PERTEMUAN PERTAMA
Ah, sial..! Apa yang kupikirkan
selama ini..? kenapa aku sampai punya pikiran bodoh seperti ini hingga akhirnya
berdiri di sini seperti orang bodoh. Bodoh bodoh bodoh ! sekarang apa yang harus
kulakukan? Lihatlah mereka semua, lalu lalang membawa tas bawaan mereka,
berjalan dengan pasti menuju tempat tujuan yang sudah jelas. Lihat orang-orang itu,
bertemu dengan kerabat dalam perasaan suka cita, saling berpelukan sambil
mengucapkan selamat datang dan sebagainya, sedangkan aku? Benar-benar seperti
orang asing di tempat yang asing pula. Oh God, help Me.
***
“Apa?! Kamu yakin mau ke sana? Dalam
rangka apa?” tanya Nura sedikit terkejut setelah mendengar rencanaku yang
menurutnya gila.
“Kan tadi aku udah bilang, aku Cuma
mau liburan aja, jalan-jalan sedikit melihat dunia yang selama ini hanya ada
dalam bayanganku doang.”
“Gila..! emang mama kamu ngijinin
kamu pergi? Gak yakin..! nginep di rumah saudara aja nggak dibolehin, apalagi
sekarang malah mau pergi ke luar kota, eh salah, keluar pulau sendirian, nggak
ada teman, nggak ada keluarga, nggak ada kenalan. That is imposible !”
“Hei.. tahun ini aku udah 22 tahun.
Udah bukan anak kecil lagi. Lagipula aku udah minta izin sama orang tua aku
kok, minta ini sebagai kado ulang tahun. Hehehe.. o ya, satu lagi, kalau kamu
bilang gak ada teman, gak ada saudara, dan gak ada kenalan, kamu salah. Kamu
lupa, aku ke sana kan karena pengen ketemu sama Chacha, makanya mamaku ngasih
izin.” Aku masih meyakinkan Nura
“Apa? Chacha? Hello.. Ok, mungkin
kalau Cuma ketempat Chacha aku sih masih merasa sedikit masuk akal, tapi kan
kamu bilang bukan Cuma mau ke kota tempat Cahcha kuliah sekarang, tapi juga
pengen ketemu Daniel. Daniel dan Chacha kan tinggal di kota yang berbeda,
berjauhan pula.”
“Aku nggak bilang pengen ketemu Dan,
aku bilang Cuma pengen liburan ke kota tempat tinggal Dan, pengen liat kota itu
seperti apa, baru deh ke tempat Chacha. Nanti aku pulang ke sini barengan sama
Chacha, kamu tenang aja Ra. Aku bisa jaga diri kok. Nanti kalau perlu tiap hari
aku sms kamu deh, biar kamu nggak terlalu khawatir. Xixixi.”
“Whatever lah.” Ucap Nura mengakhiri
pembicaraan kami.
***
Ok.. kalau ada yang bilang ini agak
gila, aku sekarang tidak akan menyangkalnya. Yupz.. ini benar-benar gila dan
aku menyadarinya. Mungkin satu-satunya hal yang bisa kulakukan karena sudah
terlanjur berada di tempat ini hanyalah menghubungi Dan, satu-satunya orang
yang aku kenal di kota ini, dan dia juga penyebab alasan keberadaanku yang seperti
alien tersesat di bumi sekarang.
***
“Nay.. kamu suka ya sama Dan?” Tanya
Chacha tiba-tiba saat kami ngobrol di telepon. Kira-kira satu bulan setelah
kepindahannya ke kota pelajar itu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi.
Aku langsung tertawa mendengar pertanyaannya.
Tumben banget ni anak nanyain hal yang, yaaaahhh.. sedikit agak pribadi lah.
“Kok kamu tiba-tiba nanya gitu sih?”
“Kenapa..? Cuma bwt mastiin dugaanku
selama ini benar atau nggak.”
“Terus menurutmu..?”
“Kamu suka kan sama Dan..?”
“Alasan hipotesis kamu itu apa..?”
“Itu bukan hipotesis lagi, tapi udah
kenyataan udah keliatan kali dari cara kamu cerita tentang dia dan betapa
bangganya kamu sama dia.”
“Hahahaa.. ngarang.” Usahaku masih
untuk membantah.
“Jujur gak..? kalau nggak, telpon
aku tutup nih..!” Ancam Chacha dengan nada yang dibuat serius.
“Hm.. kalau di bilang suka sih, aku
suka sama semua orang, khususnya orang-orang yang baik sama aku.” Meskipun
kutahu ancaman Chacha Cuma bercanda, tapi aku tetap saja menjawabnya dengan
jujur.
“Kalau cinta?” kejar Chacha dengan
cepat.
“Cinta..? wah, gak tau ya. Aku
sendiri bingung. Pokoknya masih nikmatin aja lah bisa temenan kayak gini sama
dia. Toh aku ngerasa nyaman dengan keadaan yang seperti ini, tanpa harus tahu
perasaan aku ke dia seperti apa, dan juga sebaliknya.”
“kalian itu kan udah temanan lama,
hampir tiap hari komunikasi, emangnya obrolan kalian gak pernah nyerempet-nyerempet
ke arah situ? Ngomongin tentang perasaan misalnya.”
Wah.. kayaknya penasaran tingkat
antarpulau ni anak. “Nggak ada Cha, dan gak pernah.” Terdengar sdikir nada
kecewa dari sahabatku di seberang pulau sana. “Tu orang sifatnya tertutup
banget kalau soal perasaan yang kayak gitu.” Lanjutku lagi. “Apalagi komunikasi
kami Cuma sebatas sms-an, telpon juga jarang, makanya aku susah nebak gimana
perasaan dia ke aku. Lagian, kalau boleh jujur ni ya, lebih baik aku gak usah
tau gimana perasaannya ke aku. Takutnya ntar malah jadi canggung dan aneh.
Kalau sama-sama tidak tau seperti ini kan enak, bisa ngapain aja, bisa cerita
apa aja, bisa saling nyela tentang apa pun, gak perlu ada yang namanya jaim, dan
yah.. yang pasti kami tidak jadi saling terikat satu sama lain.” Jelasku
panjang lebar.
“Hm.. iya juga sih.” Jawab Chacha
yang sepertinya sudah mulai mengerti situasiku. “Oh ya, bulan depan ke sini
dung, jengukin aku. Kamu kan belum pernah jalan-jalan ke sini? Akomodasi biar
aku yang tanggung, tiket PP, penginapan, dan lain-lain, kecuali belanja ya.
Hahahaha..”
Wah.. ini mah namanya kejatuhan
duren dari langit, tapi gak sampai bikin tewas gara-gara kena durinya.
Xixixixi..”Eh tunggu, bulan depan..? kok dadakan banget sih? Kalau bulan depan
kayaknya gak bisa deh, baru bisa free
sekitar tiga bulan lagi. Tapi aku belum bisa mastiin juga nih bisa atau
nggaknya. Kamu tau sendiri kan mama orangnya kayak gimana, takut nggak di
izinin.”
“Tiga bulan lagi..? Ok, tiga bulan
lagi, aku tunggu kamu di sini, nanti pulangnya barengan aja kita, coz kayaknya
bulan itu aku ada libur kuliah deh. Soal izin mama, nanti aku yang ngomong sama
mamamu, pasti di izinin.” Janji Chacha.
***
Janji Chacha tiga bulan lalu
ternyata benar-benar ditepatinnya. Tapi seperti rencanaku dari awal sebelum
berangkat, aku mau mampir dulu beberapa hari di kota ini. Kota tempat kelahiran
Dan. Sebulan yang lalu, Dan pernah bilang kalau saat dia wisuda kelulusan
kuliahnya aku bisa hadir, maka aku akan diajak menghadiri bersama keluarga
besarnya. Acara tersebut akan berlangsung lusa, dan hari ini aku sudah ada di
tempat ini. Itu artinya, hari ini sampai lusa aku akan bertemu dengan Dan serta
keluarganya untuk yang pertama kalinya. Hufh.. agak degdegan juga nih rasanya.
Naya :
Dan, aku ada di kotamu neh sekarang. Bisa jemput aku nggak..? aku gak tau mesti
kemana.. :(
<To
Dan>
3 menit. Belum ada balasan..
Berkali-kali ku cek handphoneku,
berkali-kali kulihat jam di pergelangan tanganku, berkali-kali itu pula
kumerasa gelisah. Mungkin aku bisa ke kamar mandi sebentar untuk melihat
bagaimana penampilanku setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh sendirian.
10 menit. Masih belum ada
tanda-tanda balasan dari Dan.
Duh, kenapa perasaan ini membuatku
serba salah? Sekarang rasa haus mulai terasa di tenggorokanku, padahal tadi
baru saja menghabiskan sato botol kecil air mineral. Aduh Dan.. balas dong.
Naya :
Dan.. :(
<To
Dan>
Sms kedua kukirimkan lagi. Jika
dalam waktu 10 menit dia belum juga membalas smsku, mungkin aku akan langsung
telpon dia.
Tidak sampai 5 menit, ada sms yang
masuk ke handphoneku, kulihat nama pengirimnya, hanya ada tiga huruf, ‘Dan’ !
Panjang umur juga ni anak satu.
Dan : Lu
beneran disini skrg? :x Gak usah becanda deh. :@
<To
Naya>
Naya : Aq
serius..
Sumpah..
Percaya dweh..
Kalo qm masih gak percaya, coba aja qm k sini
jmput aq.
Ayolch Dan..
Qm tega apa bikin aq nangis sendirian d
sini..? :(
<To
Dan>
Dan :
Iya, gw ksana skrg, mandi dlu :x Lu jgn kmana”, diem duduk manis di situ aja :x
<To
Naya>
Naya :
Iya..
Aq tau aq emank manis kok..
Hahahha.. :D
Jgn lama” ea.. :(
Takut ada yg nyulik.. L B-)
<To
Dan>
Dan :
Nyulik bwt apa? dijual juga gak bakal laku. :D
<To
Naya>
Naya :
Aaaaarrrrggggghhhh..
>,<
Buruan mandi sana. :@
<To
Dan>
Daniel, atau yang lebih suka
kupanggil Dan, cowok paling jutek yang pernah aku kenal selama hidupku
sekaligus orang yang paling baik. Baik dengan cara dan sifatnya yang jutek,
nyebelin, dan selalu bikin gregetan. Tapi itu lah yang bikin aku selalu merasa
nyaman buat ketawa, nangis, BT, kesal, marah, dan sebagainya. Cuma dia
satu-satunya orang yang tau kalau aku lagi nangis. Orang yang di dalam hidupnya
selalu bersikap “semua baik-baik aja”.
Aku kenal sama dia sejak kelas 3 SMA. Udah cukup lama memang. Tapi dengan waktu
yang sudah cukup lama itu, dengan komunikasi yang hampir tiap hari, aku masih
saja merasa tidak bisa mengerti dia, berbanding terbalik dengan dirinya yang
selalu tau harus berbuat apa sesuai dengan keadaanku saat itu. Dia selalu tau
kapan hanya perlu mendengarkan dan ngasih komentar seperlunya, serta kapan
harus ngasih nasihat agar aku move on dalam
hidup ini. Dia juga orang pertama yang percaya dengan mimpiku dan ngasih
keyakinan kalau aku bisa menggapainya. Ah, Daniel, teman dari dunia maya yang
paling berharga bagiku.
Setelah menunggu hampir 30 menit
lamanya, dari kejauhan aku melihat cowok yang mirip ciri-cirinya dengan Dan.
Takut salah orang sekaligus perasaan degdegan yang rasanya bikin jantung hampir
copot karena ini pertemuan pertamaku dengannya setelah temenan bertahun-tahun,
akhirnya aku hanya duduk gelisah dan salah tingkah, tapi aku berusaha untuk
tetap tenang. Cowok kurus tinggi berkaos hitam dengan ekspresi wajah yang datar
itu semakin mendekat. Kucoba menatapnya dengan malu sambil tersenyum. Jika dia
beneran Dan, sudah pasti dia akan menuju ke sini dan menyapaku, jika bukan mungkin
dia akan berlalu pergi begitu saja.
Semakin dia mendekat, semakin aku
salah tingkah. Ya Tuhan, sekarang aku benar-benar bingung. Kira-kira kata
pertama apa yangharus aku katakan untuk menyapanya? Apakah hanya kalimat
standar “Hai apa kabar?”, atau “Hai, maaf merepotkan kamu ya?” ah, kalau
kalimat seperti itu, sudah terlalu sering aku katakan. Aku kan emang selalu
merepotkan Dan. Hufh.. ini kesalahan fatalku, orang yang sudah berlatih
mengucapkan kalimat sapaan pun kadang bisa salah, apalagi aku yang tidak pernah
terpikir untuk melatihnya sama sekali. Huaaaaaa... Tuhan, bantu hambamu yang
satu ini?
“Kenapa lu gak pernah cerita kalau
mau ke sini?” terdengar pertanyaan langsung dari sebuah suara saat aku
benar-benar merasa tidak berdaya dengan situasi dan pikiran yang kacau.
Aku mendongakkan kepala melihat ke
arah wajah orang yang berdiri di hadapanku setelah beberapa saat memalingkannya
karena merasa terlalu lemah dengan keadaan yang kuhadapi saat sosok itu
berjalan semakin dekat ke arahku. Ah, ternyata cowok tadi benaran Dan. Cowok
jutek yang selalu to the point kalau
ngomong , seperti sekarang. Bukannya nanya kabar, atau sedikit basa-basi untuk
menetralisir perasaanku, eh dia malah langsung marah-marah seperti itu.
“Gue pikir lu bohong.” Lanjutnya. “Woi.
Kenapa bengong? Biasa aja kali liatnya. Mana barang-barang lu?” katanya lagi
saat melihatku hanya diam menatapnya kosong seperti orang bloon.
Ah ya, kalimat-kalimatnya yang
barusan kudengar seolah seperti menghipnotisku. Suaranya yang jernih terdengar
sangat menyenangkan, sama seperti ketika kami ngobrol lewat telpon. Otakku
seolah memberikan respon yang berbeda ketika mendengar suara itu. Bukan
bereaksi untuk langsung menjawabnya, tetapi lebih ke arah menganailisis apakah
Dan sekarang benar-benar berdiri di hadapanku? Bukan sebuah ilusi atau bayangan
kosong semata?
“Woy, Naya..! Gw tinggal nih?!”
suaranya kali ini terdengar sedikit marah. Bukan marah, tapi lebih ke arah mau
ngambek.
“Eh.. ini sama ini.” Kali ini aku
langsung menjawabnya. Walaupun dengan nada yang sedikit tergagap sambil
menunjuk tas yang ada di lantai dan di pangkuanku secara bergantian.
“Udah punya tempat buat nginap?”
tanyanya langsung sambil mengangkat tasku yang besar.
“Eh.. belum. Anterin aku nyari penginapan
yang murah dan nyaman ya? Soalnya aku gak tau apa-apa di sini.” Pintaku
langsung.
“lu nginap di rumah gue.” Jawabnya
sambil berjalan.
“hah..? apa..? eh..” tanyaku bingung
saat mendengar pernyataannya tadi.
“Belum budek kan?”
“Eh.. tapi kalau di rumahmu gak
apa-apa nih?”
“Gue tadi udah ngomong sama nyokap,
dibolehin. Dia bilang gak apa-apa.”
“Hah..? yang benar..? huaaaaaa...
mama kamu baik banget siiiiiih.” Kataku kegirangan sambil menarik-narik baju kaosnya.
Perasaan canggung, nerveus, malu, dan teman-temannya yang lain langsung hilang
seketika saat dia menunjukkan sikapnya yang “semua baik-baik aja” itu.
“Gak usah pakai acara narik-narik
baju gue segala bisa gak?” katanya ketus sambil berusaha melepaskan peganganku.
“Gak mau. Aku takut hilang.”
“Lepas gak?!” katanya lagi, tapi
kali ini tidak seketus tadi.
“Aku bilang gak mau, ya gak mau.”
Jawabku sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Kali ini aku benar-benar senang.
Tuh kan, di balik sifatnya yang jutek, Dan itu orangnya baik sekaligus
pengertian banget sama aku. “Bay the way, emangnya kamu bilang apa sama ibumu?”
tanyaku penasaran.
“Gak penting, lu gak perlu tau.”
Jawabnya singkat.
“Ih.. kok gitu sih? Kamu gak bilang
yang aneh-aneh kan?”
“Suka-suka gue.”
“Aaaaaaaaarrrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhh........
DAAANIEEEL..!!!” jeritku langsung.
Tempat aku menunggu Dan tadi perlahan
tertinggal jauh dibelakang, tapi hari-hari perdebatanku dengan Dan baru saja
dimulai. Berdebat dari satu topik ke topik yang lain. Beginilah hubungan kami. Dan
dengan sifatnya yang selalu jutek, menjawab seperlunya tapi langsung ke inti
dan aku dengan sifatku yang manja, sedikit keras kepala, serta geregetan tiap
kali berhadapan dengan si Mr. Jutek. Ah
ya, sepertinya aku harus mencari waktu yang tepat untuk mencekik leher dan
nyubitin cowok yang kini berjalan santai disampingku, hal yang dari dulu selalu
pengen aku lakukan ketika aku sudah luar biasa gemas dengan sifatnya itu.
“Dan.. aku nunggu saat itu lho. Xixixixi..” Gumamku dalam hati.
Pertemuan pertama dengan Dan. Sebuah
pertemuan yang akan aku catat dalam lembar kehidupanku dan kusimpan dalam
memori hati serta otak. Dan.. tetaplah menjadi orang yang paling baik dan
berharga dalam hidupku. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar