Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Rabu, 12 November 2014

(Cerpen) Alangkah Lucunya Negeri ini sehingga Malu Aku Jadi Orang Indonesia



            Pukul 7.10 malam bel tanda masuk berbunyi. Kursi-kursi kosong mulai terisi satu persatu. Mereka adalah teman-temanku satu kelas yang mengikuti bimbingan belajar tambahan di luar sekolah.
            Selasa malam. Malam ini jujur aku penasaran menunggu siklus dua mingguan. Mata pelajaran bahasa Indonesia. Kira-kira ibu guru nyetrikku mau melakukan pertunjukan apa lagi untuk merefresh otak kami yang sedikit lelah karena belajar terus-terusan. Kenapa aku menyebutnya siklus 2 mingguan? Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena jadwal mata pelajaran wajib yang satu ini hanya setiap dua minggu sekali. Dua minggu lalu untuk pertama kalinya Bu Nani – begitu kami menyebutnya – tiba-tiba masuk dengan nada salam yang berbeda dari biasanya. Menyapa dengan nada cepat, berbicara pun demikian layaknya penyiar-penyiar radio. Selain itu, sebelum belajar kami disuguhi dua buah lagu terlebih dahulu. Wah.. rasanya memang seperti nonton siaran radio secara live. Live. Iyah, live (sengaja di ulang biar jelas). Penyiarnya tepat ada di depan kami, suaranya jelas kami dengar. Kalau bukan live, apalagi namanya?
            Kreeek, buk. Suara pintu di tutup. Tempat dudukku persis di samping pintu yang ada di belakang. Bu Nani berdiri memunggungi pintu. Terlihat menarik nafas untuk menenangkan diri.
            “Assalamualaikum.” Teman di sampingku mulai menebak apa yang dikatakan beliau. Tapi guru perempuanku yang satu ini hanya menggerakkan tangan mengisayaratkan bukan itu yang ingin disampaikan.
            “Selamat malam?” Usaha temanku lagi masih mencoba menebak. Kali ini masih dibalas dengan gerakan tangan ditambah gelengan kepala.
            “Pasti suaranya bakal berubah.” Temanku yang lain ikut-ikutan menebak. Hm.. sedangkan aku? Sungguh mati aku jadi penasaran. Lirik lagu yang pas dengan apa yang kurasakan. Ckckckckc..
            Malu aku jadi orang Indonesia!” Suara lantang beliau mengagetkan kami sekelas. Teman yang dari tadi cuek-cuek saja langsung menoleh kebelakang demi melihat apa yang terjadi. Masa tiba-tiba guru bahasa Indonesia bilang kalau dia malu jadi orang Indonesia? Bukankah aku, kamu, kami, dan beliau warga negara Indonesia? Selain itu juga tidak ada tanda-tanda kalau Bu Nani hasil dari Naturalisasi seperti pemain-pemain bola.
            Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga / Ke Wisconsin aku dapat beasiswa / Sembilan belas lima enam itulah tahunnya / Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia.” Nada suara itu tambah lantang menggema di ruang kelas kami. Dengan tatapan tajam yang seakan menusuk mata. “Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia / Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda / Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, / Whitefish Bay kampung asalnya / Kagum dia pada revolusi Indonesia.” Oow.. aku baru sadar kalau ternyata kalimat-kalimat yang beliau bacakan tadi adalah sebuah larik puisi. Menatap kami satu persatu sambil berdeklamasi.
            Dengan seksama kami perhatikan larik demi larik yang beliau bacakan. Tentang kebanggan teman tokoh aku dan tentu saja tentang kebanggan tokoh aku itu sendiri.
            Kali ini larik-lariknya terdengar lirih. “Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu, / Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan, / Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,” Bait demi bait yang beliau bacakan mulai berisi tentang kebobrokan negeri.
Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,” Tentang korupsi. Ah ya. Bukankah akhir-akhir ini sedang ramai tentang korupsi daging impor. Milyaran bahkan triliunan lebih masuk ke dalam kantung pribadi. Belum lagi tentang pembangunan sarana olahraga yang dilakukan sendiri oleh anggota partai. Ironisnya, partai tersebut dalam kampanyenya menjunjung tinggi anti korupsi, nyatanya..? hm.. betapa munafiknya manusia-manusia di negeri ini.
            Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,  wah, inilah yang terlihat di masyarakat. Sebuah tindak nepotisme. Dari sebuah lembaga terendah sampai tertinggi. Jabatan pemerintah sampai sekolah. Yang lebih disayangkan, adalah tindak ini terjadi dalam lapisan lembaga milik pemerintah, hal yang dikelola oleh negara.
            Tak usahlah kita berbicara lembaga atau jabatan pemerintah yang masih jauh untuk kami gapai sebagai pelajar. Di sekolah sendiri, siswa yang orang tuanya punya jabatan penting di pemerintahan atau memiliki hubungan ‘istimewa’ dengan pihak sekolah, akan mudah masuk ke sekolah favorit yang mereka inginkan. Sedangkan kami para siswa biasa harus bersaing dengan nilai akademik. Dilihat dari kemampuan, banyak dari mereka memang memiliki kemampuan lebih dibanding kami. Lebih dalam kemampuan uang dan koneksi. Bukankah sekolah kami sekolah negeri, milik pemerintah, dikelola negara, bukan milik mereka pribadi. Bukan hanya para siswa yang dipilih karena hubungan kekerabatan, para guru pun demikian. Bagi calon-calon guru yang memiliki koneksi bagus dengan pihak sekolah, tak perlu cemas dalam mencari pekerjaan.
            Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan.” Hohoho.. tentang pemilu kali ini. eh, bukankah negera kita baru saja melaksanakan pemilu yang katanya disebut pesta rakyat. Haha. Pesta rakyat apanya? Bukankah dalam pesta itu berarti semua rakyat bergembira? Pada kenyataannya, rakyat hanya diberi kegembiraan fatamorgana. Dipaksa memilih wakil mereka untuk duduk di gedung dewan. Janji-janji manis wakil rakyat semua seakan membius. Ketika mereka terpilih, siapa yang akan berpesta? Rakyatkah? Bahkan bukan rahasia umum lagi bagaimana cara mereka agar terpilih, dari mulai politik uang, sampai manipulasi suara pemilihan. Jangan berpikir hal ini tidak mungkin dilakukan, bukankah untuk wilayah terpencil di mana sebagian besar masyarakatnya tidak mengerti politik, maka tak ada yang mustahil.
            Beberapa hari lalu ditayangkan berita bahwa sekarang sudah menjadi zaman ‘vulgarisasi politik’. Tindak kecurangan dalam pemilu jelas dilakukan secara terang-terangan. Membagi-bagikan barang dari uang, bahan sembako sampai peralatan ibadah dilakukan pada hari pemilihan. Panggung politik tak ubahnya arena judi, itu yang banyak pakar katakan. Setelah para caleg ini tidak terpilih, maka rumah sakit jiwa menanti. Bagaimana tidak menjadi stres ketika modal uang puluhan hingga ratusan juta rupiah menguap begitu saja. Belum lagi hutang sana-sini demi mencalonkan diri. Tak heran saat orang-orang dengan modal besar ini terpilih, maka gantian uang kita yang mereka keruk. Hak kita mereka rampas. Ah.. alangkah lucunya negeri ini.
            Alangkah lucunya negeri ini? Aku jadi ingat film karya aak negeri yang berisi tentang kritikan sosial dengan judul yang sama. Alangkah Lucunya Negeri ini. Katanya lulusan sarjana akan lebih mudah mendapat kerja. Di film ini tidak demikian, dan pada kenyaataan memang demikian. Belum ada pengalaman, kurangnya koneksi, maka gelar Sarjana Pengangguran pun akan disandang. Saat para pengangguran ini mulai bekerja sama untuk mengelola para pencopet, memberdayakan dan membimbing mereka agar berhenti mencopet, orang tua malah menentang habis-habisan. Niatnya memang baik, tapi keuntungan awal yang mereka dapat adalah uang hasil dari mencopet. Uang haram. Setelah usaha ini berhasil, anak-anak yang semula mencopet mulai beralih profesi menjadi pengasong, mereka lagi-lagi berhadapan dengan aparatur negara. Ketika melakukan pekerjaan haram, anak-anak ini harus main kejar-kejaran dengan petugas dan masyarakat. Namun saat memulai mencari nafkah dengan jalan yang lurus, pemerintah menghadang mereka dengan alasan melanggar hukum. Lalu apa yang harus mereka lakukan? Ah.. negeri ini memang lucu.
            Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
            “Aku merinding denger puisinya.” Suara temanku tiba-tiba membuyarkan konsentrasi dan lamunan.
            “Sama, kujuga merinding dengernya.”
            “Hahahaha.. tapi bener tuh, kapan ya negara kita bisa lolos ikut Piala Dunia?” tanyanya lebih kepada diri sendiri. Aku hanya mengangkat bahu. Tanda sama-sama tidak tahu.
            Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak / Hukum tak tegak, doyong berderak-derak / Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, / Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza / Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia / Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata / Dan kubenamkan topi baret di kepala / Malu aku jadi orang Indonesia. Karya Taufiq Ismail tahun 1998.”



Banjarmasin, 14 Mei 2014

Tidak ada komentar: