Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Jumat, 29 November 2013

(Cerpen) Sebuah Pertemuan



Sebuah pertemuan

            Malam minggu, malam yang diidentik dengan malam untuk para pasangan, baik itu yang masih berpacaran maupun sudah menikah. Tempat mana seh yang tidak ramai saat malam minggu? Paling cuma kuburan doang. Yupz, semuanya ramai. Bahakan saking ramainya hampir di semua tempat, kita bisa bertemu siapa saja di tempat-tempat yang tidak terduga, sehingga muncullah istilah ‘dunia tak selebar daun kelor’. Ah.. istilah ini kadang jadi pertanyaan. Kok ada ya yang membandingkan antara dunia dengan daun kelor..? (=.=’) entahlah..
            Dan pertemuan saat malam minggu juga menjadi pertemuan-pertemuan tak terduga antar anak manusia yang mungkin saja merubah segala sesuatu di hidup mereka. Pertemuan tentang masa lalu. Hm... siapa yang menyangka apa yang akan terjadi dengan sebuah pertemuan..?
            Seperti malam ini, malam minggu, di sebuah toko gadget. Gadis itu baru saja selesai memilih-milih charger. Saat ingin membayarnya di kasir, secara tidak sengaja dia melihat laki-laki itu. laki-laki dari masa lalu yang – bukan spesial – pernah mencatatkan namanya di dalam kehidupan gadis tersebut. untuk memastikan penglihatan dan ingatannya, si gadis langsung berbalik arah dan perlahan mengikutinya.  Si lelaki masih sibuk memilih-milih aksesoris gadget, tidak merasa jika sedang diperhatikan. Hingga pada jarak yang cukup aman dengan suasana yang cukup sepi si gadis semakin berani mendekat untuk menyapa terlebih dahulu.
            “Ka Fahri..?” Tanya si gadis dengan mantap sambil menepuk pundak lelaki itu. tidak lupa senyum lembut menghiasi wajah manisnya.
            Kerutan-kerutan kecil mulai nampak di dahi si lelaki, tanda bhawa ia sedang berusaha mengingat gadis di hadapannya.
            “Naya ya..?” Tanyanya ragu.
            “Iya. Apa kabar, Ka..? sendirian aja..?” tanya gadis itu lagi, tapi hanya dijawab oleh si lelaki dengan sebuah senyuman. “Udah nikah belum..?” sambung si gadis. Pertanyaan blak-blakan. Pertanyaan biasa yang diajukan kepada teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
            “Belum. Kamu..?” laki-laki itu balik bertanya.
            “Hehehehe.. sama. Belum juga. Pacarnya mana..?” ah Tuhan, apa hamba terlalu agresif bertanya seperti ini? Jerit si gadis dalam hati. Tapi daripada tidak ada yang diomongin..? Bela hatinya yang lain. Semoga dia tidak tersinggung dengan pertanyaanku barusan.
            Sebelum menjawab, laki-laki itu tersenyum lagi. “Gak punya pacar, Dek.”
            Deg. Jantung gadis itu tiba-tiba berdegub kencang. Hatinya seketika berdesir mendengar jawaban itu. ah.. entahlah.. apa maksud dari semua perasaan ini? Batinnya pelan berbisik.
            Dengan cepat gadis itu berusaha menguasai diri, perasaan emosi, dan suasana hatinya.
            “Ah, yang bener, Kak..? Naya kira Kakak malah udah nikah. Hehehe.. coba kalau dulu Kakak nerima Naya, pasti malam ini gak bakal jalan sendirian..” kata gadis itu sambil bergurau. Tapi laki-laki di hadapannya hanya membalas dengan sebuah senyuman. Tidak peduli dengan gurauannya. Sama seperti dulu. Senyuman yang terkadang bikin gadis itu tersenyum setiap mengingatnya.
            “Oh ya Kak. Naya duluan ya. Mau nyari kado nikahan temen besok.” Pamit gadis itu mengakhiri pembicaraan.
            “Ok.” sahut laki-laki itu singkat, tidak lupa dengan senyumannya.

***

            Masih di malam minggu yang sama. Beberapa jam kemudian. Di sebuah kamar yang gelap, si lelaki duduk di depan komputernya. Memainkan sebuah game online. Permainan seorang gamer, entah apa namanya. Tetapi permainan laki-laki itu malam ini cukup buruk. Beberapa kali ia kalah karena mendapat serangan musuh. Misinya di dalam game tersebut selalu gagal. Biasanya dia tidak pernah seperti ini.
            Bayangan-bayangan sebuah pertemuan dan gadis tadi telah mengganggu konsentrasinya. Gadis itu.. ah, dia masih sama seperti dulu. Suka ceplas-ceplos. Senang bercanda.
            Memori lelaki itu memutar kembali kenangan beberapa jam yang lalu. Seperti sebuah kaset yang diputar ulang, dengan sempurna menampilkan detail-detail kejadian yang dialaminya.
            “Ka Fahri..?” panggil seseorang sambil menepuk pundaknya saat ia tengah asyik memilih headphone. Suara perempuan. Saat menoleh ia melihat gadis itu dengan senyum manis menghiasi wajah cerianya.
            Dengan kening yang berkerut sambil berusaha mengingat nama gadis itu, ia berucap ragu menyebut sebuah nama. “Naya ya..?”
            “Iya. Apa kabar, Ka..? sendirian aja..?” jawabnya lancar diikuti dengan sebuah pertanyaan biasa. tapi ia hanya menjawab dengan sebuah senyuman.
            “Udah nikah belum..?” sambung gadis itu lagi. Kali ini sebuah pertanyaan yang tidak biasa. Ia mencoba mencerna maksud dari pertanyaan tersebut.
            Dengan jujur ia menjawab belum dan balik bertanya.
            “Hehehehe.. sama. Belum juga. Pacarnya mana..?” jawab gadis itu santai seolah tidak peduli dan melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.
            Ia tersenyum lagi sebelum menjawab. “Gak punya pacar, Dek.” Jawabnya jujur. Berusaha sambil menahan perasaan-perasan yang secara tiba-tiba ada di hatinya. Entah perasaan apa namanya.
            “Ah, yang bener, Kak..? Naya kira Kakak malah udah nikah. Hehehe.. coba kalau dulu Kakak nerima Naya, pasti malam ini gak bakal jalan sendirian..” kata gadis itu dengan santainya sambil tersenyum ringan.
            Deg.. seketika degub jantungnya langsung berdegub kencang mendengar kalimat yang terucap dari bibir gadis di hadapannya. Sebuah desiran di hatinya yang bagai sungai berarus deras telah membuat suhu badannya berubah drastis. Tapi ia hanya merespon dengan sebuah senyuman. Sama seperti dulu. Sebuah senyuman untuk menutupi rasa gugup dan groginya saat tidak bisa menjawab pertanyaan. Gadis ini, dulu sering membuatnya tersenyum salah tingkah oleh klakuannya, dan sekarang ia melakukannya lagi. Ah.. apa gadis ini masih mengingat kejadian dulu itu? saat ia menyatakan perasaannya - entah itu serius atau tidak – tapi sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya. Akunya pelan dalam hati.
            “Oh ya Kak. Naya duluan ya. Mau nyari kado nikahan temen besok.” Pamit gadis itu mengakhiri pembicaraan.
            “Ok.” sahut laki-laki itu singkat, tidak lupa dengan sebuah senyum tersungging di bibirnya. Senyum untuk mengatasi rasa deg-degan.

            Selesai mengingat kejadian tadi secara detail, ia seolah tersadar oleh sesuatu. Dengan cepat ia menggerakkan kursor di layar komputernya. Memindahkan tampilan layar dari game menuju situs jejaring sosial tempat ia dan gadis itu berteman di dunia maya. Mengetikkan nama si gadis di kolom pencarian. Berharap dia bisa menemukan nomor kontak gadis itu. Aha.. ketemu..!!

***

            Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Si gadis baru tiba di rumahnya, masuk kamar, meletakkan tasnya, ganti baju, dan shalat Isya. Selesai shalat ia keluarkan belanjaan yang baru dibelinya tadi. Membungkus kado pernikahan untuk temannya besok sambil mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Ah.. pertemuan itu. siapa yang akan menyangka jika mereka akan bertemu lagi. Sebuah pertemuan tak terduga.
            Sebuah tanda pesan masuk berdentang dari telepon genggamnya. Dengan cepat ia raih handpone yang tergeletak tenang di sampingnya. Sebuah nama tertera di layar mengawali senyuman yang mengembang di wajah manisnya. Pesan singkat dari lelaki yang selama ini selalu ia tunggu kehadirannya dan diam-diam ia kagumi. Ia anggap spesial, namun dengan sekuat tenaga harus ia tahan semua perasaan yang ia rasakan. Karena ia merasa seolah berharap kepada sepotong bayangan. Tak tergapai, tak tersentuh. Yang berani ia impikan hanya sebuah pertemuan. Pertemuan sederhana untuk membuktikan bahwa ia tidak mencintai sesosok bayangan, melainkan sesuatu yang lebih nyata. Dengan cepat dibalasnya pesan itu.

***

            Kembali ke sebuah kamar gelap yang hanya di terangi oleh cahaya dari layar komputer. Dengan ekspresi yang sebelumnya bersamangat, berubah menjadi kekecawaan. Ia memang berhasil menemukan akun gadis itu, tapi dia tidak mendapatkan nomor kontaknya karena memang tidak dicantumkan di sana. Saat itu pula ia memilih mengirimkan personal message di akun tersebut. pesan yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan kepada gadis itu. Dan malam ini ia habiskan untuk menunggu balasan pesan dari gadis yang beberapa jam lalu telah merubah rasa di sudut hatinya yang terdalam.. J

Tidak ada komentar: