CUKUP SUDAH
Semilir angin berhembus dengan lembut
di antara suara deru kendaraan bermotor yang saling beradu di jalan raya. Warna
merah pada lampu lalu lintas memaksa para pengendara untuk berhenti sehingga
menyebabkan kemacetan yang akan terjadi dalam beberapa saat. Tapi banyaknya
kendaraan yang melintas di malam yang cerah ini sepertinya kemacetan tidak akan
begitu saja terurai. Tidak akan ada jalanan yang lengang apalagi di dekat
persimpangan jalan seperti ini. Dari kursi-kursi sebuah cafe yang diletakkan di
halaman dekat pinggir jalan kuperhatikan semua itu. bagiku, kesibukan kota dengan lampu-lampu dari
kendaraan yang melintas lebih menarik perhatian di banding sosok laki-laki yang
duduk tepat di seberang mejaku. Melihat ke arahnya pun aku seolah enggan.
“Gimana
kabarmu Nay?” tanyanya seketika. Memecah kesunyian yang tercipta sejak kami
memilih tempat ini.
“Baik.”
jawabku singkat sambil menoleh sepintas ke arahnya namun pandanganku langsung
kuarahkan ke gelas capuccino dan menyeruputnya perlahan.
Aneh.
Aku memang datang ke tempat ini bersamanya. Setelah sekian lama tidak menampakkan
diri, kini dia benar-benar ada dan kuakui cukup berani karena langsung muncul
di hadapanku dan mengajakku pergi.
Laki-laki
ini.. ah. Sepertinya aku ingin melupakan segala tentangnya. Mengingatnya seolah
menciptakan kebencian dan rasa nyeri yang teramat sakit di hatiku. Dia seperti
sebuah jalan yang cukup sekali kulalui dan tidak ingin melintasinya lagi.
Kesalahan? Entahlah.. aku hanya ingin melupakannya dan sudah cukup terlibat
dengan hidup dan dirinya. Itu saja.
“Nay!”
Panggilnya lagi setelah melihatku yang hanya diam.
“Hm..”
jawabku masih dengan singkat.
Ah..
kalau kalian tau bagaimana perasaanku dengan situasi yang kuhadapi saat ini,
kalian pasti akan mengerti kenapa aku bersikap demikian terhadapnya.
“Kamu
berubah.” Katanya kemudian. Sebuah kalimat yang langsung membuatku refleks
menatap tepat ke matanya. Tatapan penuh tanda tanya dan keheranan. Berusaha
mencari kepastian pernyataan yang baru saja kudengar, sekaligus menuntut
penjelasan lebih.
Dia
balas menatapku dengan santai. Bahkan masih sempat merubah posisi duduk dengan
menopangkan dagu di atas kedua tangannya. Dibalas dengan tatapan seperti itu
malah membuatku salah tingkah dan langsung membuang pandangan kembali ke arah
lalu lintas yang sedikit lebih lengang.
“Iya.
Kamu berubah. Cukup lama tidak melihatmu, aku merasa ada yang berbeda. Entah
itu apa.”
“Semoga
itu perubahan ke arah yang lebih baik.” Komentarku sekenanya. Masih dengan
tanpa menatapnya.
Yah.. aku memang berubah. Karena aku tidak
ingin lagi bertemu denganmu. Aku merasa semua sudah cukup. Aku hanya ingin
hidup tenang dan damai. Tak bisakah kau pergi dan jangan pernah kembali..?!!
Jeritku dalam hati. Kata-kata itu hanya bisa kutelan sendiri bersama dengan
cappucino yang mulai dingin.
“Oh,
ya. Aku dengar kamu baru pulang dari luar kota.” tanyanya mengalihkan
pembicaraan.
Sebuah
pertanyaan yang kali ini benar-benar membuatku kaget. Kembali kutatap matanya
dengan sebuah tanda tanya yang lebih besar dan lebih banyak dari sebelumnya.
“Aku
tau dari Wulan. Kamu ketemu sama dia?”
aha.. rupanya dia mengerti tatapan penuh tanda tanyaku.
Aku
hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan kecil. Hey.. coba
perhatikan. Laki-laki ini bahkan tidak mau menyebut nama orang yang kutemui. “dia” yang dia maksud tentu bukan Wulan,
tapi orang lain. Orang yang ia tau cukup dekat denganku.
“Sama
siapa kamu ke sana? Cerita dong” Pintanya.
“Aku
pikir Wulan sudah cerita semuanya sama kamu. Jadi gak ada yang perlu aku
ceritain lagi kan?” sekakmat. Jawaban telak yang membuatnya berhenti memaksaku
berbicara lebih banyak lagi.
Mungkin
perasaan dia tentang diriku yang berubah bukan lagi hanya sebuah perasaan.
Melainkan sudah jadi kenyataan. Itu juga kalau dia cukup peka menilai dari
jawaban dan ekspresi yang kuberikan.
“Maaf...”
Katanya kemudian.
Hah..!
Maaf..? Semudah itu dia bilang maaf setelah apa yang dia lakukan terhadapku.
Membuatku menjadi orang yang sangat-sangat bersalah. Menjadikanku seolah
perempuan yang paling hina? Satu-satunya cara aku memaafkannya adalah dengan
tidak melihat wujudnya lagi di depan mataku. Titik.
Tapi
lagi-lagi aku hanya tersenyum sinis sambil memainkan handphone yang tergeletak
di atas meja. Pukul 8.30 malam. Seharusnya dia
udah kirim sms-sms gaje dan gak penting seperti malam-malam biasa. Yah. Aku nunggu dia. Orang yang baru saja menjadi topik
pembicaraan antara aku dengan laki-laki di depanku ini.
Lima
menit kemudian ada tanda pesan masuk. Yupz, sms
dari orang yang sudah ditunggu dari tadi. Dengan segera kubalas pesan tersebut.
Tiap kali menerima sms dari dia, entah kenapa perasaan ku selalu
menjadi lebih baik, lebih tenang.
Tidak
terasa aku mulai asyik memainkan handphone sambil mengetik sms sampai dengan sangat tiba-tiba saat ada tanda pesan masuk,
handphoneku langsung berpindah tangan. Laki-laki itu dengan geram mengambilnya
dari tanganku.
“HEI..!!”
teriakku seketika.
“Hah..
dia lagi dia lagi. Kenapa selalu dia
sih? Aku ada di sini, dihadapanmu, tapi kamu malah tak acuh demi orang yang gak
jelas ini.” Balasnya.
“Gak
usah ngomong sembarangan. Aku malas berdebat denganmu. Balikin sini hp aku.”
“Nggak..!!
Sebelum kamu jawab pertanyaanku. Kenapa kamu masih berhubungan sama dia? Orang yang cuma kamu kenal dari
dunia maya.”
“Udahlah..
Aku gak mau bahas ini.”
“Aku
butuh jawabanmu, apa lebihnya dia?”
“Aku
bilang, aku gak mau bahas ini.” Kataku pelan dengan intonasi penuh penekanan.
Aku
masih tetap pada pendirianku. Tapi laki-laki ini hanya semakin menatapku.
Menunggu jawaban pertanyaannya.
“Nay,
aku Cuma gak mau kamu berhubungan dengan orang yang tidak jelas seperti itu.
apa yang kamu harapkan dari dia?”
ucapnya setengah memohon dan setengah lagi menahan geram.
“Aku
gak pernah berharap apa-apa dari dia.
Aku hanya butuh teman, teman yang bisa bikin aku ngerasa nyaman.”
“Nyaman?
Omong kosong sama semua itu. Dia Cuma
bayangan Nay. Bayangan. Ayo bangun dari mimpi khayalan kamu.” Bujuknya dengan
nada yang terdengar sinis dari suaranya.
“Kamu
boleh anggap dia bayangan, tapi bagi aku
nggak. Kamu boleh anggap dia omong
kosong, tapi bagi aku dia lebih dari
nyata dibanding semua omong kosongmu.” Belaku.
“Apa
maksud kamu?”
“Setidaknya
Dia gak pernah ninggalin aku demi pacarnya.
Dia gak pernah menjelekkan aku di hadapan pacarnya. Dia gak pernah berpura-pura
baik di depanku. Dia gak pernah sengaja meletakkanku diposisi yang salah.
Walaupun semua orang mengaggapku perempuan yang tidak tau diri karena dekat
dengan pacar orang, tapi dia dan pacarnya ngerti kalau kami berdua hanya
berteman. Aku bukan orang yang pantas
untuk dicemburui, mereka sadar itu. aku Cuma ingin merasa menjadi orang yang
dibutuhkan seperti aku membutuhkan teman-temanku, bukan dimanfaatkan.” Ungkapku
langsung. Aku sudah merasa terlalu lelah terhadap semua yang berhubungan dengan
laki-laki ini.
“Maafin
aku Nay. Aku tau aku salah. Aku gak bisa seperti dia. Tapi aku udah putus
dengan dia.” Bisiknya lirih kemudian, setelah hanya bisa diam mendengarkan
emosiku yang keluar seperti lahar merapi. Terpendam sekian lama menunggu waktu
yang tepat untuk meletus. Mungkin dia sadar apa yang telah ia lakukan. Aku
menyindirnya telak, mengungkapkan semua kekurangan-kekurangan yang ia punya. Dia yang ia maksud kali ini adalah
seorang gadis ABG yang sudah membuat persahabatanku terputus dan hanya
menyisakan sebuah sakit hati.
“Maaf
kamu bilang? Setelah semua penghinaan yang aku terima selama ini? Dan kamu
hanya berani datang ke hadapanku setelah kamu benar-benar putus dengan perempuan
itu?” setelah membuang nafas kekecawaan kulanjutkan kalimatku, “Maaf, aku gak
butuh orang seperti itu di kehidupanku.”
“Apa
yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya Nay?”
“Jangan
pernah mencariku lagi, aku ingin hidup tenang. Tanpamu.” Jawabku kemudian.
“Satu lagi, hati aku tidak cukup luas untuk menerima kamu kembali.”
Di
antara tatapan bingung, sedih, kaget, dan entah apalagi yang ia rasakan, segera
kurebut HP ku dari genggamannya. Mengambil tas dan bergegas keluar cafe. Masuk
ke dalam taxi yang akan membawaku pulang diiringi teriakannya memanggil namaku.
Di
luar, langit boleh masih cerah dengan taburan
bintang yang indah, tapi dalam taxi ini, dalam hati ini aku berjuang
mati-matian untuk tidak terisak meskipun bulir-bulir air mata perlahan merembes
keluar dari pelupuk mata.
Aku
tau bahwa aku hanya perempuan biasa, dengan penampilan yang biasa pula. Tapi
aku tau apa yang harus aku lakukan agar tidak terus-menerus membiarkan perasaan
ini tersakiti. Saat mata ini kututup untuk menyambut mimpi di bawah langit
malam, maka saat itu pula kuputuskan untuk mengatakan ‘cukup sudah’ terhadap semuanya. Masa lalu, laki-laki itu, dan
kejadian malam ini. Laki-laki yang pernah menjadi sahabatku, membuat hidupku
hiruk-pikuk, yang terkadang kurindukan kehadirannya namun selalu membenci saat
bayangannya nampak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar