Anak hujan
Kecintaanku pada alam dan dunia
fotografilah yang membawaku ke tempat itu. Hamparan hijau padi yang luas,
dengan pegunungan yang menjulang tinggi di belakang hutan pinus sebagai
latarnya. Suara gesekan antara air dan batu di sungai seakan menyanyikan
senandung lagu kebebasan. Serta air hujan yang turun dengan lebatnya
seolah-olah tidak mau membiarkan sedikit pun
celah di bumi ini untuk kering. Adalah saksi bisu di mana aku mengabadikan
foto-fotonya.
Di saat semua orang berlarian untuk
mencari tempat yang teduh, ia malah berdiri diam di tengah-tengah jembatan
sambil menengadahkan wajahnya. Di bawah saung kecil terdengar suara jepretan
dan cahaya blitz dari kameraku, seperti berlomba dengan suara kilat yang terus
menyambar. Ia begitu menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi wajah dan
seluruh tubuhnya. Dan baru berhenti setelah langit puas menumpahkan airnya ke
bumi.
Aku tak tahu aura apa yang ia miliki
sehingga puluhan potret wajahnya mengisi lembaran-lembaran film kameraku. Aku
baru sadar kalau semuanya sudah berakhir saat isi filmku habis, bersamaan
dengan berlalunya dia dari pandangan mataku.
"Kakak ngapain di sini? yang di
tangan Kakak itu apa?." Terdengar suara lembut yang mengagetkanku dari
belakang.
Sontak aku langsung menolehnya. Aku
melihat seorang anak kecil berambut pendek sebahu dengan pakaian yang basah
kuyup. Usianya sekitar 7-8 tahun. Kuperhatikan ia baik-baik. Dari wajah
polosnya tergambar betapa indah dan bebasnya masa kanak-kanak. Di situ aku juga
melihat sesuatu yang sulit untuk dikatakan. Anak yang kufoto tadi itu kini
berada disampingku. Saat kutatap mata kecilnya yang bening, aku merasakan hal
yang berbeda dari anak ini. Mungkin dari cara dia menatapku melalui mata
beningnya telah menghipnotisku. Dia seperti seorang bidadari kecil yang turun
dari langit bersama tetesan air hujan yang jatuh.
"Aw...!!!". Teriakku seketika
saat kumerasakan sesuatu yang begitu dingin menyentuh punggung leherku.
"Dingin tau nggak sih Va?". Kataku pura-pura marah. Tapi dia malah
tertawa dan tersenyum.
"Kebiasaan deh kak Vanno ini.
Pasti aja ngelamun yang nggak jelas kalau lagi melihat foto itu". Katanya
sambil mengeratkan gandengannya pada lenganku dan kembali menyadarkan kepalanya
di bahuku. Sedangkan aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
Hampir satu jam kami berdua berdiri di
depan foto ini. Foto dengan ukuran poster. Dari sekian banyak foto yang
dipamerkan di sini, menurut kami berdua inilah foto yang menyimpan sejuta
cerita. Bukan hanya tentang alam, keindahan, dan kebebasan tapi juga tentang
sebuah kebahagiaan yang takkan pernah bisa dilupakan dan tak ternilai harganya.
"Kak Vanno tuh nggak ngelamun,
tapi mikir". Jawabku.
"Oh ya? Masa?!". Tanyanya
tidak yakin.
"Iya. Kamu tahu nggak Va apa yang
kak Vanno pikirin setiap kali melihat foto ini?". Tanyaku.
"Apa?". Tanyanya balik.
"Pertama, kenapa kamu bisa ada di
dalam foto itu. Kedua, kenapa yang kak Vanno foto malah anak kecil nggak jelas
yang lagi main hujan bukannya landscape yang exotic. Terus ketiga, yang sampai
saat ini Kak Vanno nggak habis pikir, kok bisa yah gara-gara foto yang Kak
Vanno kasih nama anak hujan ini malah bikin kakak dapat beasiswa buat
ngelanjutin study di luar negeri sampai jadi profesional dan sukses kayak
gini".
"Waw... Memuji apa menghina
tuh?". Tanyanya lagi. Kemudian dia tertawa kecil, "mungkin Riva dewi
keberuntungannya Kak Vanno kali".
"Maybe". Jawabku singkat.
"Ah, tapi nggak mungkin. Itu semua pasti karena hasil kerja kerasnya Kak
Vanno sendiri".
"Yeee... Kak Vanno apaan
sih". Katanya sambil memukulku pelan. "Baru aja muji, eh udah ngehina
lagi. Terus tuh, kalau punya penyakit narsis nggak usah kebangetan deh".
"Uuuu. . . Bidadari kecil kakak
ngambek. Tuh tuh tuh, cantiknya hilang kan kalau ngambek".
"Iiiihhh. . . Kak Vanno. Berapa
kali sih Riva harus bilang kalau Riva tuh nggak kecil lagi. Jadi stop deh
manggil Riva bidadari kecil". Katanya sambil cemberut manja.
"Iya iya iya, Riva udah nggak
kecil lagi bidadariku yang cantik dan kamu juga dewi keberuntungannya kak
Vanno".
"Naaah gitu dong. Tapi kalau Riva udah
nggak jadi dewi keberuntungannya kak Vanno, kak Vanno nggak bakal ninggalin
Riva kan? Karena cuma kak Vanno satu-satunya orang yang ngerti dan selalu ada
buat Riva".
"Riva kok ngomongnya kayak gitu?
Nggak mungkin kali kak Vanno ninggalin cewek secantik kamu. Biar bagaimanapun
dan sampai kapanpun kamu tetap menjadi bidadari dan dewi keberuntungannya
kakak".
"Iiiihh gombal". Katanya.
"Biarin, asal kamu nggak marah
lagi dan tetap tersenyum buat kak Vanno". Aku tersenyum kearahnya, dan dia membalasku dengan
senyuman yang lebih indah, senyuman yang selalu membuat aku tak pernah rela
meninggalkannya sendirian di dunia ini.
Hmmm, anak hujan. Foto yang kuambil 10
tahun lalu saat usiaku masih 17 tahun dengan objek seorang anak kecil yang kini
berdiri di sampingku. Sekarang dia bukan lagi anak kecil yang ada dalam foto
atau bidadari kecil seperti yang ia bilang tadi. Melainkan gadis remaja yang
sudah menjelma seutuhnya menjadi seorang bidadari. Tapi sampai kapan pun
seorang Rivanny akan tetap sebagai anak hujan. Orang yang mendapatkam teman
sejati, kebebasan dan dunianya sendiri bersamaan dengan setiap tetesan air
hujan.
"Hujan itu nggak pernah ngebedain
siapa pun yang mau disentuhnya. Dia juga satu-satunya yang nggak pernah
ninggalin Riva. Riva dan hujan udah seperti menyatu. Dan hujan adalah jiwa Riva
yang lain".
Kalimat luar biasa yang terucap dari
bibir suci seorang anak kecil polos berusia 7 tahun. Aku takkan pernah
melupakan kalimat itu dan akan tetap kusimpan dalam memori hatiku selama langit
masih mau menumpahkan airnya ke bumi.