Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Selasa, 06 Maret 2012

(Cerpen) Anak Hujan


Anak hujan

Kecintaanku pada alam dan dunia fotografilah yang membawaku ke tempat itu. Hamparan hijau padi yang luas, dengan pegunungan yang menjulang tinggi di belakang hutan pinus sebagai latarnya. Suara gesekan antara air dan batu di sungai seakan menyanyikan senandung lagu kebebasan. Serta air hujan yang turun dengan lebatnya seolah-olah tidak mau membiarkan sedikit pun celah di bumi ini untuk kering. Adalah saksi bisu di mana aku mengabadikan foto-fotonya.
Di saat semua orang berlarian untuk mencari tempat yang teduh, ia malah berdiri diam di tengah-tengah jembatan sambil menengadahkan wajahnya. Di bawah saung kecil terdengar suara jepretan dan cahaya blitz dari kameraku, seperti berlomba dengan suara kilat yang terus menyambar. Ia begitu menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Dan baru berhenti setelah langit puas menumpahkan airnya ke bumi.
Aku tak tahu aura apa yang ia miliki sehingga puluhan potret wajahnya mengisi lembaran-lembaran film kameraku. Aku baru sadar kalau semuanya sudah berakhir saat isi filmku habis, bersamaan dengan berlalunya dia dari pandangan mataku.
"Kakak ngapain di sini? yang di tangan Kakak itu apa?." Terdengar suara lembut yang mengagetkanku dari belakang.
Sontak aku langsung menolehnya. Aku melihat seorang anak kecil berambut pendek sebahu dengan pakaian yang basah kuyup. Usianya sekitar 7-8 tahun. Kuperhatikan ia baik-baik. Dari wajah polosnya tergambar betapa indah dan bebasnya masa kanak-kanak. Di situ aku juga melihat sesuatu yang sulit untuk dikatakan. Anak yang kufoto tadi itu kini berada disampingku. Saat kutatap mata kecilnya yang bening, aku merasakan hal yang berbeda dari anak ini. Mungkin dari cara dia menatapku melalui mata beningnya telah menghipnotisku. Dia seperti seorang bidadari kecil yang turun dari langit bersama tetesan air hujan yang jatuh.

"Aw...!!!". Teriakku seketika saat kumerasakan sesuatu yang begitu dingin menyentuh punggung leherku. "Dingin tau nggak sih Va?". Kataku pura-pura marah. Tapi dia malah tertawa dan tersenyum.
"Kebiasaan deh kak Vanno ini. Pasti aja ngelamun yang nggak jelas kalau lagi melihat foto itu". Katanya sambil mengeratkan gandengannya pada lenganku dan kembali menyadarkan kepalanya di bahuku. Sedangkan aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Hampir satu jam kami berdua berdiri di depan foto ini. Foto dengan ukuran poster. Dari sekian banyak foto yang dipamerkan di sini, menurut kami berdua inilah foto yang menyimpan sejuta cerita. Bukan hanya tentang alam, keindahan, dan kebebasan tapi juga tentang sebuah kebahagiaan yang takkan pernah bisa dilupakan dan tak ternilai harganya.

"Kak Vanno tuh nggak ngelamun, tapi mikir". Jawabku.
"Oh ya? Masa?!". Tanyanya tidak yakin.
"Iya. Kamu tahu nggak Va apa yang kak Vanno pikirin setiap kali melihat foto ini?". Tanyaku.
"Apa?". Tanyanya balik.
"Pertama, kenapa kamu bisa ada di dalam foto itu. Kedua, kenapa yang kak Vanno foto malah anak kecil nggak jelas yang lagi main hujan bukannya landscape yang exotic. Terus ketiga, yang sampai saat ini Kak Vanno nggak habis pikir, kok bisa yah gara-gara foto yang Kak Vanno kasih nama anak hujan ini malah bikin kakak dapat beasiswa buat ngelanjutin study di luar negeri sampai jadi profesional dan sukses kayak gini".
"Waw... Memuji apa menghina tuh?". Tanyanya lagi. Kemudian dia tertawa kecil, "mungkin Riva dewi keberuntungannya Kak Vanno kali".
"Maybe". Jawabku singkat. "Ah, tapi nggak mungkin. Itu semua pasti karena hasil kerja kerasnya Kak Vanno sendiri".
"Yeee... Kak Vanno apaan sih". Katanya sambil memukulku pelan. "Baru aja muji, eh udah ngehina lagi. Terus tuh, kalau punya penyakit narsis nggak usah kebangetan deh".
"Uuuu. . . Bidadari kecil kakak ngambek. Tuh tuh tuh, cantiknya hilang kan kalau ngambek".
"Iiiihhh. . . Kak Vanno. Berapa kali sih Riva harus bilang kalau Riva tuh nggak kecil lagi. Jadi stop deh manggil Riva bidadari kecil". Katanya sambil cemberut manja.
"Iya iya iya, Riva udah nggak kecil lagi bidadariku yang cantik dan kamu juga dewi keberuntungannya kak Vanno".
"Naaah gitu dong. Tapi kalau Riva udah nggak jadi dewi keberuntungannya kak Vanno, kak Vanno nggak bakal ninggalin Riva kan? Karena cuma kak Vanno satu-satunya orang yang ngerti dan selalu ada buat Riva".
"Riva kok ngomongnya kayak gitu? Nggak mungkin kali kak Vanno ninggalin cewek secantik kamu. Biar bagaimanapun dan sampai kapanpun kamu tetap menjadi bidadari dan dewi keberuntungannya kakak".
"Iiiihh gombal". Katanya.
"Biarin, asal kamu nggak marah lagi dan tetap tersenyum buat kak Vanno". Aku tersenyum kearahnya, dan dia membalasku dengan senyuman yang lebih indah, senyuman yang selalu membuat aku tak pernah rela meninggalkannya sendirian di dunia ini.

Hmmm, anak hujan. Foto yang kuambil 10 tahun lalu saat usiaku masih 17 tahun dengan objek seorang anak kecil yang kini berdiri di sampingku. Sekarang dia bukan lagi anak kecil yang ada dalam foto atau bidadari kecil seperti yang ia bilang tadi. Melainkan gadis remaja yang sudah menjelma seutuhnya menjadi seorang bidadari. Tapi sampai kapan pun seorang Rivanny akan tetap sebagai anak hujan. Orang yang mendapatkam teman sejati, kebebasan dan dunianya sendiri bersamaan dengan setiap tetesan air hujan.

"Hujan itu nggak pernah ngebedain siapa pun yang mau disentuhnya. Dia juga satu-satunya yang nggak pernah ninggalin Riva. Riva dan hujan udah seperti menyatu. Dan hujan adalah jiwa Riva yang lain".

Kalimat luar biasa yang terucap dari bibir suci seorang anak kecil polos berusia 7 tahun. Aku takkan pernah melupakan kalimat itu dan akan tetap kusimpan dalam memori hatiku selama langit masih mau menumpahkan airnya ke bumi.