Perjalanan hidup

Perjalanan hidup

Jumat, 27 September 2013

CUKUP SUDAH

CUKUP SUDAH

            Semilir angin berhembus dengan lembut di antara suara deru kendaraan bermotor yang saling beradu di jalan raya. Warna merah pada lampu lalu lintas memaksa para pengendara untuk berhenti sehingga menyebabkan kemacetan yang akan terjadi dalam beberapa saat. Tapi banyaknya kendaraan yang melintas di malam yang cerah ini sepertinya kemacetan tidak akan begitu saja terurai. Tidak akan ada jalanan yang lengang apalagi di dekat persimpangan jalan seperti ini. Dari kursi-kursi sebuah cafe yang diletakkan di halaman dekat pinggir jalan kuperhatikan semua itu. bagiku,  kesibukan kota dengan lampu-lampu dari kendaraan yang melintas lebih menarik perhatian di banding sosok laki-laki yang duduk tepat di seberang mejaku. Melihat ke arahnya pun aku seolah enggan.
            “Gimana kabarmu Nay?” tanyanya seketika. Memecah kesunyian yang tercipta sejak kami memilih tempat ini.
            “Baik.” jawabku singkat sambil menoleh sepintas ke arahnya namun pandanganku langsung kuarahkan ke gelas capuccino dan menyeruputnya perlahan.
            Aneh. Aku memang datang ke tempat ini bersamanya. Setelah sekian lama tidak menampakkan diri, kini dia benar-benar ada dan kuakui cukup berani karena langsung muncul di hadapanku dan mengajakku pergi.
            Laki-laki ini.. ah. Sepertinya aku ingin melupakan segala tentangnya. Mengingatnya seolah menciptakan kebencian dan rasa nyeri yang teramat sakit di hatiku. Dia seperti sebuah jalan yang cukup sekali kulalui dan tidak ingin melintasinya lagi. Kesalahan? Entahlah.. aku hanya ingin melupakannya dan sudah cukup terlibat dengan hidup dan dirinya. Itu saja.
            “Nay!” Panggilnya lagi setelah melihatku yang hanya diam.
            “Hm..” jawabku masih dengan singkat.
            Ah.. kalau kalian tau bagaimana perasaanku dengan situasi yang kuhadapi saat ini, kalian pasti akan mengerti kenapa aku bersikap demikian terhadapnya.
            “Kamu berubah.” Katanya kemudian. Sebuah kalimat yang langsung membuatku refleks menatap tepat ke matanya. Tatapan penuh tanda tanya dan keheranan. Berusaha mencari kepastian pernyataan yang baru saja kudengar, sekaligus menuntut penjelasan lebih.
            Dia balas menatapku dengan santai. Bahkan masih sempat merubah posisi duduk dengan menopangkan dagu di atas kedua tangannya. Dibalas dengan tatapan seperti itu malah membuatku salah tingkah dan langsung membuang pandangan kembali ke arah lalu lintas yang sedikit lebih lengang.
            “Iya. Kamu berubah. Cukup lama tidak melihatmu, aku merasa ada yang berbeda. Entah itu apa.”
            “Semoga itu perubahan ke arah yang lebih baik.” Komentarku sekenanya. Masih dengan tanpa menatapnya.
            Yah.. aku memang berubah. Karena aku tidak ingin lagi bertemu denganmu. Aku merasa semua sudah cukup. Aku hanya ingin hidup tenang dan damai. Tak bisakah kau pergi dan jangan pernah kembali..?!! Jeritku dalam hati. Kata-kata itu hanya bisa kutelan sendiri bersama dengan cappucino yang mulai dingin.
            “Oh, ya. Aku dengar kamu baru pulang dari luar kota.” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
            Sebuah pertanyaan yang kali ini benar-benar membuatku kaget. Kembali kutatap matanya dengan sebuah tanda tanya yang lebih besar dan lebih banyak dari sebelumnya.
            “Aku tau dari Wulan. Kamu ketemu sama dia?” aha.. rupanya dia mengerti tatapan penuh tanda tanyaku.
            Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan kecil. Hey.. coba perhatikan. Laki-laki ini bahkan tidak mau menyebut nama orang yang kutemui. “dia” yang dia maksud tentu bukan Wulan, tapi orang lain. Orang yang ia tau cukup dekat denganku.
            “Sama siapa kamu ke sana? Cerita dong” Pintanya.
            “Aku pikir Wulan sudah cerita semuanya sama kamu. Jadi gak ada yang perlu aku ceritain lagi kan?” sekakmat. Jawaban telak yang membuatnya berhenti memaksaku berbicara lebih banyak lagi.
            Mungkin perasaan dia tentang diriku yang berubah bukan lagi hanya sebuah perasaan. Melainkan sudah jadi kenyataan. Itu juga kalau dia cukup peka menilai dari jawaban dan ekspresi yang kuberikan.
            “Maaf...” Katanya kemudian.
         Hah..! Maaf..? Semudah itu dia bilang maaf setelah apa yang dia lakukan terhadapku. Membuatku menjadi orang yang sangat-sangat bersalah. Menjadikanku seolah perempuan yang paling hina? Satu-satunya cara aku memaafkannya adalah dengan tidak melihat wujudnya lagi di depan mataku. Titik.
            Tapi lagi-lagi aku hanya tersenyum sinis sambil memainkan handphone yang tergeletak di atas meja. Pukul 8.30 malam. Seharusnya dia udah kirim sms-sms gaje dan gak penting seperti malam-malam biasa. Yah. Aku nunggu dia. Orang yang baru saja menjadi topik pembicaraan antara aku dengan laki-laki di depanku ini.
            Lima menit kemudian ada tanda pesan masuk. Yupz, sms dari orang yang sudah ditunggu dari tadi. Dengan segera kubalas pesan tersebut. Tiap kali menerima sms dari dia, entah kenapa perasaan ku selalu menjadi lebih baik, lebih tenang.
            Tidak terasa aku mulai asyik memainkan handphone sambil mengetik sms sampai dengan sangat tiba-tiba saat ada tanda pesan masuk, handphoneku langsung berpindah tangan. Laki-laki itu dengan geram mengambilnya dari tanganku.
            “HEI..!!” teriakku seketika.
            “Hah.. dia lagi dia lagi. Kenapa selalu dia sih? Aku ada di sini, dihadapanmu, tapi kamu malah tak acuh demi orang yang gak jelas ini.” Balasnya.
            “Gak usah ngomong sembarangan. Aku malas berdebat denganmu. Balikin sini hp aku.”
            “Nggak..!! Sebelum kamu jawab pertanyaanku. Kenapa kamu masih berhubungan sama dia? Orang yang cuma kamu kenal dari dunia maya.”
            “Udahlah.. Aku gak mau bahas ini.”
            “Aku butuh jawabanmu, apa lebihnya dia?”
            “Aku bilang, aku gak mau bahas ini.” Kataku pelan dengan intonasi penuh penekanan.
            Aku masih tetap pada pendirianku. Tapi laki-laki ini hanya semakin menatapku. Menunggu jawaban pertanyaannya.
            “Nay, aku Cuma gak mau kamu berhubungan dengan orang yang tidak jelas seperti itu. apa yang kamu harapkan dari dia?” ucapnya setengah memohon dan setengah lagi menahan geram.
            “Aku gak pernah berharap apa-apa dari dia. Aku hanya butuh teman, teman yang bisa bikin aku ngerasa nyaman.”
            “Nyaman? Omong kosong sama semua itu. Dia Cuma bayangan Nay. Bayangan. Ayo bangun dari mimpi khayalan kamu.” Bujuknya dengan nada yang terdengar sinis dari suaranya.
            “Kamu boleh anggap dia bayangan, tapi bagi aku nggak. Kamu boleh anggap dia omong kosong, tapi bagi aku dia lebih dari nyata dibanding semua omong kosongmu.” Belaku.
            “Apa maksud kamu?”
       “Setidaknya Dia gak pernah ninggalin aku demi pacarnya. Dia gak pernah menjelekkan aku di hadapan pacarnya. Dia gak pernah berpura-pura baik di depanku. Dia gak pernah sengaja meletakkanku diposisi yang salah. Walaupun semua orang mengaggapku perempuan yang tidak tau diri karena dekat dengan pacar orang, tapi dia dan pacarnya ngerti kalau kami berdua hanya berteman. Aku  bukan orang yang pantas untuk dicemburui, mereka sadar itu. aku Cuma ingin merasa menjadi orang yang dibutuhkan seperti aku membutuhkan teman-temanku, bukan dimanfaatkan.” Ungkapku langsung. Aku sudah merasa terlalu lelah terhadap semua yang berhubungan dengan laki-laki ini.
            “Maafin aku Nay. Aku tau aku salah. Aku gak bisa seperti dia. Tapi aku udah putus dengan dia.” Bisiknya lirih kemudian, setelah hanya bisa diam mendengarkan emosiku yang keluar seperti lahar merapi. Terpendam sekian lama menunggu waktu yang tepat untuk meletus. Mungkin dia sadar apa yang telah ia lakukan. Aku menyindirnya telak, mengungkapkan semua kekurangan-kekurangan yang ia punya. Dia yang ia maksud kali ini adalah seorang gadis ABG yang sudah membuat persahabatanku terputus dan hanya menyisakan sebuah sakit hati.
            “Maaf kamu bilang? Setelah semua penghinaan yang aku terima selama ini? Dan kamu hanya berani datang ke hadapanku setelah kamu benar-benar putus dengan perempuan itu?” setelah membuang nafas kekecawaan kulanjutkan kalimatku, “Maaf, aku gak butuh orang seperti itu di kehidupanku.”
            “Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya Nay?”
            “Jangan pernah mencariku lagi, aku ingin hidup tenang. Tanpamu.” Jawabku kemudian. “Satu lagi, hati aku tidak cukup luas untuk menerima kamu kembali.”
            Di antara tatapan bingung, sedih, kaget, dan entah apalagi yang ia rasakan, segera kurebut HP ku dari genggamannya. Mengambil tas dan bergegas keluar cafe. Masuk ke dalam taxi yang akan membawaku pulang diiringi teriakannya memanggil namaku.
            Di luar, langit boleh masih cerah dengan taburan  bintang yang indah, tapi dalam taxi ini, dalam hati ini aku berjuang mati-matian untuk tidak terisak meskipun bulir-bulir air mata perlahan merembes keluar dari pelupuk mata.
            Aku tau bahwa aku hanya perempuan biasa, dengan penampilan yang biasa pula. Tapi aku tau apa yang harus aku lakukan agar tidak terus-menerus membiarkan perasaan ini tersakiti. Saat mata ini kututup untuk menyambut mimpi di bawah langit malam, maka saat itu pula kuputuskan untuk mengatakan ‘cukup sudah’ terhadap semuanya. Masa lalu, laki-laki itu, dan kejadian malam ini. Laki-laki yang pernah menjadi sahabatku, membuat hidupku hiruk-pikuk, yang terkadang kurindukan kehadirannya namun selalu membenci saat bayangannya nampak.

Tidak ada komentar: