Sebuah
pertemuan
Malam
minggu, malam yang diidentik dengan malam untuk para pasangan, baik itu yang
masih berpacaran maupun sudah menikah. Tempat mana seh yang tidak ramai saat
malam minggu? Paling cuma kuburan doang. Yupz, semuanya ramai. Bahakan saking
ramainya hampir di semua tempat, kita bisa bertemu siapa saja di tempat-tempat
yang tidak terduga, sehingga muncullah istilah ‘dunia tak selebar daun kelor’.
Ah.. istilah ini kadang jadi pertanyaan. Kok ada ya yang membandingkan antara
dunia dengan daun kelor..? (=.=’) entahlah..
Dan
pertemuan saat malam minggu juga menjadi pertemuan-pertemuan tak terduga antar
anak manusia yang mungkin saja merubah segala sesuatu di hidup mereka.
Pertemuan tentang masa lalu. Hm... siapa yang menyangka apa yang akan terjadi
dengan sebuah pertemuan..?
Seperti
malam ini, malam minggu, di sebuah toko gadget.
Gadis itu baru saja selesai memilih-milih charger. Saat ingin membayarnya di
kasir, secara tidak sengaja dia melihat laki-laki itu. laki-laki dari masa lalu
yang – bukan spesial – pernah mencatatkan namanya di dalam kehidupan gadis
tersebut. untuk memastikan penglihatan dan ingatannya, si gadis langsung
berbalik arah dan perlahan mengikutinya.
Si lelaki masih sibuk memilih-milih aksesoris gadget, tidak merasa jika sedang diperhatikan. Hingga pada jarak
yang cukup aman dengan suasana yang cukup sepi si gadis semakin berani mendekat
untuk menyapa terlebih dahulu.
“Ka
Fahri..?” Tanya si gadis dengan mantap sambil menepuk pundak lelaki itu. tidak
lupa senyum lembut menghiasi wajah manisnya.
Kerutan-kerutan
kecil mulai nampak di dahi si lelaki, tanda bhawa ia sedang berusaha mengingat
gadis di hadapannya.
“Naya
ya..?” Tanyanya ragu.
“Iya.
Apa kabar, Ka..? sendirian aja..?” tanya gadis itu lagi, tapi hanya dijawab
oleh si lelaki dengan sebuah senyuman. “Udah nikah belum..?” sambung si gadis.
Pertanyaan blak-blakan. Pertanyaan biasa yang diajukan kepada teman lama yang
sudah lama tidak bertemu.
“Belum.
Kamu..?” laki-laki itu balik bertanya.
“Hehehehe..
sama. Belum juga. Pacarnya mana..?” ah
Tuhan, apa hamba terlalu agresif bertanya seperti ini? Jerit si gadis dalam
hati. Tapi daripada tidak ada yang
diomongin..? Bela hatinya yang lain. Semoga
dia tidak tersinggung dengan pertanyaanku barusan.
Sebelum
menjawab, laki-laki itu tersenyum lagi. “Gak punya pacar, Dek.”
Deg.
Jantung gadis itu tiba-tiba berdegub kencang. Hatinya seketika berdesir
mendengar jawaban itu. ah.. entahlah..
apa maksud dari semua perasaan ini? Batinnya pelan berbisik.
Dengan
cepat gadis itu berusaha menguasai diri, perasaan emosi, dan suasana hatinya.
“Ah,
yang bener, Kak..? Naya kira Kakak malah udah nikah. Hehehe.. coba kalau dulu
Kakak nerima Naya, pasti malam ini gak bakal jalan sendirian..” kata gadis itu
sambil bergurau. Tapi laki-laki di hadapannya hanya membalas dengan sebuah
senyuman. Tidak peduli dengan gurauannya. Sama seperti dulu. Senyuman yang
terkadang bikin gadis itu tersenyum setiap mengingatnya.
“Oh ya
Kak. Naya duluan ya. Mau nyari kado nikahan temen besok.” Pamit gadis itu
mengakhiri pembicaraan.
“Ok.”
sahut laki-laki itu singkat, tidak lupa dengan senyumannya.
***
Masih di
malam minggu yang sama. Beberapa jam kemudian. Di sebuah kamar yang gelap, si
lelaki duduk di depan komputernya. Memainkan sebuah game online. Permainan
seorang gamer, entah apa namanya. Tetapi permainan laki-laki itu malam ini
cukup buruk. Beberapa kali ia kalah karena mendapat serangan musuh. Misinya di
dalam game tersebut selalu gagal. Biasanya dia tidak pernah seperti ini.
Bayangan-bayangan
sebuah pertemuan dan gadis tadi telah mengganggu konsentrasinya. Gadis itu..
ah, dia masih sama seperti dulu. Suka ceplas-ceplos. Senang bercanda.
Memori
lelaki itu memutar kembali kenangan beberapa jam yang lalu. Seperti sebuah
kaset yang diputar ulang, dengan sempurna menampilkan detail-detail kejadian
yang dialaminya.
“Ka
Fahri..?” panggil seseorang sambil menepuk pundaknya saat ia tengah asyik
memilih headphone. Suara perempuan. Saat menoleh ia melihat gadis itu dengan
senyum manis menghiasi wajah cerianya.
Dengan
kening yang berkerut sambil berusaha mengingat nama gadis itu, ia berucap ragu
menyebut sebuah nama. “Naya ya..?”
“Iya.
Apa kabar, Ka..? sendirian aja..?” jawabnya lancar diikuti dengan sebuah
pertanyaan biasa. tapi ia hanya menjawab dengan sebuah senyuman.
“Udah
nikah belum..?” sambung gadis itu lagi. Kali ini sebuah pertanyaan yang tidak
biasa. Ia mencoba mencerna maksud dari pertanyaan tersebut.
Dengan
jujur ia menjawab belum dan balik bertanya.
“Hehehehe..
sama. Belum juga. Pacarnya mana..?” jawab gadis itu santai seolah tidak peduli
dan melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.
Ia
tersenyum lagi sebelum menjawab. “Gak punya pacar, Dek.” Jawabnya jujur.
Berusaha sambil menahan perasaan-perasan yang secara tiba-tiba ada di hatinya.
Entah perasaan apa namanya.
“Ah,
yang bener, Kak..? Naya kira Kakak malah udah nikah. Hehehe.. coba kalau dulu
Kakak nerima Naya, pasti malam ini gak bakal jalan sendirian..” kata gadis itu
dengan santainya sambil tersenyum ringan.
Deg..
seketika degub jantungnya langsung berdegub kencang mendengar kalimat yang
terucap dari bibir gadis di hadapannya. Sebuah desiran di hatinya yang bagai
sungai berarus deras telah membuat suhu badannya berubah drastis. Tapi ia hanya
merespon dengan sebuah senyuman. Sama seperti dulu. Sebuah senyuman untuk menutupi
rasa gugup dan groginya saat tidak bisa menjawab pertanyaan. Gadis ini, dulu
sering membuatnya tersenyum salah tingkah oleh klakuannya, dan sekarang ia
melakukannya lagi. Ah.. apa gadis ini
masih mengingat kejadian dulu itu? saat ia menyatakan perasaannya - entah itu
serius atau tidak – tapi sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya.
Akunya pelan dalam hati.
“Oh ya
Kak. Naya duluan ya. Mau nyari kado nikahan temen besok.” Pamit gadis itu
mengakhiri pembicaraan.
“Ok.”
sahut laki-laki itu singkat, tidak lupa dengan sebuah senyum tersungging di
bibirnya. Senyum untuk mengatasi rasa deg-degan.
Selesai
mengingat kejadian tadi secara detail, ia seolah tersadar oleh sesuatu. Dengan
cepat ia menggerakkan kursor di layar komputernya. Memindahkan tampilan layar
dari game menuju situs jejaring sosial tempat ia dan gadis itu berteman di
dunia maya. Mengetikkan nama si gadis di kolom pencarian. Berharap dia bisa menemukan
nomor kontak gadis itu. Aha.. ketemu..!!
***
Di waktu
yang sama, di tempat yang berbeda. Si gadis baru tiba di rumahnya, masuk kamar,
meletakkan tasnya, ganti baju, dan shalat Isya. Selesai shalat ia keluarkan
belanjaan yang baru dibelinya tadi. Membungkus kado pernikahan untuk temannya
besok sambil mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Ah.. pertemuan itu.
siapa yang akan menyangka jika mereka akan bertemu lagi. Sebuah pertemuan tak
terduga.
Sebuah
tanda pesan masuk berdentang dari telepon genggamnya. Dengan cepat ia raih handpone yang tergeletak tenang di
sampingnya. Sebuah nama tertera di layar mengawali senyuman yang mengembang di
wajah manisnya. Pesan singkat dari lelaki yang selama ini selalu ia tunggu
kehadirannya dan diam-diam ia kagumi. Ia anggap spesial, namun dengan sekuat
tenaga harus ia tahan semua perasaan yang ia rasakan. Karena ia merasa seolah
berharap kepada sepotong bayangan. Tak tergapai, tak tersentuh. Yang berani ia
impikan hanya sebuah pertemuan. Pertemuan sederhana untuk membuktikan bahwa ia
tidak mencintai sesosok bayangan, melainkan sesuatu yang lebih nyata. Dengan cepat
dibalasnya pesan itu.
***
Kembali
ke sebuah kamar gelap yang hanya di terangi oleh cahaya dari layar komputer. Dengan
ekspresi yang sebelumnya bersamangat, berubah menjadi kekecawaan. Ia memang
berhasil menemukan akun gadis itu, tapi dia tidak mendapatkan nomor kontaknya
karena memang tidak dicantumkan di sana. Saat itu pula ia memilih mengirimkan personal message di akun tersebut. pesan
yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan kepada gadis itu. Dan malam ini ia
habiskan untuk menunggu balasan pesan dari gadis yang beberapa jam lalu telah
merubah rasa di sudut hatinya yang terdalam.. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar