Memasuki
dunia kerja ternyata tidak semenyenangkan yang aku bayangkan. Tapi itulah fase
hidup yang harus dilalui manusia. Hal ini masih lebih baik daripada jadi
pengangguran. Bukannya aku tidak mensyukuri apa yang didapat. Hanya saja dunia kerja
seakan telah membatasi ruang lingkup bermasyarakatku. Tapi lagi-lagi aku memang
harus bersyukur. Bekerja sebagai IT support di sebuah perusahaan besar,
bergelut dengan komputer, jaringan dan segala macam perangkatnya adalah hal
yang kusukai walau kadang harus rela kerja lembur hanya karena jaringan
internet sedikit bermasalah.
Seperti
malam ini, setelah hampir 2 jam lembur di kantor akhirnya aku bisa bertemu lagi
dengan kasur tercinta. Yah, meski hubunganku dengan kasur ini tidak terlalu
harmonis, karena sejak masih kuliah dulu ia sering kutinggal begadang namun
tetap saja ia kurindukan. Aku lebih suka bermesraan dengan perangkat lunak
komputer dibanding kasur yang selalu setia menunggu.
Sejak
bekerja di perusahaan yang terletak di Ibu Kota, aku memang harus hidup sendiri
dengan mengontrak kamar sederhana. Bolak-balik antara Kota Hujan dan Ibu Kota membuatku
merasa hampir tidak sanggup melakukannya. Ditambah jam kerja yang seakan
terlalu menuntut.
Hiburan
satu-satunya sekaligus media untuk bersosialisasi hanyalah telepon genggam ini.
meskipun termasuk penggila perangkat yang ada di komputer, namun aku tidak
terlalu suka yang namanya berselancar di media sosial.
Malam
ini orang yang beruntung menerima SMS-ku contohnya adalah Naya. Teman dari
Pulau Kalimantan yang kukenal 5 tahun lebih. Dua hari lalu kutahu ia merasa
kecewa karena permintaannya yang tidak bisa kupenuhi. Setiap SMS yang ia kirim
selalu diakhiri dengan emot sedih. Dia juga tipe perempuan yang hampir tidak
pernah memulai lebih dulu untuk berkomunikasi denganku.
“SMS
ah.” Ketikku. Pesan terkirim.
Tak
berapa lama kemudian balasan dari Naya masuk. “SMS aja.” Balasnya.
Wah,
sangat jarang Naya membalas pesan singkatku dengan isi yang singkat pula. Hanya
ada dua kemungkinan hal ini terjadi. Pertama, dia sedang berada dalam mood yang
kurang bagus. Atau yang kedua, sedang melakukan usaha balas dendam. Naya memang
sering protes karena SMS tidak penting dariku atau isi pesan singkat yang
benar-benar singkat seperti sekarang. Beberapa kali dia pernah melakukan aksi
balas dendam, tapi sikap jutekku berhasil membuat dia menyerah.
Oke,
baiklah. Sepertinya hal yang mustahil jika aku mengharap dia memulai topik
pembicaraan.
“Kapan
nikah?” Pertanyaan pembuka yang kupilih.
Selama
ini selalu dia yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa kepadaku tapi dia
sendiri tidak pernah bercerita tentang rencana masa depannya. Sudah berapa lama
jomblo, siapa pacar atau gebetannya sekarang, kapan target mau nikah, atau
bagaimana tipe pria yang ia suka tidak pernah kuketahui. Dia tidak pernah
cerita dan aku pun tak pernah bertanya. Yang kutahu sepertinya dia berkomitmen
untuk tidak pacaran. Setidaknya dia sudah tidak pernah curhat sambil
menangis-nangis tengah malam lagi karena cowok.
Tanda
pesan baru masuk ke ponselku. Sebaris kalimat tak terduga dari Naya untuk
menjawab pertanyaanku. “Kamu sendiri kapan mau melamarku?”
Tak
pernah kukira sebelumnya kalau dia akan menjawab dengan pertanyaan yang
langsung menohok ke hati.
“Wow,
shock gue bacanya.” Akuku.
Maaf
Nay, aku lelaki berotak kiri yang berpikir dengan menggunakan logika.
Banjarmasin, 17 April
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar