Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Senin, 20 Agustus 2012

Galauvitasi


          Hei qm..!! | Iya qm..!! | Qm liat aq kan..? | Liat senyumq..!! | Qm memang udah berhasil bikin air mata q menetes saat ingat qm.. tapi qm gak akan  pernah bisa menghapus senyum ini dari wajah q.. ^_^

         
          Qm tw, aq udah belajar tentang hal ini sejak lama.
          “Jangan pernah letakkan kebahagianmu di tangan orang lain, tapi letakkanlah di tanganmu sendiri. Karena orang lain tak pernah abadi berada di sisimu, hanya dirimulah yang abadi untuk dirimu sendiri.”

          Jika ada yang bilang aq egois, keras kepala, gak bisa dikasih tau, mau seenaknya sendiri, itu memang benar. Karena dengan cara itu aq bisa bahagia. Aq yang memilih dan menentukan cara aq untuk bahagia. So, jangan salahin aq jika aq seperti itu.
          Jujur, aq bukan cewek yang kuat. Terlalu gampang menangis malah, tapi aq selalu berusaha untuk mencoba kuat. Mecoba tersenyum. Gak ada salahnya kan menyembunyikan tangisan di balik senyuman...?? B-)

          Ah.. kalo di ingat-ingat nasib aq tragis bgt ea, ngenes, suram, dan kawan-kawan.. hahahaha.. bayangin aja, mana ada cewek yang di tinggal kayak aq. Mirip penumpang bus yang gak bawa uang bwt bayar, trus diturunin di pinggir jalan dweh. Hedeeeeeeeeeeeehh.. SYEEEEEEEEEUUUDDDDDIIIIIIIIHHHHHHH...!!!!!!! ( Y_Y )
          Tapi buat apa sedih lama-lama..? dari dulu aq udah percaya jika “TUHAN TIDAK AKAN PERNAH NINGGALIN AQ SENDIRI...!!” ^_^ mw bukti..? andai qm malam itu ada di sini di samping aq, minimal bisa ngintipin aq lch di saat aq lagi nungguin qm, qm bakal liat siapa orang yang mencoba bikin aq gak merasa sendiri. Walaupun gak di sengaja seh. Aq gak pernah meminta mereka datang, tapi Tuhan terlalu sayang sama aq, makanya Tuhan ngasih mereka buat aq. Meskipun begitu, aq masih aja kepikiran qm, berharap ada qm. Ah.. AQ MEMANG CEWEK BODOH & TIDAK PANDAI BERSYUKUR.. ckckckcck.
          Anehnya malam itu, di benakku selalu terngiang-ngian puisi karyanya Rendra. Mungkin menggambarkan perasaan aq banget kali ea.. haghaghag.. gini neh puisinya.
KANGEN
Kau takkan mengerti  bagaimana kesepianku
Mengahadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
Kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakukan dan kelumpuhanku.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

          Tu kan, jadi sedih lagi padahal Cuma ngetik puisinya doank. Tapi maknanya itu lho yang ngena banget. Apalagi ne ada lagunya Wedding Dress dari Tae Yang. Hedeeeehhh. Ingat video klipnya ntu bikin mewek. Hiks..
          Ah sudahlah. Capek kalo kayak gini terus. Live must go on. Jangan sampe katularan “cowok alim setengah ganteng” yang statusnya galau mulu gara-gara cintanya ditolak.. ( :D ). Lagian, kata si jutek mah, “HARI GINI GALAU? UDAH GAK ZAMAN”. Hahahaha. Toh bang Darwis juga slalu ngasih semangat, motivasi, & nasehat buat member-member setianya. So, jangan bebal dweh Na..!!
          Duh, jadi ingat sama note.nya bang darwis yang berjudul “Everlasting”. Catatan yang selalu bikin aq sadar, dan paham. Aq harus mengerti, karena orang yang mengerti maka mereka akan tau jika segala sesuatu yang tepat itu akan datang di waktu yang tepat pula.

AYO NA, CHEMUNGUDH..!! ^_^

Banjarmasin, 19 agustus 2012

Selasa, 14 Agustus 2012

I Love U


oleh Darwis Tere Liye pada 9 Agustus 2012 pukul 22:14 ·
I LOVE YOU

Satu pemuda dengan mata berbinar-binar, di bawah temaram lampu kota Jakarta,  dengan pemandangan jalanan yang super-macet, akan bilang dengan suara bergetar: "Aku cinta padamu." Lupakan sekitarnya, dunia seperti milik berdua saja—yang lain, yang sedang macet di jalanan hanya numpang.
Sementara di belahan China sana, di lorong-lorong toko yang ramai, bertemudi bawah hiasan lampion dan naga-naga merah, asap mie kuah mengepul, serakan bebek peking, mereka akan bilang: "Wo ai ni." Lain pula satu pemuda bavaria, di dekat sisa tembok Berlin yang sekarang jadi hiasan toilet, menggunakan syal Bayern Muenchen, dia akan berbisik mesra ke pasangannya: "Ich liebe dich.” Sedangkan di India sana, dengan sedikit kerling mata, sedikit aca-aca, diiringi banyak tari dan lagu, mereka akan bilang: "Mein tumse pyar karta hoon", atau "Tane prem karoo choo" bagi dialek Gujarat. Si cewek mengangguk, bukankah dia juga selama ini sudah "Kuch-kuch hota hai" pula? Cocok? Bukan main. 
Ah, di bawah menara Eiffel yg elok, bermandikan cahaya, lihatlah seorang pemuda Perancis, akan mengatakan dengan gagah kalimat: "Je t’aime." Konon, katanya bahasa Perancis adalah bahasa yang paling indah, jadi bayangkan betapa super-indahnya pernyataan cinta itu ketika dikatakan. Indah kuadrat, itu sama dengan, eh super indah.
Lain kisah teman Jepang kita yang sedang berduaan sambil menatap gunung Fuji yang juga indah, sakura-san akan bilang: "Kimi o ai shiteru". Dan pasangannya akan mengangguk malu-malu. Besok mereka akan bertamasya ke Menara Tokyo yang terkenal itu, atau bermain di Disneyland, Tokyo, entalah. Kalian demam K-Pop? Kalau begitu, tidak perlu saya beritahu bagaimana orang Korea bilang aku cinta padamu, toh, jangan-jangan kalian sudah lama menulis kalimat tersebut di buku tulis, lantas diberi gambar love, love, atau ilustrasi hati merah yang seperti gelembung sabun terbang di mana-mana. Sambil di bawahnya ada tulisan kecial: muach, muuachh.
"Ana behibek" kata pemuda Arab sambil tersipu ke pasangannya, maka sang gadis akan menjawab, "Ana behibak". Tak kalah tersipunya. Tapi, jangan salah kalimatnya. Ada behibak, ada behibek. Huruf a dan e bisa membedakan arti di gurun pasir sana, kalian bisa disangka suka sesama jenis jika salah pakai. Saya juga tidak paham bahasa Arab, tapi ini peringatan yang baik.
Kakek-nenek kita dulu yang masih mengalami penjajahan Belanda, pasti pernah mendengar meneer dan mevrouw (nyonya) Belandea saling bilang: "Ik hou van jou", dan lucunya, kakekku dulu juga suka menirunya, cuek bilang: "Ekhopanjo, bojoku." Tak masalah separuh-separuh begitu, tak masalah salah-salah lafal, kan bibirnya tetap bibir inlander pribumi. Yang penting nenek mengerti, dan balas bilang "Ekhopanjo juga karo sampeyan." Beruntung kita tidak dijajah bangsa Hongaria atau Kazakhastan, kan susah banget nulis kalimat cinta mereka: "Szeretlek te’ged", "Men seny jaksy kuremyn". puh, apalagi pas bilangnya, tambah syusah, kebanyakan huruf konsonannya. Tapi meski susah banget bagi lidah kita, ajaib, ini kalimat mungkin sudah setengah mati ditunggu seorang gadis yang selalu menatap penuh harap seorang pemuda yang selalu berjalan lambat di gang depan rumahnya di kota Budapest yang eksotis itu. Boleh jadi di dalam hatinya dia berseru, oh, katakanlah "Szeret-zeret tadi padaku." 
"Mahal kita" kata orang Filipina, "Ya lyublyu tebya" kata orang Rusia, "Tora dust daram" seru orang Persia, "Ti amo" kata orang Italia, dan seterusnya dan seterusnya. Begitu banyak versi kalimat I Love You di belahan dunia. Saking banyaknya, tak terhitung. Karena bahasa-bahasa setempat juga punya versi sendiri. Di Indonesia saja ada lebih tiga ratus bahasa lokal, maka akan ada tiga ratus pula versi kalimat "Aku cinta padamu?" Di Sumedang, Banten sana, Padang, Pulau Enggano, Pelosok Papua, Sulawesi, pedalaman Kalimantan, dan entahlah.
Nah, pernahkah ada yang berpikir bagaimana manusia mengungkapkan "I Love You" pada jaman pra-sejarah? Saat bahasa belum ada? Saat manusia masih ber "a-a-a, u-u-u, a-a-a-a", masih mengejar-ngejar dan dikejar-kejar dinosaurus dan kawan-kawannya? Kan mereka belum punya kalimat sama sekali, jangankan "I Love You", mau bilang makan saja susah, "a-a-a-a, i-i-i." Maka, menurut teman saya, yang amatiran soal antropologi dan sejarah manusia, katanya mereka menyampaikan rasa cintanya dengan pentungan batu. Sungguh. Pakai pentungan batu. Jdut! Sang cowok akan memukul kepala cewek idamannya, lantas berteriak-teriak, "i-i-i…u-u-u…" Nah, loh! Celakanya lagi, menurut analisis ngaco teman saya itu, semakin dalam cintanya, maka semakin keras sang cowok akan menggunakan pentungan batu yang sehari-hari buat melempar gajah purba tersebut. Si cewek mati karena digebuk? Ah, mana ada "kalimat cinta" membuat mati seseorang. Semaput sih iya. Si cewek cuma pingsan sedikit, lantas akan siuman, kemudian tentu saja akan membalas memukul tak kalah kerasnya, "i-i-i…u-u-u…." Aku cinta kamu juga. Pakai banget, loh. 
Nah, pernahkah juga kalian berpikir bagaimana pula dengan pasangan yang cacat, kurang beruntung? Pasangan yang buta dan tuli misalnya? Bagaimana mereka akan bilang cinta? Melihat tak bisa, mendengar juga tak bisa Ah, Tuhan selalu punya skenario hebat untuk urusan ini. Aku pernah terkesima menyaksikan sepasang buta yang naik kendaraan umum. Mereka saling berpegangan tangan sejak memasuki pintu kereta. Mesra nian. Meski umur mereka berbilang lima puluhan. Yang laki dengan lembut membimbing yang wanita menuju kursi memakai tongkatnya (meski sebenarnya penumpang lain yang membantu mereka menyibak padatnya kereta). Lantas mereka duduk bersisian. Yang wanita lantas meraba-raba sakunya, mengambil dua butir permen. Membukakan satu untuk pasangannya, satu untuk dirinya sendiri. Mereka buta, jadi amat menyentuh hati melihat kemesraan dua butir permen itu. Butuh dua menit untuk membuka dua permen itu Aku menghela nafas panjang. Bagi mereka, kalimat sungguh kecantikan wajah tak ada gunanya, ketampanan pasangan tidak penting benar-benar menjadi bukti nyata. Cara tangan mereka meraba-raba, menyentuh lengan pasangannya sudah bilang sejuta cinta. Dan aku mendadak jengah. Malu. Ya Tuhan, bandingkan cinta mereka dengan cinta yang kupahami dan kuinginkan. Sungguh mereka mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya. Besok lusa akan saya tulis dalam banyak buku-buku.
Nah, setelah begitu panjang lebar membahas kalimat ‘I Love You’, jadi sebenarnya poin penting apa yang hendak saya sampaikan? Simpel. Kita punya banyak cara menyampaikan cinta. Punya banyak kalimat. Bahasa. Tetapi sadarilah, cara terbaik untuk menyampaikan cinta adalah dengan perlakuan. Dengan perbuatan. Dengan pengorbanan yang tulus. Tidak peduli apakah seseorang itu akan membalas cinta kita atau tidak. Tidak peduli apakah perlu kalimat itu diucapkan atau tidak. Ucapkanlah dengan memberi tanpa mengharap, memberi tanpa mengambil, itulah simbolisasi cinta yang paling indah.
Makanya tidak perlu heran jika menemukan sepasang kekasih, berumur 90 tahun. Sudah menikah 70 tahun. Memiliki anak 12, cucu 30, cicit 67. Tinggal sederhana di kaki Gunung Kerinci. Kemarin lusa sang istri tercinta pergi. Dan saat sang suami yang tua menatap sedih butir demi butir tanah dimasukkan menutupi jasad istrinya, meski menangis, dia tersenyum rela. Padahal sempurna, dia sempurna tidak pernah bilang "Aku cinta padamu"  kepada almarhum istrinya. Tidak pernah selama 70 tahun kebersamaan mereka. Karena kalimat itu selalu kelu saat akan diucapkan. Selalu tersumbat saat akan dikatakan. Kalimat itu terlalu sakral bagi mereka berdua. Tetapi almarhum istrinya tahu persis, suaminya amat mencintainya, karena kalimat itu terukir indah bersama hari-hari mereka yang hebat. 25.500 hari. Hari-hari suka-cita, hari-hari pertengkaran, hari-hari kebahagiaan, hari-hari kesedihan, hingga hari2 kepergian. Mereka telah berbagi 25.500 hari.
Kita sudah berbagi berapa hari?
Jika usia kita saat ini katakanlah lima belas tahun, maka yang bisa saya pastikan, kita sudah tinggal bersama keluarga kita selama 5.000 hari lebih. Jika usia kita saat ini katakanlah tiga puluh tahun, maka kita sudah tinggal bersama keluarga kita selama 10,000 hari lebih. Maka sebelum menyontek berbagai ragam kalimat ‘I Love You’ di atas, jangan lupa, mulailah dengan bilang kalimat itu pada keluarga kita. Ayah, Ibu, adik, kakak. Itu tidak kalah spesialnya.
Itu bahkan selalu spesial.

*** 
 
Sumber: *Tere Liye, ditulis tahun 2007

Sabtu, 21 Juli 2012

PENGHIANATAN


Penghianatan

          Siapa seh yg gak tw kata penghianatan. Gw yakin semua org pasti gak da yg suka kalo dihianati. Dihianati teman, sahabat, sodara, pacar, suami/istri, anak, keluarga, relasi bisnis, dll. Pasti tu rasanya sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt bgt.
          ada penghianatan karena adanya kepercayaan. Saat lo percaya sama seseorang, lo pasti bakal merasakan yg namanya penghianatan. Tapi kalo misalkan lo gak pernah percaya sedikitpun sama seseorang, lo jg gak bakal pernah ngerasain yg namanya penghianatan. Percaya dweh sm gw..
          ngomong” soal penghianatan, penghianatan yg sering terjadi di sekitar gw adalah penghianatan oleh org yg dicintai. Biasa.. remaja. Kalaupun ada tentang sahabat pasti ujung”nya rebutan pacar juga.. huhuhu..
          o ea, gw pernah bikin suatu teori, kesimpulan dari cerita ato pengalaman org”. Isinya gini..

seorang playboy / playgirl, pasti dulunya pernah jadi korban penghianatan.

          Penghianatan yg dimaksud di atas tetep ea penghianatan oleh org yg dicintai (pacar). Terlalu diskiminatif bgt memang.. tapi itulah kenyataan. Memang seh gak semua korban penghianatan kemudian berubah jadi playboy / playgirl.
          Lo tw kan istilah “kepercayaan itu seperti selaput dara pada perempuan, sekali robek, susah buat dikembalikan seperti semula”. Nah.. makanya.. keprcayaan itu mahal harganya.
          Pernah denger lagu dangdut (gw lupa judulnya) yg isinya gini.. “tidak semua laki-laki bersalah padamu.. contohnya aq masih mencintaimu, tapi mengapa engkau masih ragu?”  nah, dari lirik lagu tersebut, keliatan bgt kan kalo bwt mengembalikan kepercayaan itu susah bgt. Org yg udah terhianati, pasti bkal jadi ragu sama apa yg d berikan oleh org lain. Apalagi kalo udah berulang kali dikhianati. Tragis bgt..
          Gw ngomong gini gak asal ngomong lho. Gw jg pernah jd korban penghianatan. Tapi bukan berarti gw menjadi benar” gak percaya sama sekali dgn org lain. Gw masih bisa percaya sama orang lain kok, tapi bawaannnya selalu parno sendiri, sekaligus curigaan.
          Ah, mungkin dulu gw terlalu ngasih kepercayaan kali ea, makanya sampe kecolongan gitu. Tapi anehnya yg bikin gw sakit adalah sama cewek yg baru d kenalnya itu. Bener” bkin gw parno sampe sekarang.
          Gw inget bgt, waktu itu dia izin mw ketemu org, gw seh ngizinin aja. Katanya org itu mw nawarin kerjaan. Tapi ternyata eh ternyata, janjian sma A yg dtg mlah tmennya A alias B. Terus yg gw gak tw mereka jadi deket gara” itu. Bayangain aja, berbulan” gw baru tw. Untungnya tu org cerita ssemua k gw pas udah putus. Jadi sakitnya gak terlalu bgt bgt dweh..
          Waktu dia pertama ketemu sama tu cewek, gw seh gak punya feeling apa”.. tapi waktu dia ketemu untuk kedua kalinya, walaupun dia gak cerita mw ketemu org, hari itu gw bawaannya gelisah bgt. Gak tenang.. pengennya marah” aja.
          Feeling gw gak pernah salah.. kalo feeling udah mulai gak enak, pasti terjadi sesuatu yg gak enak pula. Ato mungkin ada sesuatu yg disembunyiin dari gw.
          Ah sudahlah.. tapi yg pasti dari tulisan gw yg gaje ini, gw cm mw ngasih tw, tolong, jgn coba” sembunyiin sesuatu dari gw. Jgn bohongin gw. Jgn hianatin kepercayaan gw. Cukup 1 kali aja gw ngerasain penghianatan. Gw takut gak kuat untuk yg kedua kalinya.
          Gw cm gak mau jd org yg terlalu sinis terhadap org lain. Gak pernah bisa percaya sma org lain. Dan hidup dalam bayang” penuh rasa curiga.

          Akhir kata, terimakasih atas kunjungan kalian k sini.. B-)
          Nanti mampir lagi ea.. B-)

Rabu, 06 Juni 2012

GAJE PART 2


Huaaaaaaa……..
Kayaknya udah lama ea gak nengokin ne blog..?
Hehehe.. maklum dweh, akhir-akhir ini lagi sibuk-sibuknya sama tugas kul (Wuusssssshhhh… ) gw ngerjain tugas kuliah lho.. hohoho.. seharusnya kalian biasa aja seh nanggepinnya, knpa? Ea karena gw kan orgnya mank rajjin.. (JEGER..!!) yang gak setuju sama apa yang gw bilang tadi silahkan ngacung..!! hahahahaha..
Eh, postingan ini adalah postingan gaje kedua gw. Gw lg gak ada ide bikin cerpen nui, jadinya ea cerita nyata aja yang gw tulis d sini, anggaplah ini diary elektronik gw.. hehehehe.. maaf ea udah bikin sakit mata kalian yang baca.. B-)
Gw mau curhatin semuanya di sini, pertama soal tugas kul yang benar-benar mesti ngejar deadline. Huaaaaa… bukan Cuma itu, semua dosen kayaknya hobi nyari masalah dweh, dari kegiatan seminar yang mw gak mw mesti di ikutin, trus, tugas bkin proposal yang hrus selesai dalam waktu 1 minggu. Lebih parahnya lagi ada dosen yang nyuruh bikin makalah Cuma d kasih waktu kurang dari 24 jam. Gila, yang benar aja tuh dosen. Apa seh maunya. Huhuhu..
O ea, curhatan gw bukan Cuma tentang tugas kul yang selalu mellow,  bikin hati miris, sampai gerimis, untung gak pake badai.. hahaha.. gw juga punya cerita lain, kali ini kabar bahagia. Hehehe..
Kabar bahagia gw karena any someone special in my life, my heart, my mind, my world, and... gak tw lagi ah apa aja. Yang pasti dia udah kayak anak TK yang ikutan lomba mewarnai, yang di warnai itu adalah hari-hari gw... hhhooooo... huaaaaaaa... bahaya neh kalo dia baca, bisa-bisa ntar di atas langit sana ada dia lagi.. huhuhu..
Namanya... kasih tw gak ea..? kasih tw gak ea..? kasih tw gak ea..? kalo mw tau orangnya, buka aja d FB gw.. hehehe... B-) <= muka imut..
Yang gw mw bilang adalah, kalo gw itu sayang, sayang, sayang, sayang, sayang, sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget sama dia.. walaupun dia selalu bilang klau rasa sayang, cinta, dan kangennya dia k gw slalu lebih besar dibanding rasa sayang, cinta, dan kangen gw k dia.. iyakan aja dweh dari pada ntar mukanya manyun.. xixixixi.. B-)
Jgn bilang kalo kami pacaran ea, cz kami mank gak pacaran, tapi BERTUNANGAN. Pacaran dan tunangan itu statusnya beda lho. Setidaknya kami udah berkomitmen buat srius.. doain smoga lancar sampe k akhir tujuan ea.. B-)
Ngomongin soal FB, sekarang gw lagi suka seru-seruan di Fans page FB, namanya Autisme Effect (AE). Gila tuh FP, isinya orang-orang saraf semua. Gak usah pura-pura jadi jaim dweh kalo d situ, kalo lo pura-pura alim, wuuuuuussssshhhh,. Lo Cuma bakal di anggap angin lalu.. hahaha..
Tempatnya seru buat gila-gilaan. Status-statusnya pada bikin ngakak semua, walaupun kadang yang posting isinya bikin yang baca geleng-geleng kepala. Asyiknya tu fp, bukan Cuma admin yang mw nyapa autiser (org-org yang ng.like tu fp) tapi sesama autiser gak ada yang sombong. Semua saling menyapa dan berteman. Asalkan lo berani buat gila.. B-)
Waaaaahhh harusnya gw dapat royalti neh karena udah promosiin ne FP d blog gw.. huhuhu.
Eh.. gw punya kabar buru, buruk bwt gw sendiri seh sebenarnya.. skripsi tahun klulusan gw nanti udah gak bisa lagi mengajukan tentang sastra. Hiks.. syedddiiiihhh.. sekarng gw bingung sendiri bwt skripsi mesti bikin apaan. Hufh.. :( mana giliran gw skripsi tinggal 1 tahun lagi. Masa gw harus ngambil PTK..? mlz bgt cuy.. mlz buat observasi k skulnya. Hiks :’( duuuuuhhhh.. mumet mumet dah ne kepala..
          Eh.. udahan dulu yeee.. gw bingung nui mw nulis apaan lagi.. heee.. maklum.. ne kpala lagi penuh ma tgs kmpz.. B-)
Happy always aja dweh buat kalian-kalian yang udah baca ne blog.. c u d next time..
Muach muach muach muach buat kalian smua.. :* :* :* :*

Selasa, 06 Maret 2012

(Cerpen) Anak Hujan


Anak hujan

Kecintaanku pada alam dan dunia fotografilah yang membawaku ke tempat itu. Hamparan hijau padi yang luas, dengan pegunungan yang menjulang tinggi di belakang hutan pinus sebagai latarnya. Suara gesekan antara air dan batu di sungai seakan menyanyikan senandung lagu kebebasan. Serta air hujan yang turun dengan lebatnya seolah-olah tidak mau membiarkan sedikit pun celah di bumi ini untuk kering. Adalah saksi bisu di mana aku mengabadikan foto-fotonya.
Di saat semua orang berlarian untuk mencari tempat yang teduh, ia malah berdiri diam di tengah-tengah jembatan sambil menengadahkan wajahnya. Di bawah saung kecil terdengar suara jepretan dan cahaya blitz dari kameraku, seperti berlomba dengan suara kilat yang terus menyambar. Ia begitu menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Dan baru berhenti setelah langit puas menumpahkan airnya ke bumi.
Aku tak tahu aura apa yang ia miliki sehingga puluhan potret wajahnya mengisi lembaran-lembaran film kameraku. Aku baru sadar kalau semuanya sudah berakhir saat isi filmku habis, bersamaan dengan berlalunya dia dari pandangan mataku.
"Kakak ngapain di sini? yang di tangan Kakak itu apa?." Terdengar suara lembut yang mengagetkanku dari belakang.
Sontak aku langsung menolehnya. Aku melihat seorang anak kecil berambut pendek sebahu dengan pakaian yang basah kuyup. Usianya sekitar 7-8 tahun. Kuperhatikan ia baik-baik. Dari wajah polosnya tergambar betapa indah dan bebasnya masa kanak-kanak. Di situ aku juga melihat sesuatu yang sulit untuk dikatakan. Anak yang kufoto tadi itu kini berada disampingku. Saat kutatap mata kecilnya yang bening, aku merasakan hal yang berbeda dari anak ini. Mungkin dari cara dia menatapku melalui mata beningnya telah menghipnotisku. Dia seperti seorang bidadari kecil yang turun dari langit bersama tetesan air hujan yang jatuh.

"Aw...!!!". Teriakku seketika saat kumerasakan sesuatu yang begitu dingin menyentuh punggung leherku. "Dingin tau nggak sih Va?". Kataku pura-pura marah. Tapi dia malah tertawa dan tersenyum.
"Kebiasaan deh kak Vanno ini. Pasti aja ngelamun yang nggak jelas kalau lagi melihat foto itu". Katanya sambil mengeratkan gandengannya pada lenganku dan kembali menyadarkan kepalanya di bahuku. Sedangkan aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Hampir satu jam kami berdua berdiri di depan foto ini. Foto dengan ukuran poster. Dari sekian banyak foto yang dipamerkan di sini, menurut kami berdua inilah foto yang menyimpan sejuta cerita. Bukan hanya tentang alam, keindahan, dan kebebasan tapi juga tentang sebuah kebahagiaan yang takkan pernah bisa dilupakan dan tak ternilai harganya.

"Kak Vanno tuh nggak ngelamun, tapi mikir". Jawabku.
"Oh ya? Masa?!". Tanyanya tidak yakin.
"Iya. Kamu tahu nggak Va apa yang kak Vanno pikirin setiap kali melihat foto ini?". Tanyaku.
"Apa?". Tanyanya balik.
"Pertama, kenapa kamu bisa ada di dalam foto itu. Kedua, kenapa yang kak Vanno foto malah anak kecil nggak jelas yang lagi main hujan bukannya landscape yang exotic. Terus ketiga, yang sampai saat ini Kak Vanno nggak habis pikir, kok bisa yah gara-gara foto yang Kak Vanno kasih nama anak hujan ini malah bikin kakak dapat beasiswa buat ngelanjutin study di luar negeri sampai jadi profesional dan sukses kayak gini".
"Waw... Memuji apa menghina tuh?". Tanyanya lagi. Kemudian dia tertawa kecil, "mungkin Riva dewi keberuntungannya Kak Vanno kali".
"Maybe". Jawabku singkat. "Ah, tapi nggak mungkin. Itu semua pasti karena hasil kerja kerasnya Kak Vanno sendiri".
"Yeee... Kak Vanno apaan sih". Katanya sambil memukulku pelan. "Baru aja muji, eh udah ngehina lagi. Terus tuh, kalau punya penyakit narsis nggak usah kebangetan deh".
"Uuuu. . . Bidadari kecil kakak ngambek. Tuh tuh tuh, cantiknya hilang kan kalau ngambek".
"Iiiihhh. . . Kak Vanno. Berapa kali sih Riva harus bilang kalau Riva tuh nggak kecil lagi. Jadi stop deh manggil Riva bidadari kecil". Katanya sambil cemberut manja.
"Iya iya iya, Riva udah nggak kecil lagi bidadariku yang cantik dan kamu juga dewi keberuntungannya kak Vanno".
"Naaah gitu dong. Tapi kalau Riva udah nggak jadi dewi keberuntungannya kak Vanno, kak Vanno nggak bakal ninggalin Riva kan? Karena cuma kak Vanno satu-satunya orang yang ngerti dan selalu ada buat Riva".
"Riva kok ngomongnya kayak gitu? Nggak mungkin kali kak Vanno ninggalin cewek secantik kamu. Biar bagaimanapun dan sampai kapanpun kamu tetap menjadi bidadari dan dewi keberuntungannya kakak".
"Iiiihh gombal". Katanya.
"Biarin, asal kamu nggak marah lagi dan tetap tersenyum buat kak Vanno". Aku tersenyum kearahnya, dan dia membalasku dengan senyuman yang lebih indah, senyuman yang selalu membuat aku tak pernah rela meninggalkannya sendirian di dunia ini.

Hmmm, anak hujan. Foto yang kuambil 10 tahun lalu saat usiaku masih 17 tahun dengan objek seorang anak kecil yang kini berdiri di sampingku. Sekarang dia bukan lagi anak kecil yang ada dalam foto atau bidadari kecil seperti yang ia bilang tadi. Melainkan gadis remaja yang sudah menjelma seutuhnya menjadi seorang bidadari. Tapi sampai kapan pun seorang Rivanny akan tetap sebagai anak hujan. Orang yang mendapatkam teman sejati, kebebasan dan dunianya sendiri bersamaan dengan setiap tetesan air hujan.

"Hujan itu nggak pernah ngebedain siapa pun yang mau disentuhnya. Dia juga satu-satunya yang nggak pernah ninggalin Riva. Riva dan hujan udah seperti menyatu. Dan hujan adalah jiwa Riva yang lain".

Kalimat luar biasa yang terucap dari bibir suci seorang anak kecil polos berusia 7 tahun. Aku takkan pernah melupakan kalimat itu dan akan tetap kusimpan dalam memori hatiku selama langit masih mau menumpahkan airnya ke bumi.