terjadi karena keberadaanku.
Aku lelah menanggung semua beban itu, teramat lelah malah. Walau aku tau, kamu pasti tidak akan pernah mau menyalahkanku. Kamu pasti tidak akan pernah bisa marah sama aku walau sebesar apapun kesalahan yang udah aku lakuin sama kamu. Kamu terlalu  baik untukku. Kamu terlalu baik untuk mendapingiku melewati smua ini. Kamu terlalu baik.
Suara Avril Lavigne terdengar mengalun merdu membawakan lagunya I will Be. Mengiringi setiap hembusan nafasku. Mengingat kejadian di hari jumat sore itu membuatku ikut meneteskan air mata.
Semua terjadi terlalu singkat. Pertemuan kita, perjalanan kita, cerita kita, sampai kekeputusanku untuk hilang dari hidupmu. Aku pikir ku cukup kuat untuk bertahan di sini menemanimu. Ternyata aku tidak sekuat itu. Aku menyerah dengan keadaan ini. Keadaan yang selalu melahirkan masalah karena aku.
“Kamu beneran mau menghilang Na?” pertanyaanmu waktu itu. Sebuah pertanyaan yang akan mengawali air matamu.
“Kalau ini yang tebaik buat kita. Aku gak bisa ngapa-ngapain lagi Ai.” Jawabku singkat.
Ah, kenapa aku harus mengatakan itu. Tapi aku harus jawab apa? Hanya itu yang ada dipikiranku. Dan memang itu kan alasanku untuk pergi. Untuk hilang.
Kamu diam, aku diam, kita hanya diam. Kurangkul bahumu, berusaha menenangkanmu, berusaha meyakinkanmu kalau semua akan baik-baik aja. Walau perlahan air mata itu sudah mulai tidak tertahan keluar dari pelupuk matamu. Semua terasa terlalu berat untukmu ya? Semua ini memang berat. Bukan hanya untukmu, untukku juga. Tapi salah satu di antara kita harus ada yang memulai. Harus ada yang kuat.
“Kamu harus kuat Ai. Semua akan baik-baik aja. Semua nggak sesulit yang kamu pikir kok.” Kataku sambil berusaha tersenyum.
“Tapi kalau kamu hilang, aku bakal sendirian lagi Na. Sendiri lagi.”
“Kamu gak pernah sendirian Ai. Kamu harus yakin kalau Tuhan gak akan pernah ninggalin kamu sendirian. Tuhan pasti akan ngasih kamu seseorang buat gantiin aku. Kalau kamu yakin, semuanya akan menjadi lebih mudah Ai. Ingat, kamu nggak pernah kehilangan aku. Aku bukan orang baik, kamu harus mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.” Kataku sambil mengusap air mata dipipimu dengan jariku, dan merangkulmu semakin erat. Aku gak mau kamu merasa sendiri dalam menghadapi situasi ini. Walau mungkin ini yang terakhir kalinya aku memeluk dan mengusap air matamu.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Entah apa yang aku pikirkan saat aku memutuskan untuk pergi ketempat ini. Keputusanku untuk hilang kali ini terasa lebih berat. Lebih berat karena kamu mengetahuinya. sehingga semua menjadi seperti sebuah perpisahan.
Aku hanya ingin hilang. Hilang begitu aja. Aku tidak ingin kamu tau semua rencanaku. Karena aku nggak mau nantinya semua akan terjadi seperti ini. Tapi semua sudah terlanjur terjadi kan? Kamu sudah terlanjur mengetahuinya. kamu sudah terlanjur menanyakannya. Dan aku sudah terlanjur mengatakannya.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Aku pergi ketempat ini karena merasa sesuatu terjadi di luar kendaliku. Situasi ini sudah mulai tidak terkontrol. Aku tiba-tiba merasa takut. Takut kalau-kalau ini akan menjadi yang terakhir di antara kita.
Ah, kalau aku tiba-tiba bertemu deganmu di tempat ini, aku rasa aku tidak sanggup untuk mengatakan semuanya.
Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu.
Di sini, di tempat ini, tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata perpisahan itu, aku menulis surat untukmu. Surat yang mungkin menjadi surat perpisahan, permohonan maaf, dan bisa menjadi surat terakhirku untukmu. Kubaca berkali-kali surat itu sebelum sampai ketanganmu.

                        Dear Ai,
teman terbaikku
Ai, maafin Na ea karena udah nulis surat ini buat Ai. Na nulis ini karena Na ngerasa gak sanggup buat bilang langsung ke Ai.
Ai, Na ngerasa ada yang berbeda dengan keputusan Na hilang kali ini. Entah kenapa semua nggak bikin Na merasa lebih baik. Nggak bikin Na ngerasa nyaman. Na malah takut Ai. Takut banget. Nggak kayak waktu Na ilang kemarin dulu itu yang bikin Na ngerasa tenang.
Na takut hari jumat itu adalah hari terakhir pertemuan kita. Karena semua terjadi seperti sebuah perpisahan. Na takut Ai.
Tapi Ai, kalau ini menjadi yang terakhir di antara kita, gpp kan Ai? Ai harus ikhlas ea. Na juga akan berusaha untuk ikhlas kok Ai, walau sepertinya susah.
Ai, maafin Na ea. Selama ini Na udah terlalu banyak bikin salah sama Ai. Kesalahan Na kali ini begitu besar Ai. Walau Ai selalu maafin Na bagaimanapun besarnya kesalahan yang Na bikin sama Ai, tapi untuk kali ini Na ragu kalau Ai masih mau maafin Na.
Na ngerasa gak pantas ada di samping Ai. Ai udah terlalu baik sama Na. Ai udah terlalu sering maafin Na. Na ngerasa udah gak pantes lagi buat nerima itu semua Ai. Ai terlalu baik buat Na.
Setiap ngeliat Ai, Na semakin yakin kalau Ai terlalu jauh untuk bisa Na gapai. Na melihat Ai ibarat bintang yang terus berpendar di atas langit sana, sedangkan Na hanya sebatang rumput yang ikut menikmati indahnya sinar Ai. Hanya sebatang rumput Ai. Mana pantas sebatang rumput berteman dengan sebuah bintang yang begitu indah seperti Ai. Gak pantas Ai. Gak pantas.
Makasih ea Ai karena selama ini Ai udah mau nemenin Na. udah bikin Na ngerasain kebaikan Ai. Udah bikin hidup Na berwarna. Udah ngajarin Na banyak hal tentang persahabatan dan berbagi. Makasih Ai. Makasih banget. Semua terasa menjadi lebih ringan tiap kali Ai ada di samping Na. Ai udah ngajarin Na gimana caranya untuk kuat. Na pasti bakal kangen itu semua.
Makasih banyak ea Ai untuk semuanya. Maafin Na juga kalau Na selalu bikin masalah dalam hidup Ai. Na harap Ai masih mau maafin Na untuk kesalahan Na yang terakhir. Kesalahan terbesar yang udah Na lakuin sama Ai. Walau Na gak terlalu banyak berharap.
Makasih atas semua kata maaf Ai selama ini.
Kalau ini jadi yang terakhir di antara kita, Ai harus ikhlas ea.
Ai harus tetap tersenyum seperti bintang yang tak pernah bosan bersinar. Ai harus tetap bersinar di atas sana.
Makasih atas semua kata maaf Ai selama ini.

Salam sayang selalu
Temanmu    
     Na          
   ^,^                 

Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata pisahan itu.
Kubaca lagi surat itu untuk yang terakhir kalinya sebelum Kulipat dengan perlahan dan rapi. Serapi mungkin. Serapi persahabatan kita selama ini. Kutatap jauh ke depan sana. Mencoba mengingat kembali pertemuan terakhir kita. Seperti isi suratku, andai ini jadi yang terakhir diantara kita, aku ingin kamu bisa ikhlas menerimanya. Dan semoga pertemuan terakhir kita waktu itu menjadi perpisahan yang indah. Walau aku tau, nggak akan pernah ada sampai kapanpun  perpisahan yang indah.
Sebelum kumelangkah pergi meninggalkan tempat ini, kutitipkan surat itu kepada penjaga tempat ini. Seseorang yang mengenal kita cukup baik. Seseorang yang selalu menjadi saksi tentang apapun yang terjadi di antara kita selama ini.
 Kini aku disini. Masih di tempat ini. Tempat terakhir kita bertemu saat aku mengucapkan kata pisahan itu. Dan mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku kesini. Aku mulai melangkah pergi. Melangkah dengan pasti. Meninggalkan tempat ini jauh di belakangku. Meninggalkan semua kenangan yang tertinggal di belakangku. Aku harus pergi. Pergi ninggalin itu semua agar kita bisa hidup lebih tenang.
Suara Avril yang dari tadi membawakan lagu I Will Be sudah sampai pada lyric yang terakhir.
I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling apart
And All my life, you know I’ll be with you  forever
To get you through the day
And make everything okay.

3 komentar:

Ayu Jelita Lestari mengatakan...

:(
ga mesti berpisah juga kan

Agusluck "Beautiful in its time" mengatakan...

Hiks hiks hiksss...
:'(
knpa Na tinggalin Aku...heheee...
terharu.com/mantap Mba.

jgn lupa kunjungan balik di www.agusluck.heck.in

tpi yg bkin agus kesel Mba gk ngasih tau apa sbnrnya yg bkin Mba ninggalin Ai.dan Mba gk crta gmna hubungan kalian skrang...
klu bsa jawab kekesalan Gus Key!!!

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.