Kita Akan Tetap Menjadi Kita
“Apa aku tidak akan pernah bisa
mengetahui isi hatimu?” Tanyamu lirih di antara rinai hujan yang membasuh kota
kelahiranku.
Aku hanya tersenyum setelah menatap
sekilas ke arahmu. Kau selalu
mengetahuinya. Bahkan setiap sudut terdalam yang selalu kusembunyikan. Akulah
yang selama ini membohongi diriku sendiri. Jawabku dalam hati, sama
lirihnya denganmu.
“Aku tahu, hujan lebih menarik
perhatianmu dibandingkan aku.” Lanjutmu sambil tersenyum yang terlihat seperti mengejek.
Entah mengejek malam, mengejek hujan, atau malah mengejek keadaan kita sekarang.
Kau
salah. Aku yang terlalu takut menatapmu lebih lama. Takut terseret perasaan
yang membawa kita tenggelam lebih jauh.” Akuku.
“Huft..,” kau menghembuskan nafas,
“Mungkin aku harus berhenti di sini.” Katamu putus asa.
Aku.. Aku menatapmu lagi. Kali ini
lebih lama. Jangan...! Jangan berhenti.
Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan menjelaskankan semuanya sekaligus menjemputmu.
Jeritku berusaha meyakinkanmu.
Tapi aku tak pernah berani
mengatakannya langsung di hadapanmu. Selalu. Selalu hanya melalui hati. Hati
yang kau bilang tadi tidak bisa kaubaca.
“Sudahlah.. Aku lelah. Lebih baik
kita pulang. Menangis di bawah hujan sekarang lebih baik bagiku daripada harus
mengeluarkan air mata yang menyedihkan ini di hadapanmu.”
“Baiklah.” Jawabku singkat dan
terdengar getir, segetir langkah kakimu yang berjalan di sampingku.
Satu-satunya kata yang mampu kuucapkan setelah hanya diam, menjadi pendengar
monolog panjangmu.
Andai
engkau tahu betapa kumencinta
Selalu
menjadikanmu isi dalam doaku
Kutahu
tak mudah menjadi yang kau ingat
Kupasrahkan
hatiku, takdir kan menjawabnya
***
Delapan bulan kemudian
Siang ini kita bertemu lagi.
Pertemuan kesekian kalinya sejak aku dipindahtugaskan ke kota kelahiranmu sejak
empat bulan terakhir. Tempat yang dijuluki Kota Seribu Sungai ini sungguh
berbeda dengan kota tempat kita bertemu delapan bulan lalu. Tak ada hujan yang
terus mengguyur. Tak ada kemacetan. Hanya cuaca dan udara yang lebih sering
panas karena memang letaknya dekat dengan garis khatulistiwa.
Tatapan lelah itu kulihat lagi di
matamu. Lelah karena tangis yang tertahan. Tapi apa yang bisa kulakukan?
Seperti malam di bawah rinai hujan, kuhanya berani berdiri di sampingmu,
menyaksikan kesedihan dan luka yang teramat dalam. Kali ini tak ada monolog. Semua
membisu. Diam. Hening. Hanya angin yang jahil berhembus mempermainkan daun-daun
dan bunga di pohon kamboja, mengingatkan bahwa kita sedang tidak berada di
dunia tanpa suara.
Tatapan matamu, mengingatkanku
tentang pertemuan terakhir kita tiga minggu lalu. Tatapan lelah karena putus
asa dan beratnya beban yang kau simpan. Tapi senyum yang selalu kau pamerkan
seolah berusaha meyakinkanku bahwa kau baik-baik saja.
***
“Hei.. apa kabar?” Sapamu terlebih
dulu. “Agak berantakan gitu, baru pulang kerja ya?” Tanyamu berusaha riang saat
melihatku datang tergesa-gesa dengan pakaian yang jauh dari rapi. Belum sempat
pertanyaan itu terjawab, kau sudah menodong dengan pertanyaan berikutnya. Ah..
kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak pertama aku mengenalmu enam tahun
silam. “Tumben ngajak ke tempat beginian? Biasanya cuma jagung bakar depan
Korim. Ini seperti bukan dirimu.” Katamu pelan sambil menatap curiga.
Haha.. lucu memang. Aku yang memesan
tempat ini, sebuah restoran dengan suasana romantis, aku yang mengajak dia.
Tapi lihat, malah aku yang terlihat tidak siap. Datang terlambat, tergesa-gesa,
dan berantakan.
“Anggap ini hadiah ulang tahunmu. Sorry telat ngerayainnya.”
“Baru tiga hari kok telatnya. It’s
ok. Sekarang mana kadonya?”
“Baru nyampe masa udah ditagih kado?
Makan dulu lah. Udah lapar ini.”
Di antara iringan alunan musik
lembut, kita makan dengan damai. Sesekali di selingi dengan senyummu yang ...
ah, kau mulai terlihat mencurigakan dengan senyum tanggungmu. Malam ini kau
lebih banyak melamun seperti menyembunyikan sesuatu. Entah itu apa.
“Kamu kenapa?” tanyaku tak tahan.
kau tersentak kaget dan menggeleng.
“Kamu gak suka?”
“Suka kok,” berusaha tersenyum.
“Gimana kerjaanmu hari ini?” tanyamu berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Seperti biasa. Banyak yang
diurusin. Kita gak usah ngomongin kerjaan ya.” Pintaku.
“Ok... Gimana? Udah punya cewek
belum?” tanyamu lagi.
Pertanyaan yang sama sejak beberapa
tahun terakhir. Tapi mendinglah. Lebih baik membuatmu kepo dan banyak bertanya daripada harus menyaksikan aksi melamunmu.
“Belum.” Jawaban singkat tapi cukup
untuk membuatmu sedikit frustasi.
“Kok belum? Aduuuuuhhh gimana sih?”
“Udahlah. Santai aja. Nanti kalau udah
punya cewek, gak bisa traktir kamu makan dan nonton lagi.” Sahutku sambil
sedikit tertawa.. Gimana mau kujawab
sudah, kalau ceweknya gak mau pacaran. Ckckckckck
“Tapi udah ada kan yang ditaksir?”
“Tenang aja, masih normal ini. Belum
mengalami disorientasi ketertarikan.”
“Siapa dia? Gadis Kalimantan?”
“Nanti kamu juga bakal tahu.”
“Ah.. kamu. Selalu begitu.” Sahutmu
sedikit merajuk. Ekspresi yang selalu membuatku gemas. “Cantik gak dia?”
“Jelek.”
“Hah?! Sejak kapan kamu naksir cewek
jelek? Mana cewek-cewek cantik dan manis yang sering kamu ceritakan?” Tanyamu
terkejut.
Heh..
mana mungkin kamu bisa begitu tenangnya menanyakan cewek cantik dan manis yang
sedang kutaksir? Apa tidak ada rasa cemburu sedikit pun di hatimu? Hufh.
Tapi aku hanya bisa merutuk kesal dalam hati.
“Jelek di mata orang-orang. Tapi
cantik dan manis di mataku.” Berusaha membuatmu cemburu.
“Halah.. belajar gombal di mana tuh?
By the way, namanya siapa? Kalau
boleh tau.”
Hah..?
lagi-lagi dengan entengnya kamu bertanya. Terbuat dari apa hati kamu itu? apa
kamu ingin mendengar aku menyebutkan sebuah nama? Ranaya. Iya. Ranaya namanya.
Kali ini aku yang berteriak frustasi. Dan lagi-lagi hanya dalam hati.
“Nanti kamu juga bakal tahu. Kalau
udah jadi.”
“Kalau udah jadi? Terus kapan mau
ditembak?”
“Ditembak? Kamu pikir burung? Aku
jago memanah, bukan jago nembak. Hahaha... Aku mau langsung ngelamar dia di
depan walinya. Kamu sendiri kan yang bilang, cowok keren itu adalah cowok yang
nembak ceweknya langsung di hadapan penghulu dan wali si cewek[1].
Aku mau ngikutin saran kamu.”
“Waaaaw.. aku kasih semua jempolku
buat kamu deh. Keren keren keren. Terus kapan rencananya mau melamar?”
“Kamu sendiri kapan siap buat
dilamar?”
“Kok kamu nanya aku?” tanyamu heran.
Kukeluarkan kotak kecil hitam dan
menyerahkannya padamu. Matamu terbelalak terkejut saat membukanya. Sebuah permata
kecil berkilau indah di atas cincin perak yang kau tatap.
“Bagaimana menurutmu? Bagus? Itu
cincin buat melamar dia.”
“Waw.. ini bagus. Bagus banget. Dia
pasti senang menerimanya.” Kau tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus. Aku melihat
sebuah kelegaan di sana. Tetapi hal itu malah membuat perasaanku sebaliknya.
“Kamu sendiri senang?”
“Pastilah aku senang melihat teman
sendiri akhirnya mau melamar cewek. Setidaknya itu membuatku yakin kalau kamu
normal. Hahaha...” Kau tertawa senang.
“Dua minggu lagi aku pulang. Kalau
kamu senang, aku akan membawa orang tuaku untuk melamarmu dengan cincin itu.”
kataku sungguh-sungguh. Kalimat yang langsung menghentikan tawa riangmu.
Berganti dengan kerutan-kerutan kebingungan di kening.
Tuhan.
Bukan ini reaksi yang kuinginkan dari gadis yang duduk di dapanku. Aku ingin
melihat dia tersenyum bahagia, kalau perlu sambil menangis terharu karena baru
saja kumenjawab semua pertanyaannya selama ini.
Apa
yang sebenarnya terjadi? Ada apa denganmu? Tanyaku bingung ketika kau
tertunduk lesu saat mengembalikan kotak cincin itu.
“Aku serius. Kamu perempuan yang mau
aku lamar. Kalau kamu sudah siap, kubawa orang tuaku ke hadapan walimu.” Dengan
penuh keyakinan kutatap matamu. Mata yang tiba-tiba berubah jadi redup.
“Maaf. Aku tidak bisa menerimanya.”
Jawabmu lirih seperti malam di bawah rinai hujan delapan bulan lalu.
Malam ini yang kurasakan bukan hanya
rinai hujan, tetapi juga petir serta badai. Dahsyatnya gemulung ombak di lautan
seakan berpindah ke hatiku saat kau serahkan selembar kertas persegi berwarna
ungu muda, warna favoritmu.
Kertas undangan. Iya. Kau kembalikan
cincin yang akan kugunakan untuk meminangmu bersama selembar kertas undangan
pernikahan.
Sebuah nama terukir indah di
dalamnya. Ranaya Kemala. Ranaya Kemala, namamu, sebagai pengantin perempuan. Sedangkan
yang tertera sebagai pengantin pria bukan namaku, Daniel Azmi, melainkan orang
lain. Bukankah kamu selalu bilang ingin nama kita tertulis di kartu undangan pernikahan sebagai sepasang pengantin?
Tapi kenapa malah seperti ini?
“Aku sudah dipinang laki-laki lain
sejak sebulan yang lalu. Tiga minggu lagi kami akan menikah.” Suaramu bergetar
saat menjelaskannya. Aku tahu, kamu
sedang menahan tangis bukan?
Di atasku langit seakan runtuh, bumi
yang kupijak bergetar, gedung tempat kita berada sekarang terasa mau ambruk
sebentar lagi, sedahsyat-dahsyatnya bencana alam seolah mengurungku karena
mendengar berita yang kau sampaikan baru saja.
Kenapa?
Kenapa ini bisa terjadi? Ah.. bodohnya
aku. Jelas ini terjadi karena aku yang terlambat. Kau sekarang benar-benar
berhenti, seperti yang kau katakan malam itu. kau pangkas habis perasaan di
hatimu. Tapi kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa? Ribuan kenapa yang kutuntut untuk dijelaskan.
Di mana kata kita yang selalu kau ucapkan? Harapan dan mimpi kita tentang kehidupan bersama. Kita, aku dan kau. Dua jadi satu. Apakah
kata kita sekarang adalah sesuatu
yang terpisah antara aku dan kau. Bukankah kau pernah bilang bahwa kemanapun kita pergi dan berpisah, pada akhirnya
aku akan kembali kepadamu, dan kau kembali kepadaku, karena kita adalah kita, dua jadi satu.
“Maaf.” Hanya itu kata yang bisa kau
ucapkan.
Apa kamu sedang menyesali suatu
keadaan, Nay? Ini bukan salahmu. Ini salahku.
Jika aku bukan jalanmu
Kuberhenti mengharapkanmu
“Aku di sini, Nay. Kalau kamu ingin
menangis, silakan.” Bisikku pelan sambil berusaha tersenyum untuk
menenangkanmu.
Ah ya.. Bagaimana selama ini kau
menggambarkan sifatku? Mr. Jutek? Si tuan ‘Gakpapa, udah biasa’? Atau laki-laki
yang selalu bersikap ‘Semua baik-baik aja’?
Perlahan bulir-bulir air mata mulai
menggenang di pelupuk matamu dan sedikit demi sedikit merembes membentuk anak
sungai kecil di atas pipi yang tak pernah bisa kusentuh sampai kita menjadi
halal, walau kuingin mengusapnya setiap saat kau menangis. Aku ingat kalimat
yang pernah kau ucapkan laki-laki yang
suka pegang-pegang cewek, istrinya bukan, saudaranya bukan, tidak darurat, maka
ketampanannya berkurang ratusan persen. Dan perempuan yang mau saja
dipegang-pegang laki-laki seperti itu, kecantikannya berkurang dua kali
lipatnya[2].
Kalimat itu yang membuatku bertahan untuk tidak sekali pun menyentuhmu. Aku
ingin menjadi laki-laki paling tampan dan menjaga kecantikan hatimu.
Siang ini, aku berdiri di sampingmu
dengan Kalimat, air mata dan isakan tertahanmu, serta sikapku yang sama. Sama
seperti saat malam itu. malam ketika aku menerima penolakan darimu bersama
kartu undangan pernikahan. Berhari-hari kuberusaha mengumpulkan keping-keping
hati yang pecah berantakan. Sampai sempat terpikir mungkin kutakkan pernah
sanggup menemuimu lagi, Nay. Tapi ternyata aku tak pernah tega membiarkanmu
menyimpan gumpalan kesedihan sendirian. Tidak pernah. Meski hati ini terus
retak setiap mengingat tentang kita.
Punggungmu terguncang pelan bersama
isakan tertahanmu. Aku harus bersikap ‘semua baik-baik aja’ sekarang, walau
kutahu keadaan kita sedang menunjukkan sebaliknya.
“Maaf aku datang terlambat.
Membuatmu terlalu lama menahan air mata itu,” menyerahkan saputangan yang
selalu kau gunakan untuk menyeka air mata. “Menangislah sampai kamu tenang, Nay.
Ah.. apa yang pernah kamu bilang? Kamu hanya bisa menangis puas ketika aku ada
di dekatmu kan?. Nay.. Nay.. kamu tidak perlu khawatir, aku pasti datang untuk
menemanimu menangis. Di mana pun kamu mau, bahkan di tempat seperti ini
sekalipun.”
“Maaf.” Ucapmu tertahan di antara
isak tangis. Apa kali ini terselip
penyesalan di dalamnya? Entahlah.
Kau duduk lemah menapat nama di
nisan kayu yang baru saja ditancapkan di atas gundukan tanah merah basah ini.
Nama itu, nama yang sama persis dengan yang tertera di kartu undangan
pernikahanmu. Nama calon pengantin priamu.
“Besok seharusnya aku mengenakan baju
pengantin yang telah ia persiapkan. Mendengarkannya mengucapkan ijab kabul di
hadapan orang tuaku. Besok seharusnya aku menjadi istrinya. Besok .... hiks
hiks hiks .... Tapi subuh tadi dia mengalami kecelakaan. Hiks.. hiks.. hiks..”
Suaramu kembali tertahan karena air mata yang mengucur.
“Sudah Nay..,” aku tahu, kamu pasti ingin tanya kenapa kan? Seperti pertanyaanku malam itu. kenapa semua jadi seperti ini?
“Tuhan pasti punya rencana yang berbeda atas semua ini. Allah sedang menguji
kita. Seperti malam itu, kita harus kuat. Kita pasti bisa melewati semua ini.”
Hanya isak tangismu yang terdengar sebagai jawaban. Kau sedang melepaskan beban
kesedihan itu sekarang.
“Nay...,” panggilku pelan setelah
beberapa menit hanya angin yang mengambil alih pembicaraan kita. “Benda ini
masih jadi milikmu.” Ucapku sembari meletakkan kotak kecil hitam ke pangkuanmu.
“Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku tidak ingin kau terus tenggelam dalam
ribuan pertanyaan kenapa, Nay.
Mungkin ini jawabannya.”
Bukan restoran mewah dengan cahaya
lilin atau alunan musik romantis, hanya suara alam yang menemani kita, aku
melamarmu. Lagi. Kau menatapku dengan mata sembab. Tersenyum. Mengangguk kecil.
Di bawah rindangnya pohon kamboja yang sedang memekarkan bunganya. Di taman
pemakaman yang sepi. Di samping gundukan tanah merah yang masih menebarkan
aroma basah. Di depan nisan jasad calon suamimu, Kau menerimaku. Selama ini kau mencintaiku dalam diam bukan?
Seperti penggalan puisi yang pernah kautuis.
Kau
kekasih yang mengalpa dalam kata
Tak
perlu rangkaian abjad tuk tafsirkan rasa
Karena
gerak telah sampaikan makna
Bukankah
‘mencinta’ itu kata kerja?[3]
Sekarang kau sudah tahu isi hatiku kan, Nay?
Perasaan yang selama ini kusimpan rapat. Aku juga sama sepertimu, mencintaimu
dalam diam. Karena kuhanya ingin mengatakannya ketika kutelah siap menikahimu.
Ya Allah.. inikah rencana-Mu selama
ini? Inikah hadiah dari ujian perasaan-Mu yang berat. Engkau menguji seberapa
kuat perasaan kami?
Seperti yang pernah kamu katakan,
Nay. Kita akan tetap menjadi kita. Aku dan kamu yang menjadi satu.
Tanpa batas. Pada akhirnya aku tetap kembali kepadamu, dan kamu akan kembali
padaku. Kemanapun kita pergi, sejauh apapun kita berpisah, kita akan kembali jadi kita.
Inilah rahasia Tuhan yang tak pernah kita tahu, karena kita manusia berada
dalam keterbatasan yang tak terbatas.
Jika aku memang tercipta untuku
Kukan memilikimu
Jodoh pasti bertemu[4]
4 komentar:
Nice.....
bagus, betul betul bagus
terima kasih banyak Rif udah mau baca.. ^_^
terima kasih banyak Rif udah mau baca.. ^_^
Casino Review 2021 - DRMCD
This is a very comprehensive and thorough 부산광역 출장마사지 Casino 용인 출장안마 review. It includes 과천 출장마사지 information on software providers, 성남 출장샵 and bonuses, games offered, 성남 출장샵 Rating: 4.3 · Review by Dr
Posting Komentar