Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Jumat, 29 November 2013

( Cerpen) Cerita Anak Kota Seribu Sungai



CERITA ANAK KOTA SERIBU SUNGAI

            Semburat merah warna langit mulai nampak terlihat di ujung sana. Menandakan senja sebentar lagi akan tiba. Para nelayan yang biasa memancing di sepanjang sungai Martapura mulai mengayuh perahu kecil mereka atau yang biasa di sebut jukung untuk beranjak pulang. Berapapun banyaknya hasil tangkapan yang bisa mereka dapatkan, maka sebanyak itu pula yang akan diberikan untuk anak istri mereka di rumah. Jika hasilnya lumayan, berarti akan ada ikan yang dijual, hasil penjualan ikan-ikan tersebut dapat digunakan untuk membeli kebutuhan dapur seperti beras, minyak tanah, sayuran, rempah-rempah, dan lain-lain. Tetapi jika sebaliknya, hasil tangkapan itu hanya cukup untuk makan mereka malam ini dan besok pagi sekeluarga.
Duduk di depan rumah nenek yang tepat berada di pinggir sungai martapura ini, aku bisa menyaksikan itu semua. Betapa indah dan menenangkannya warna langit di ujung cakrawala sana. Dan betapa sederhana kehidupan mereka di sini.
             Rumah nenek memang tepat berada di pinggir sungai dengan daratannya yang menjorok ke tengah, menyebabkan tempat ini seperti sebuah tanjung kecil. Daratan ini pun bukan sepenuhnya terbuat dari tanah. Beberapa waktu lalu, daratan yang ada di sebelah kiri rumah nenek adalah berupa gudang atau bengkel tempat pemotongan kayu. Sehingga potongan-potongan kayu dan serbuk-serbuk kayu tersebut yang menumpuk selama bertahun-tahun menyebabkan tempat ini seperti sebuah daratan. Bukan hanya itu, batang-batang padi bekas penggilingan pun juga di buang di tempat ini dengan rapi.
Dulu orang-orang di sekitar sini bekerja di bengkel tersebut. Jika para pemudanya bekerja sebagai pemotong kuli angkut kayu yang bertugas mengangkat kayu-kayu atau batang pohon dari kapal ke dalam bengkel untuk di potong-potong sesuai pesanan atau mengahaluskannya yang kemudian nantinya akan di jual kembali. Sedangkan para ibu-ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan untuk kebutuhan rumah tangganya, maka mereka bertugas mengumpulkan kayu-kayu hasil pemotongan yang tidak terpakai kemudian mengikatnya  dengan jumlah tertentu, nantinya kayu-kayu tersebut juga akan dijual sebagai bahan bakar untuk memasak. Di daerah sini, belum banyak keluarga yang menggunakan kompor minyak untuk memasak, apalagi kompor gas, sehingga mereka memanfaatkan kayu sebagai pengahasil api. Memasak menggunakan kayu bakar ini tentunya akan membuat dapur dipenuhi dengan asap. Alat-alat memasak pun tidak luput menjadi korbannya. Panci, wajan, ceret, dan lain-lain pasti berwarna hitam. Kini kayu di pulau ini sudah mulai langka. Banyak pengusaha yang bangkrut. Pemerintah menetapkan peraturan ketat tentang penebangan hutan, sehingga yang tertinggal di gudang ini hanyalah mesin gergaji tua yang dulu di gunakan untuk memotong dan mengahaluskan kayu, sedang teronggok di tempatnya. Semakin tua, semakin berkarat, dan semakin diabaikan. Karena tempat gudang ini hanyalah gudang tua kecil, banyak pekerjanya beralih profesi. Pendidikan mereka yang hampir tidak sampai tamat sekolah dasar, menyebabkan mereka hanya menjadi buruh tani atau buruh bangunan kasar lainnya dengan gaji yang pas-pasan.

Di depan dan belakang rumah nenek merupakan jalur sungai. Sungai yuang mengalir di depan rumah ukurannya lebih kecil dan dangkal di banding sungai yang berada di belakang rumah. Meskipun begitu, jika air sedang pasang tidak jarang perahu-perahu bermotor atau yang biasa di sebut dengan kelotok, baik yang berukuran besar maupun kecil melintas di depan rumah nenek, apalagi hampir setiap keluarga di sini memiliki alat transportasi air tersebut yang mereka gunakan untuk memabawa hasil pertanian mereka, atau untuk bepergian.
            Seperti sore ini, suara deru mesin kelotok yang melintas di sepanjang sungai, saling beradu dengan suara hiruk pikuk alam juga lantunan ayat suci Al-Quran yang terdengar dari alat pengeras suara mesjid maupun surau-surau. Dari sini pula, aku dapat melihat cahaya-cahaya lampu dari mobil, motor, maupun truk yang berjalan beriringan di atas jembatan tol yang membelah sungai. Semakin gelap warna langit, maka semakin jelas pula cahaya-cahaya itu terlihat, seperti kunang-kunang. Kerlap-kerlipnya yang berwarna merah dan kuning, seakan beradu dan menambah keindahan pesona langit malam yang sudah di hiasi dengan indahnya kerlip bintang terang.
            Malam? Itu masih beberapa saat lagi. Sekitar satu jam dari sekarang jika ingin menyaksikan warna langit cerah dengan pesona bintang di atas sungai Martapura. Sekarang masih pukul 6.15 sore. Dan langit masih setia dengan warna merahnya, warna khas saat senja tiba.

            Nenek, amang-amang dan acilku sudah tinggal di sini sejak berpuluh-puluh tahun silam. Sebelum jalan-jalan beraspal, dan sebelum jembatan tol itu di bangun yang menyebabkan akses transportasi darat semakin maju dan meninggalkan transportasi air. Nenekku adalah keluarga petani. Tetapi saat tidak sedang musim bertani, kakek dan amang-amangku biasanya beralih profesi menjadi  nelayan yang mencari ikan di sepanjang sungai martapura ini atau juga sebagai pengemudi perahu kecil bermotor yang di sebut getek untuk mengantar penumpangnya ke tempat-tempat yang tidak bisa di lewati melalui jalur darat atau bagi mereka yang hanya sekedar ingin menyebrangi sungai menuju ke suatu tempat.
            Dulu sebelum aku mempunyai sepede, setiap kali ingin ke tempat nenek, aku dan bapak selalu memanfaatkan alat transportasi air tersebut. Biasanya perahu bermotor yang lebih besar dan beratap, kami menyebutnya taksi kelotok. Alat transportasi ini cukup aman dan nyaman. Dengan ukurannya yang lumayan besar, kita bisa memilih tempat duduk di mana saja yang kita inginkan. Jika cuaca sedang tidak panas, tidak sedikit yang memilih untuk duduk di atas atap kelotok tersebut. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang duduk di atas gerbong kereta api. Hehehehe.
            Duduk di atas kelotok dengan kecepatannya yang sedang sambil menyusuri sungai Martapura, tidak akan pernah membuat kita jenuh. Pemandangan yang di sajikan di sepanjang aliran sungai akan memberi kita gambaran bagaimana sebenarnya kehidupan masyarakat kota seribu sungai.
            Rumah-rumah lanting yang dibangun di atas batang-batang bambu atau batang pohon besar dan mengapung di atas sungai akan banyak terlihat, walaupun semakin lama jumlahnya semakin sedikit seiring dengan lebih banyak orang yang memilih membangun rumahnya dengan tiang-tiang panjang yang menancap pada tanah. Zaman dulu rumah lanting banyak difungsikan sebagai tempat tinggal, tetapi sekarang rumah-rumah lanting tersebut lebih banyak digunakan untuk tempat usaha seperti warung yang menjual berbagai macam peralatan memancing, kebutuhan pertanian, barang-barang pecah belah, bahkan barang-barang sembako.
            Rumah lanting? Ah, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya tinggal di atas rumah lanting itu. Rumah yang terapung di atas air, selalu bergerak seperti perahu jika dimainkan oleh gelombang, ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Aku dulu pernah tidur di atas kapal, tetapi bukan kapal besar antar pulau yang terbuat dari besi dan baja yang sering ada di televisi atau pelabuhan-pelabuhan besar, melainkan kapal yang hanya terbuat dari kayu berfungsi untuk mengantar barang antar provinsi. Kapal tersebut juga selalu bergerak membelah sungai, sehingga tidak terlalu terasa goyangan-goyangan akibat gelombang. Berbeda dengan rumah lanting yang berada di tepi sungai besar, tidak ada kekuatan untuk melawan ombak dan hanya mengikuti arus dan yang pasti tidak pernah bergerak untuk membelah sungai, karena memang tidak di lengkapi dengan mesin bermotor atau sebagainya. Hal yang membuat rumah lanting tidak pernah hanyut di bawa gelombang adalah tali tambang besar seperti perahu-perahu atau kapal-kapal lainnya yang di tambatkan, juga adanya jembatan kecil yang akan membantu penghuninya menuju daratan.
Aku pernah membayangkan, mungkin saja jika baru pertama kali tinggal di rumah lanting, dan tidur di dalamnya, untuk orang yang belum terbiasa pasti akan mengalami mabuk laut. Minimal saat menginjak daratan, bumi serasa bergoyang-goyang. Jelas saja, karena saat berada di dalam rumah lanting, kita akan selalu di ayun-ayun oleh ombak. Apalagi ketika ada kapal atau perahu melintas dengan kecepatan besar, maka ombak yang di hasilkan pun akan semakin besar pula dan goyangan di dalam rumah lanting akan semaki jelas terasa. Kira-kira entah sampai kapan rumah-rumah lanting tersebut dapat bertahan di sepanjang aliran sungai sungai Martapura ini. Apakah anak cucuku masih dapat melihat secara langsung tentang rumah lanting, bukan melihat dari buku atau dokumentasi sejarah lainnya.
            Membicarakan tentang rumah lanting tidak akan pernah ada habisnya. Ah lihat, itu amangku dengan jukungnya pulang dari memancing sejak tadi siang. Tubuhnya yang kurus serta kulit yang semakin kering dan hitam karena terlalu sering terbakar sinar matahari, membuat aku miris melihatnya. Tetapi wajahnya yang selalu tersenyum itu membuat perasaan ini damai. Aku tidak tahu persis berapa umur amangku yang satu ini, tetapi menurut perkiraanku usianya belum mencapai 30 tahun. Dia adik ketiga Bapak.
            Ada dapat lah mang?”[1]
            “Adaai seikung nah.”[2]
            “Ganal lah mang?”[3]
            “lumayanaai. Julung acil yati gin, nyaman di siangi.”[4]
Aku berikan ikan tersebut kepada acil Yati, istri amangku, sambil memperhatikan ia membersihkan ikan hasil tangkapan suaminya untuk lauk makan malam mereka, sesekali lamunanku kembali ke masa lalu. Masa lalu  ketika aku masih berusia 10 tahun.

            Jika air sedang pasang, aku senang sekali bermain-main di atas kelotok yang ditambatkan di samping rumah nenekku ini. Aku tidak perlu takut tercebur atau tenggelam, karena meski aku anak perempuan, pada usia itu aku sudah mahir berenang. Bermain-main di atas perahu adalah hal yang paling menyenangkan bagiku. Menikmati gelombang yang mengombang-ambingkan kelotok, angin sepoi-sepoi segar yang bebas dari polusi udara, apalagi berada di atas air seperti ini pasti adem, tidak perlu AC ataupun kipas angin untuk membuat sejuk udara meski siang hari.
            Apabila saat sore air sungai tidak terlalu pasang, aku dan amangku yang paling kecil - adik terakhir Bapak yang berusia beberapa tahun dibawahku - pasti akan bermain jukung. Mengayuh perahu kecil itu menyusuri sungai di depan rumah nenek dengan arusnya yang tenang. Dari satu ujung ke ujung yang lain. Dari hulu ke hilir, dan sebaliknya. Begitu terus beberapa kali. Sungai tak ubahnya seperti jalanan tempat kami bermain, dan jukung ini seperti sepede yang kami kendarai berdua. Amangku yang satu ini, meskipun lebih muda dan lebih kecil dibanding aku, tetapi untuk urusan segala sesuatu yang berhubungan dengan sungai, dia jagonya. Biasanya aku hanya duduk manis di dalam jukung, dan dia yang akan mengayuh. Karena jika aku yang mengayuh jukung kecil tersebut, sudah di pastikan akan menabrak rumah orang yang banyak berjejer di pinggir sungai.
            Dulu, setiap sore, aku tidak pernah melewatkan untuk berenang di sungai ini. Airnya yang sejuk meskipun terkadang tidak selalu berwarna jernih, membuatku betah berlama-lama berendam di dalam air. Berenang ke sana- ke mari. Dari satu tepi ke tepi yang lain. Bahkan tidak jarang aku akan melompat dari atas titian di depan rumah nenek. Jalan menuju rumah nenek memang hanya berupa titian kayu. Panjanganya beratus-ratus meter dan berada di atas air. Tidak ada jalan setapak apalagi jalanan beraspal untuk menuju ke rumah orang tua dari pihak Bapakku ini.
            Rumahku juga dekat dengan sungai. Hampir setiap hari aku mandi di sungai. Dengan teman-teman pun aku sering melompat dari atas jembatan. Tetapi antara sungai dekat rumahku dan yang ada di depan rumah nenek tentu sangat berbeda karena sungai di sini hanya beberapa meter untuk langsung bermuara di Sungai Martapura yang lebarnya ratusan meter dan arus yang deras. Sedangkan sungai dekat rumahku hanya berupa aliran anak sungai dengan lebar beberapa puluh meter saja.
           
Erna. Jangan melamun di situ, kalu pina tecabur. Duduk di atas ban tuh bereranai ja, jangan hunjal-hunjal kaya itu, kena tejungkang nengkaya acil semalam.”[5] Suara acil Yati menyadarkanku dari lamunan masa lalu sepuluh tahun silam. Aku baru sadar kalau dari tadi aku duduk di atas ban karet besar bekas truk tronton. Ukurannya yang super besar membuatku betah di sini karena empuk dan elastis.
Hehehe. Kada pang Cilai. Ulun bepingkut pisit-pisit nih.”[6] Sahutku sambil cengengesan.

Ah. Acil Yati ini mengganggu lamunanku saja. Kurasakan hembusan angin sore yang sejuk menerpa kerudung hitamku. Kota Seribu Sungai, seperti itulah kota ini di sebut. Kota Banjarmasin dengan sungai Martapura yang membelah di tengahnya. Sungai Martapura yang memiliki ribuan anak sungai dan tersebar di seluruh kota ini. Dari yang bernama, sampai yang tidak bernama, dari yang besar sampai yang kecil.  Anak-anak sungai itu biasanya membelah pemukiman penduduk yang padat.
Di sini sungai menjadi jalur transportasi yang di andalkan oleh masyarakat. Mau pergi ke pasar, menggunakan kelotok. Mau ke puskesmas, menggunakan kelotok. Mau ke sekolah, juga menggunakan kelotok. Waktu duduk di bangku SMA, teman-temanku banyak yang ke sekolah menggunakan kelotok. Hal ini di karenakan mereka tidak mempunyai kendaran sendiri, sekolahku yang dekat dengan sungai, juga belum adanya akses jalan berupa jembatan untuk memperpendek jarak tempuh, hal inilah yang menyebabkan kelotok menjadi alternatif utama.
Setiap pagi, anak-anak berseragam sekolah, dari yang di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, selalu menunggu datangnya jemputan kelotok yang akan mengantar mereka ke sekolah, sama persis dengan anak-anak di kota besar yang menunggu bus untuk mengantarkan mereka ke sekolah. Bedanya, jika menunggu bus pastinya di halte bus, kalo menunggu kelotok bisa di mana saja asalkan di pinggir sungai. Biasanya mereka menunggu di pinggir batang[7] yang paling dekat dengan rumah atau yang paling mudah di capai oleh kelotok. Bukan hanya anak-anak berseragam sekolah, ibu-ibu yang ingin ke pasar juga menggunakan alat transportasi ini.
Berbicara soal pasar, di sekitar tempat tinggal nenekku yang berada di Kecamatan Basirih sama sekali tidak dapat ditemui pasar. Kalaupun ada, itu hanyalah pasar malam yang buka setiap malam kamis. Terkadang setiap pagi menjelang siang ada saja pedagang yang lewat di depan rumah penduduk menggunakan jukung membawa barang dagangan seperti buah, sayur, ikan, dan lain-lain. Pedagang ini adalah pedagang yang baru pulang berjualan di pasar terapung yang berada ribuan meter ke arah hilir sungai Martapura, tepatnya di muara sungai Barito. Tetapi jika hanya menunggu pedagang ini lewat, itu sama saja membuang-buang waktu. Karena kita tidak akan tahu kapan mereka akan lewat di sekitar rumah kita.
            Apalagi yang khas dari kota seribu sungai ini? Jawabannya adalah mandi dan buang hajat di pinggir sungai. Kalian pasti tidak akan menemukan pemandangan seperti ini selain di pulau kalimantan, khususnya di kota-kota besar. Banjarmasin termasuk kota besar, tetapi masih banyak penduduknya yang mandi di pinggir sungai hanya menggunakan sarung, kami menyebutnya tapih dan dililitkan di dada. Tidak jarang pula aku melihat laki-laki dewasa yang mandi hanya menggunakan celana dalam. Jka ada pertanyaan, apakah mereka-mereka itu tidak malu? ah. Bukan berarti kami tidak punya malu, taopi itu sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat yang hidupnya di pinggir sungai. Sedikit sekali rumah-rumah yang ada di pinggir sungai dilengkapi dengan kamar mandi tertutup. Satu-satunya kamar mandi tertutup adalah jamban, tempat untuk buang air yang fungsinya sama dengan WC.
            Aku jadi teringat obrolan dengan teman-temanku di kampus tadi siang. Kami membicarakan tentang orang yang buang hajat di jamban. Di mana kotoran kita akan langsung nyemplung ke sungai. Apalagi ketika air sungai terasa menjadi kalat[8] maka di sungai-sungai akan banyak ikan lundu[9] di bawah-bawah jamban mencari makan, karena hewan ini paling gemar memakan kotoran manusia. Jorok memang, tapi seperti itulah kenyataannya. Dan aku pernah mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana ikan-ikan itu dengan lahap memakan kotoran yang baru keluar dari tubuh manusia.

            “Er ! lakasi masuk. Sanja sudah harinya.”[10]
Astaghfirullah, aku tidak sadar kalau adzan maghrib sudah berkumandang jika nenek tidak memanggilku. Pantas saja keadaan sungai semakin lengang dan tenang, dan acil Yati tidak terlihat lagi, mungkin sudah cukup lama ia selesai membersihkan ikan hasil tangkapan suaminya.
            “Enggih Ni.”[11] Sahutku sambil berlari masuk ke dalam rumah.

            Banjarmasin kota seribu sungai, tempat kelahiranku, tempat kumenghabiskan masa kecil sampai seperlima abad usiaku kini. Entah sampai kapan kota ini akan tetap menjadi kota seribu sungai dengan masyarakatnya yang tidak pernah lepas dari sungai Martapura yang semakin hari semakin tercemar, semakin sempit, dan semakin dangkal.
            Kututup pintu rumah nenek, meninggalkan sungai martapura di luar sana yang masih setia mengalir sampai sekarang. Dan esok, aku akan melihat kembali bagaimana kehidupan sederhana mereka di sepanjang sungai ini. J


[1] Ada hasilnya tidak mang?
[2] Ada, Cuma seekor
[3] Besar tidak mang?
[4] Lumayan. berikan ke acil Yati, biar di bersihkan.
[5] “Erna, jangan melamun di situ, nanti tercebur. Duduk di atas ban itu diam saja, jangan loncat-loncat seperti itu, nanti jatuh seperti acil kemarin”.
[6]  “hehehe, tidak bakalan cil. Aku pegangan erat-erat nih.”
[7] Jembatan kecil dari kayu yang berada di pinggir sungai, hampir menyerupai pelabuhan kecil, biasanya di gunakan sebagai tempat untuk mandi.
[8] Terasa asin karena air sungai tercampur dengan air laut.
[9] Ikan yang mirip dengan lele tetapi berukuran lebih kecil dan hidup di sungai.
[10] “Er ! cepat masuk, sudah senja”
[11] “Iya Nek.”

Tidak ada komentar: